24 C
id

Tragedi Pedulang Emas di Aceh Barat: Kisah Cinta yang Terputus di Tengah Banjir Bandang

Tragedi Pedulang Emas di Aceh Barat
Tragedi Pedulang Emas di Aceh Barat. (Foto: BPBD Aceh Barat)
ACEH BARAT - Sebuah tragedi mengguncang kawasan Desa Antong, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, ketika seorang pedulang emas bernama Muzawir (20) diduga meninggal akibat terjangan banjir bandang di Krueng Muko. Kejadian tersebut menyisakan cerita pahit tentang cinta yang terputus begitu cepat.

Muzawir, yang baru saja bertunangan sekitar 3 bulan yang lalu, ditemukan meninggal dunia oleh tim Basarnas, BPBD, TNI, Polri, RAPI, dan Tagana. Dia merupakan warga asal Samadua, Kabupaten Aceh Timur. Teman dekat korban, Abdurrauf (23), mengungkapkan bahwa Muzawir dan tunangannya belum sempat memulai kehidupan keluarga mereka.

Namun, Abdurrauf tidak memberikan rincian mengenai nama tunangan Muzawir atau asal usulnya. Dia hanya menjelaskan bahwa hubungan mereka baru sebatas bertunangan.

Abdurrauf sendiri mengaku baru mengenal Muzawir saat mereka bertemu di Desa Menuang Kinco, Kecamatan Pante Ceureumen. Muzawir bekerja sebagai pedulang emas di kawasan Desa Antong, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat.

Rencananya, jenazah Muzawir akan dipulangkan ke kampung halamannya di Aceh Timur menggunakan mobil ambulans dari RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Muzawir diduga terseret arus di Krueng Mukoe ketika sedang mendulang emas pada malam hari, pada Kamis, 25 Mei 2023, sekitar pukul 20.00 WIB. Peristiwa itu terjadi di kawasan Desa Antong, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat.

Pendulang emas yang baru empat hari bekerja di daerah tersebut, Muzawir, berasal dari Desa Menuang Kinco, Kecamatan Pante Ceureumen. Dia tinggal di rumah salah satu saudaranya.

Pada malam kejadian, Muzawir sedang mendulang emas secara tradisional bersama dengan teman dan saudaranya, Teuku Tarmizi, di daerah Sungai Krueng Muko. Namun, tiba-tiba arus sungai membesar karena tingginya curah hujan di pegunungan.

Muzawir terbawa arus yang deras, sementara Teuku Tarmizi berhasil menyelamatkan diri ke tepi sungai. Kabar duka pun datang ketika Muzawir ditemukan meninggal dunia setelah dua hari hilang dan terseret banjir bandang.

Pencarian dilakukan oleh Tim Basarnas Pos Meulaboh, BPBD, TNI, Polri, RAPI, Tagana, serta masyarakat setempat. Tim TRC Rescue BPBD Aceh Barat juga terlibat dalam persiapan dan pencarian, dengan membawa perlengkapan yang diperlukan.

Setelah penemuan jenazah, Muzawir dibawa ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh sebelum akhirnya akan dipulangkan ke kampung halamannya di Aceh Timur. Proses pencarian dilakukan dengan menyisir sepanjang sungai, didampingi oleh masyarakat dan keluarga korban.

Tragedi ini bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga Muzawir, tetapi juga menggugah kesadaran akan bahaya banjir bandang yang kerap melanda kawasan tersebut. Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya keselamatan dan kewaspadaan dalam menghadapi bencana alam yang tak terduga.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya