24 C
id

Kisah Syuhada 44 dan Pemberontakan Pandrah: Perlawanan Heroik Rakyat Aceh Terhadap Penjajahan Jepang

perlawanan rakyat Aceh
Kisah Syuhada 44 dan Pemberontakan Pandrah (Foto: net)
ACHEHNETWORK.COM - Kisah menarik tentang Pemberontakan Pandrah ini dapat kita temukan dalam buku berjudul "Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan dan Perjuangan Kemerdekaan", yang diterbitkan oleh Bulan Bintang di Jakarta pada tahun 1985.

Ali Hasjmi, penulis buku tersebut, mengungkapkan bahwa pemberontakan terhadap Jepang diprakarsai oleh sekelompok tokoh yang terdiri dari Teungku Pang Akob, Teungku Ibrahim Peudada, Teungku Nyak Isa, Keuchik Usman, Keuchik Johan, dan Teungku A Jalil. Mereka berdakwah dan menginspirasi semangat rakyat untuk melawan Jepang.

Pada masa itu, Jepang menerapkan sistem kerja paksa yang memicu kebencian di kalangan masyarakat. Kondisi ini menjadi pendorong bagi mereka untuk memberontak. Secara perlahan, rakyat mulai membangkang terhadap praktik kerja paksa yang diberlakukan oleh Jepang.

Seorang pemuda bernama Nyak Umar, keponakan Teungku Pang Akob, ditangkap karena menolak kerja paksa. Kejadian ini memberikan dorongan kuat bagi Teungku Pang Akob untuk lebih gigih dalam berdakwah dan mengajak rakyat untuk berjihad melawan Jepang.

Sebelum pemberontakan terjadi, Teungku Pang Akob pergi ke sebuah gua di pegunungan Gle Banggalang bernama Cot Kayee Kunyet untuk bermeditasi. Sementara itu, rakyat di kampung Lheue Simpang di bawah pimpinan Keuchik Johan sudah bersiap-siap menanti perintah perang.

Nyak Umar, yang sebelumnya pernah disiksa oleh Jepang karena menolak kerja paksa, menyamar sebagai penjual obat keliling. Ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain sambil mengajak rakyat untuk berjihad.

Di tempat lain, seorang pemuda bernama Muhammad Daud, yang melarikan diri dari pendidikan Gygun, melatih para pemuda di Gle Blanggalang untuk berperang melawan Jepang. Ia meninggalkan pelatihan militer yang dijalani di bawah pengarahan Jepang demi bergabung dalam pemberontakan yang akan dilakukan oleh Teungku Pang Akob.

Awalnya, Teungku Pang Akob tidak berniat untuk melancarkan pemberontakan terhadap Jepang pada tanggal 2 Mei menjelang 3 Mei 1945. Alasannya adalah persiapan yang belum matang. Namun, karena rencananya sudah diketahui oleh pihak Jepang, pemberontakan tersebut dilaksanakan pada malam menjelang tanggal 3 tersebut.

Rahasia kelompok Teungku Pang Akob akhirnya terbongkar oleh pihak Jepang. Hal ini ditegaskan oleh Said Ahmad dan Abdullah TWH dari Atjeh Syu Hodka (Jawatan Penerangan Aceh). Mereka diberitahu dan diminta pergi ke Jeunieb untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai niat baik pemerintah Jepang untuk memberikan "kemerdekaan" kepada Indonesia, termasuk Aceh.

Namun, sebelum Said Ahmad dan Abdullah TWH tiba di Jeunieb, pemberontakan sudah pecah pada tanggal 2 Mei menjelang 3 Mei 1945. Dalam pertempuran malam itu, pasukan Teungku Pang Akob menyerang pos militer Jepang di Pandrah.

Pada malam tersebut, tidak ada satupun anggota pasukan Teungku Pang Akob yang tewas, sementara tentara Jepang di pos tersebut berhasil dibunuh kecuali satu orang yang berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian ini kepada pasukan Jepang di Jeunieb. Tujuh anggota Gyugun juga ditangkap di pos tersebut, tetapi mereka tidak mengalami perlakuan buruk. Kemungkinan ada kontak sebelumnya antara kedua belah pihak sebelum serangan dilancarkan.

Setelah penyerangan tersebut, Teungku Pang Akob dan pasukannya mundur ke markas mereka di Gle Banggalang untuk bersiap-siap melancarkan serangan baru. Meski Jepang mengetahui keberadaan Teungku Pang Akob dan pasukannya, mereka tidak menyerang tetapi menunggu hingga pasukan tersebut menyerah dan melakukan perjanjian damai.

Mereka berusaha membujuk Teungku Pang Akob agar turun dari pegunungan dan menjamin bahwa mereka tidak akan menghukum pasukan tersebut. Said Ahmad dan Abdullah TWH dikirim sebagai utusan untuk mengadakan upaya damai. Teungku Pang Akob menyampaikan kepada utusan tersebut bahwa ia akan turun dan melakukan perdamaian pada tanggal 5 Mei 1945, dan pasukan Jepang tidak perlu mendaki Gle Banggalang.

Pada pagi hari tanggal 5 Mei 1945, para perwira Jepang sudah berkumpul di Meunasah Lheue Simpang bersama pasukan tempur yang siap. Di antara mereka terdapat beberapa pejabat daerah seperti Teuku Yakub, Guntyo Bireuen, Said Ahmad Dahlan, dan Abdullah TWH dari Atjeh Syu Hodoka.

Mereka berkumpul di Meunasah Lheue Simpang untuk menunggu kedatangan Teungku Pang Akob dan pasukannya guna melaksanakan perjanjian damai yang telah dijanjikan dua hari sebelumnya.

Para perwira Jepang duduk di Meunasah sementara pasukan tempur berjaga-jaga di sekitar. Tiba-tiba, terdengar teriakan takbir "Allahu Akbar" yang menggema terus-menerus. Suara takbir yang menggema ini membuat Jepang panik dan kacau balau.

Dalam kekacauan tersebut, Teungku Pang Akob dan pasukannya keluar dari semak-semak yang ditutupi oleh dedaunan. Mereka menyerbu ke Meunasah dan melancarkan serangan terhadap tentara Jepang.

Said Ahmad Dahlan dan Abdullah TWH melarikan diri dan bersembunyi di dalam sebuah alur yang airnya tidak mengalir yang disebut alue siwong. Mereka baru keluar setelah pertempuran mereda. Ketika keluar, tubuh mereka dipenuhi oleh lintah.

Pertempuran tersebut tidak hanya menewaskan para perwira Jepang dan tentaranya, tetapi juga menewaskan Guntyo Bireuen dan Teuku Yakub. Menurut Said Ahmad Dahlan dan Abdullah TWH, ketika mereka keluar dari persembunyian mereka, mereka melihat mayat-mayat tentara Jepang bersama dengan pasukan Teungku Pang Akob yang juga tewas dalam pertempuran tersebut. Kemudian diketahui bahwa jumlah mujahidin yang gugur sebanyak 44 orang. Hingga kini, Teungku Pang Akob dan pasukannya yang tewas dikenal sebagai Syuhada 44.

Akibat dari pertempuran di Meunasah Lheue Simpang tersebut, Jepang melakukan penangkapan paksa di Jeunieb terhadap siapa saja yang dicurigai terlibat dalam penyerangan pos militer Jepang di Pandrah dan pertempuran di Meunasah Lheue Simpang.

Para pemuda yang ditangkap dan ditahan oleh Jepang, setelah mengalami pemeriksaan dan penyiksaan, sebagian besar dibebaskan dengan kondisi tubuh yang luka parah. Sebanyak 24 orang yang dianggap bersalah diangkut ke Medan, di antaranya 12 orang dieksekusi mati tanpa melalui proses pemeriksaan.

Mereka yang dihukum mati antara lain: Teungku Abdul Wahab Ali, Teungku Usman Yusuf, Teungku Muhammad Yakub, Teungku Abu Thalib, Teungku M Hamzah, Teungku M Husin Bungong, Teungku Agam Cut, Teungku Abdullah, Teungku Harun, Teungku Husin Bin Pawang Usman, Teungku Abdullah Jeumpa Sikureung, dan Teungku Abdul Jalil Pang.

12 orang lainnya dijatuhi hukuman penjara antara 5 hingga 12 tahun dan dipenjarakan di Pematang Siantar. Enam di antaranya meninggal dunia dalam penjara akibat penyiksaan berat. Empat di antaranya adalah Teungku Thalib Beungga, Teungku Badal Husin Peusangan, Teungku Muhammad Aji Yusuf, dan Teungku Ilyas Yusuf.

Enam orang lainnya dibebaskan dan kembali ke Aceh setelah Jepang kalah. Mereka adalah Teungku Yahya, Keuchik Muhammad Ali, Teungku Muhammad Ali Tineuboek, Teungku Isham Banta Panjang, Teuku Ibrahim Beungga, dan Teungku Muhammad Hasan Ali.

Sementara itu, 44 orang syuhada yang gugur dalam pertempuran melawan Jepang di Meunasah Lheu Simpang, Pandrah pada tanggal 5 Mei 1945, antara lain:

1. Keusyik Usman (Abu Keusyik Lheue)

2. K Juhan K Usman

3. Teungku Abdul Jalil

4. Teungku Ibrahim Peudada

5. K Abdul Jalil K Usman

6. Teungku Yacop

7. Teungku Isa Yusuf

8. Teungku Adam Arifin

9. Mahmud Beungga

10. M. Kasim

11. M Yusuf Gagap

12. M Yusuf Lheue

13. Zulkifli Yusuf

14. Teungku Ismail Samalanga

15. Ahmad Mise

16. Teungku M Amin

17. Ismail Peutua Ahmad

18. Teungku Usman Adam

19. Abdul Rahman Adam

20. Ibrahim Ali

21. A. bakar Amin

22. Teungku Ibrahim Meulaboh

23. Ibrahim Husen

24. Usman Ali

25. Ahmad Gampong Blang Raman

26. Abdullah Gampong Blang Raman

27. Ismail A. Rahman

28. M Saleh A. Rahman

29. Said Trienggadeng

30. Sabon Piah

31. Sulaiman Ali

32. Abdullah Beungga

33. M Saleh Gampong Blang

34. Ibrahim Yusuf

35. Ahmad Saleh (Benjali)

36. M Hasan Banta

37. Ismail Rifin

38. M Saleh Tulot

39. Mahmud Saleh

40. Yusuf Bin Dayah

41. Ahmad Alue

42. Ahmad Itam.

43. Aminah Binti Daud

44. Seorang Budak (Anak) Dalam Kandungan.

Perlawanan Rakyat Aceh
Daftar nama Syuhada 44 yang dipajang di komplek pemakaman taman syuhada Meunasah Lheue Simpang (Foto: facebook/kebangkitan islam)
Mereka dimakamkan di Taman Syuhada Meunasah Lheue Simpang, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Kisah pemberontakan Pandrah ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Jepang. Pemberontakan ini menunjukkan semangat perlawanan rakyat terhadap penindasan dan keinginan untuk mencapai kemerdekaan.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya