Achehnetwork.com - Aceh, provinsi yang terletak di paling barat Pulau Sumatera, dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah.

Ternyata, di daerah ini terdapat 14 suku yang memiliki adat, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda.


Pemerintah Aceh mencatat bahwa Serambi Mekkah dihuni oleh 14 suku atau bangsa yang berbeda. 

Untuk memperluas pengetahuan tentang suku-suku di Indonesia, Achehnetwork.com merilis informasi tentang beberapa suku di Aceh yang diambil dari berbagai sumber.



1. Suku Aceh


Suku Aceh, juga dikenal sebagai Ureuëng Acèh dalam Bahasa Aceh, adalah suku penduduk asli yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Provinsi Aceh.

Suku Aceh mayoritas beragama Islam.


Mereka juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Lam Muri, Lambri, Akhir, Achin, Asji, A-tse, dan Atse.

Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Aceh, yang termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan memiliki hubungan dekat dengan bahasa Cham yang digunakan di Vietnam dan Kamboja.


Meskipun Suku Aceh terdiri dari berbagai suku, kelompok, dan bangsa yang menetap di wilayah Aceh, mereka tetap bersatu dalam bahasa, agama, dan adat istiadat khas Aceh.



2. Suku Gayo


Suku Gayo merupakan salah satu suku yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah.

Menurut sensus tahun 2010, jumlah suku Gayo yang tinggal di provinsi Aceh mencapai 336.856 jiwa. 

Wilayah tradisional suku Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues.


Selain itu, suku Gayo juga tersebar di sebagian wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kabupaten Aceh Timur.

Suku Gayo menganut agama Islam dan menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari.



3. Suku Tamiang


Suku Tamiang, juga dikenal sebagai Melayu Tamiang, adalah suku bangsa yang merupakan penduduk asli Kabupaten Aceh Tamiang di Provinsi Aceh, serta Kabupaten Langkat di Sumatra Utara.

Meskipun memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Aceh, suku Tamiang bukanlah bagian dari suku Aceh yang berasal dari Provinsi  Aceh.

Suku Tamiang telah menjadi bagian dari masyarakat Aceh selama berabad-abad.


Dalam hal kebudayaan, masyarakat suku Melayu Tamiang memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat Melayu di pesisir timur Sumatra.

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Tamiang, yang merupakan bagian dari dialek Bahasa Melayu.



4. Suku Alas


Suku Alas adalah salah satu suku yang mendiami Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, yang juga dikenal dengan sebutan Tanah Alas.

Nama "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar", menggambarkan keadaan daerah tersebut yang terbentang datar seperti tikar di antara Bukit Barisan.

Suku Alas sebagian besar tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup dari pertanian dan peternakan.


Tanah Alas merupakan salah satu wilayah penghasil beras utama di Aceh.

Selain itu, mereka juga berkebun karet, kopi, kemiri, dan mengumpulkan hasil hutan seperti kayu, rotan, damar, dan kemenyan.

Suku Alas memiliki pola kehidupan keluarga yang erat, dengan garis keturunan patrilineal dan menganut adat eksogami merge, yang berarti mencari pasangan hidup di luar kelompok keturunan mereka.

Seluruh suku Alas menganut agama Islam.



5. Suku Kluet


Suku Kluet, juga dikenal sebagai Keluwat, mendiami beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

Daerah Kluet ini terpisah oleh Sungai Lawé Kluet yang bermata air di Gunung Leuser dan bermuara di Lautan Hindia.


Suku Kluet memiliki beberapa marga umum yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat mereka, seperti Pelis, Selian, Bencawan, Pinem, dan Caniago.

Marga Caniago merupakan marga keturunan orang Minangkabau yang telah berasimilasi dengan suku Kluet sejak berabad-abad yang lalu. Suku Kluet menganut agama Islam.



6. Suku Julu


Suku Julu adalah kelompok pendatang dari Pakpak Barat yang telah berimigrasi ke Subulussalam dan Singkil.

Selain itu, istilah "Julu" juga digunakan untuk menyebut pedagang yang berasal dari Pakpak atau Dairi Sidikalang.



7. Suku Singkil


Suku Singkil adalah suku yang mendiami Kabupaten Aceh Singkil, sebagian Kabupaten Aceh Selatan, sebagian Aceh Tenggara, dan Kota Subulussalam di Provinsi Aceh.

Suku Singkil memiliki budaya sendiri yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam.

Meskipun memiliki ikatan kekerabatan dengan suku Pakpak, suku Singkil memiliki adat dan budaya yang berbeda karena mayoritas suku Singkil menganut agama Islam, sedangkan mayoritas suku Pakpak memeluk agama Kristen.


Suku Singkil juga lebih banyak berbaur dengan suku-suku pendatang seperti suku Pakpak, Karo, Aceh, Minang, Melayu, dan Kluet.

Oleh karena itu, suku Singkil dianggap sebagai suku yang mandiri dengan budaya, adat istiadat, bahasa, silsilah, leluhur, dan marga mereka sendiri.



8. Suku Pakpak Boang


Suku Pakpak, juga dikenal sebagai Batak Pakpak, merupakan salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau Sumatra, khususnya di Sumatra Utara dan Aceh.

Di Aceh, suku Pakpak Boang mendiami Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Secara rinci, suku Pakpak Boang tinggal di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam di Aceh. Suku Pakpak Boang memiliki marga yang masih umum digunakan oleh sebagian masyarakat mereka. 

Suku Pakpak Boang memiliki kesamaan dengan suku-suku di sekitarnya, seperti suku Alas, Karo, Pakpak, dan Batak Toba.



9. Suku Aneuk Jamee


Suku Aneuk Jamee adalah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat-selatan Aceh, mulai dari Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, hingga Simeulue.

Suku Aneuk Jamee merupakan keturunan perantau Minangkabau yang bermigrasi ke Aceh dan telah mengadopsi budaya Aceh.


Suku Aneuk Jamee terutama banyak ditemukan di Kabupaten Aceh Selatan, sedangkan sebagian kecil berada di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Singkil, dan Simeulue.

Dalam kehidupan sehari-hari, suku ini menggunakan bahasa Minangkabau dengan dialek Aceh, yang dikenal sebagai Bahasa Aneuk Jamee.



10. Suku Sigulai


Suku Sigulai merupakan suku yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara.

Mereka tinggal di kecamatan Simeulue Barat, Alafan, dan Salang. Asal-usul suku Sigulai belum diketahui secara pasti karena tidak ada catatan tertulis tentang hal tersebut.

Namun, ada beberapa pendapat dari penulis di beberapa situs web yang menyatakan bahwa suku Sigulai berasal dari wilayah yang sama dengan suku Devayan, Lekon, Haloban, Nias, dan Mentawai. 


Fisik suku Sigulai termasuk dalam ras Mongoloid yang bermigrasi ke wilayah ini bersama suku Nias, Mentawai, Devayan, Lekon, serta suku lainnya di sebelah barat Pulau Sumatra.

Meskipun belum ada catatan sejarah yang menyebutkan secara pasti asal-usul suku Sigulai, mereka telah menjadi bagian dari wilayah ini selama berabad-abad.



11. Suku Lekon


Suku Lekon merupakan suku yang terdapat di Kecamatan Alafan, Simeulue, Provinsi Aceh.

Mereka tinggal di desa Lafakha dan Langi.



12. Suku Devayan


Suku Devayan adalah suku yang mendiami Pulau Simeulue.

Mereka tinggal di Kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan, dan Teluk Dalam.



13. Suku Haloban


Suku Haloban merupakan suku yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil, terutama di Kecamatan Pulau Banyak Barat.

Suku Haloban tinggal di dua desa dari empat desa yang ada, yaitu desa Haloban dan Asantola.



14. Suku Nias


Suku Nias adalah kelompok etnis yang berasal dari Pulau Nias.

Mereka menyebut diri mereka "Ono Niha" (Ono berarti anak/keturunan; Niha = manusia) dan Pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö berarti tanah).


Itulahlah beberapa suku yang ada di Aceh yang telah dihimpun dari berbagai sumber. Meskipun demikian, jika ada kesalahan penulisan atau penyebutan, informasi tersebut akan dievaluasi.

Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan kita tentang keragaman suku di Aceh.(*)


Dapatkan update berita dan artikel menarik lainnya dari Acheh Network di Google News

Ikuti kami di Fb Acheh Network Media