24 C
id

Sejarah Kerajaan Kenegerian Trumon: Kejayaan dan Warisan yang Mengagumkan

Sejarah Kerajaan Trumon,  Kerajaan Trumon, Provinsi Aceh, Aceh Selatan, Teungku Jakfar, Aceh Darussalam, Uleebalang, Perang Aceh, Onderafdeling Singkil, Asia Kecil, Batee Pidie, Ja Thahir, Ja Abdullah, Ja Johan, Tanoh Abee Seulimum, Tengku Jakfar, Unjong Seurangga Susoh, Labai, Paya Bombong, perkebunan lada, Kerajaan Trumon, Teuku Singkil, Gubernur Jenderal Charda, Hindia Belanda, Teuku Raja Husin, kemerdekaan, daftar raja, Teuku Raja Bujang, Teuku Raja Mak Areh, Teuku Raja Iskandar, Teuku Raja Djakfar, Teuku Haji Rayek, Teuku Muda Nanggroe
Teuku Raja Hussen dar Trumon, tahun 1930 (Foto: Ist)
ACHEHNETWORK.COM - Kerajaan Trumon Berlokasi di Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Selatan, Kecamatan Trumon, Kerajaan Trumon merupakan salah satu pusat kekuasaan yang menarik perhatian sejak lama.

Didirikan pada tahun 1780 oleh Teungku Jakfar, kerajaan ini mendapatkan pengakuan dari Aceh Darussalam sebagai negeri lindungannya pada tahun 1812.

Pada masa itu, Kerajaan Trumon berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh dan dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Uleebalang.

Setelah berakhirnya Perang Aceh pada tahun 1914, Trumon menjadi bagian dari Onderafdeling Singkil, sebagai "swapraja".

Sejarah Kerajaan Trumon pada Abad ke-18
Asal-usul raja Kerajaan Trumon berasal dari Asia Kecil atau keturunan suku Bangsa Arab.

Menurut silsilah kami, Ja Thahir berasal dari Baghdad dan bermigrasi ke Timur, menetap di Batee Pidie, Aceh.

Ja Thahir memiliki beberapa anak, salah satunya bernama Ja Abdullah (Dulah), yang juga menetap di Batee Pidie.

Ja Abdullah memiliki seorang anak bernama Ja Johan. Ja Johan menetap di Tanoh Abee Seulimum dan memiliki seorang anak bernama Tengku Jakfar, yang merupakan salah satu murid Tengku di Anjong di Pelenggahan

Setelah menyelesaikan pendidikan agama Islam, Tengku Jakfar diarahkan oleh gurunya untuk pergi ke Barat Aceh. Pada awalnya, Tengku Jakfar menetap di Ujong Seurangga Susoh, di mana ia mengajar agama Islam dan mendapatkan gelar Labai.

Ia juga dikenal dengan sebutan Labai Jakfar. Namun, ia tidak tinggal lama di sana dan melanjutkan perjalanan ke wilayah Singkil, di mana ia menetap.

Dengan rahmat Allah, Tengku Jakfar membuka sebuah negeri yang disebut Paya Bombong.

Selanjutnya, Tengku Jakfar membuka perkebunan lada (merica) di dataran sebelah utara Singkil yang kemudian dikenal sebagai Trumon.

Negeri yang baru dibuka ini mulai diatur sejak tahun 1780 M, dan Tengku Jakfar menjadi pengusaha pertama yang memerintah sebagai Raja di negeri tersebut dengan nama "Kerajaan Trumon".

Tengku Jakfar juga bergelar Teuku Raja Singkil, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Teuku Singkil. Beliau meninggal di Trumon pada tahun 1812 M.

Lanjut Halaman 2.. 


Pada tahun 1940, Gubernur Jenderal Charda dari Hindia Belanda datang ke Trumon untuk bertemu dengan Teuku Raja Husin.

Tujuan kunjungan Gubernur Jenderal tersebut adalah memberikan kemerdekaan penuh kepada Negeri Trumon sebagai kerajaan berdaulat, terlepas dari pengaruh pemerintahan Hindia Belanda.

Namun, Teuku Raja Husin menolak tawaran tersebut karena ia telah melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan rekannya, Teuku Nyak Areh di Kuta Raja.

Teuku Raja Husin bersedia menerima kemerdekaan jika seluruh Aceh merdeka setelah perang di Eropa selesai.


Daftar Raja Kenegerian Trumon

Berikut adalah daftar raja yang pernah memimpin Kerajaan Trumon:

1812: Tengku Jakfar, juga bergelar Teuku Raja Singkil.

1812-1835: Teuku Raja Bujang.

1835-1843: Teuku Raja Mak Areh.

1893: Teuku Raja Iskandar.

1893-1903: Teuku Raja Djakfar alias Teuku Haji Rayek, sebagai pengganti Iskandar. Haji Rayek menjabat sebagai raja boneka hingga meninggal dunia pada 1903.

1903-1907: Teuku Muda Nanggroe sebagai Mangku Bumi.
Pada masa pemerintahannya, Trumon mengalami kebangkrutan total.
Teuku Muda Nanggroe meninggal pada tahun 1907.
Teuku Raja Nasruddin menggantikannya hingga tahun 1912.

1927: Teuku Raja Lek, raja Trumon hingga tahun 1927.
Teuku Raja Husin, anak keempat dari Teuku Haji Djakfar alias Teuku Haji Rayeuk.

Lanjut Halaman 3.. 


Benteng Kuta Batee: Pusaka yang Mengagumkan

Benteng Kuta Batee dibangun pada masa pemerintahan Teuku Raja Jakfar pada tanggal 11 Agustus 1770 dan selesai pada tanggal 8 Agustus 1802.

Setelah itu, putra Teuku Raja Jakfar, yaitu Teuku Raja Bujang, melanjutkan roda pemerintahan Kerajaan Trumon.

Benteng ini memiliki luas sekitar 60x60 meter dengan tinggi mencapai sekitar 4 meter.

Dindingnya yang tebal sekitar satu meter dengan tiga lapisan.

Pada masa itu, benteng ini digunakan sebagai tempat percetakan uang Kerajaan Trumon sendiri. 

Kerajaan Trumon memiliki Cap Sikureueng dan mata uangnya sendiri yang diakui oleh dunia, sehingga membuatnya terkenal di Asia dan Eropa.

Selain berfungsi sebagai pertahanan dari serangan penjajah, Benteng Kuta Batee juga merupakan pusat pengendalian pemerintahan oleh sang raja.

Di dalam benteng tersebut terdapat istana dan gudang tempat penyimpanan barang-barang penting milik kerajaan.

Kerajaan Trumon telah meninggalkan jejak sejarah yang mengesankan. Keberanian dan kebijaksanaan raja-raja Trumon dalam memimpin kerajaan ini serta keindahan Benteng Kuta Batee yang masih berdiri kokoh merupakan warisan yang patut diapresiasi dan dijaga sebagai bagian dari sejarah Aceh yang kaya dan berwarna.(*)

Dapatkan update berita dan artikel menarik lainnya dari Acheh Network di GOOGLE NEWS

Ikuti juga kami di Fb Acheh Network Media

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya