24 C
id

Sejarah Asal Usul Suku Pakpak: Jejak Keturunan Imigran India Selatan

Suku Pakpak-Dairi, Sejarah Marga Manik, Imigran India Selatan, Budaya Pakpak-Dairi
(Foto: CNNIndonesia)
Acheh Network - Suku Pakpak memiliki akar yang dalam dalam sejarah Indonesia, dengan jejak keturunan mereka yang berasal dari India Selatan, tepatnya dari kerajaan Colamandala.

Mereka tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia dan pernah menaklukkan kerajaan Sriwijaya di Palembang pada tahun 1025 M, yang mengakibatkan Sri Sangramawijaya Tunggawarman, raja Sriwijaya, tertawan.

Runtuhnya kerajaan Sriwijaya pada tahun 1337 M memicu perpindahan manusia dan, akhirnya, pembentukan suku Pakpak sekitar 600 tahun yang lalu.


Diperkirakan, manusia pertama yang datang ke tanah Pakpak, Karo, dan Gayo (Alas) adalah nenek-moyang mereka, karena kata-kata dasar dalam bahasa mereka, seperti "Lae" dalam bahasa Pakpak, "Lau" dalam bahasa Karo, dan "Lawe" dalam bahasa Alas, memiliki kemiripan yang mencolok.

Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki akar yang sama.

Di samping itu, persamaan kata-kata dalam bahasa Pakpak dan bahasa Karo juga cukup besar, seperti ketenaran Marga Silima di Tanah Karo yang setara dengan Pakpak Lima Suak, yang juga dikenal sebagai "lima" dalam bahasa mereka.


Suku Pakpak-Dairi terbagi menjadi lima suak yang mendiami wilayah masing-masing:


Pakpak Suak Boang: Mereka tinggal di daerah Boang, Singkil, Subulusalam, Aceh, dan sekitarnya.


Pakpak Suak Klassan: Mereka mendiami daerah Parlilitan, Pakkat, dan sekitarnya, dengan beberapa marga seperti Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger, dan Anak Ampun.


Pakpak Suak Simsim: Mereka berada di sekitar kecamatan Kerajaan, Salak, dan sekitarnya, dengan beberapa marga seperti Kabeaken, Brutu, Padang, Padang Batanghari, Sitakar, Tinendung, dan lainnya.


Pakpak Suak Keppas: Marga ini terkenal melalui keturunan Naga Jambe yang pertama kali berasal dari Sicikeh-cikeh dan kemudian berkembang di Sidikalang. Mereka memiliki tujuh marga: Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri, dan Raja Sinamo.


Pakpak Pegagan: Mereka mendiami daerah Pegagan, termasuk Balna Sibabeng-kabeng, Lae Rias, Lae Pondom, Sumbul, Juma Rambah, Kuta Manik, Kuta Usang, dan sekitarnya.

Hanya ada tiga marga yang terkenal di sini: Raja Matanari, Raja Manik, dan Raja Lingga.


Dalam kelompok ini, Marga (Raja) Matanari, Manik, dan Lingga adalah keturunan dari Pakpak Suak Pegagan, yang juga dikenal sebagai si Raja Gagan atau si Raja Api.

Si Raja Api adalah salah satu dari tujuh Guru Pakpak Sindalanen yang terkenal karena ilmu kebatinan mereka.

Ini adalah bagian penting dari sejarah suku Pakpak-Dairi, yang mencakup berbagai ilmu kebatinan:


1. Raja Api (Raja Gagan): Memiliki ilmu kebatinan Aliran Ilmu Tenaga Dalam, yang menyerupai tenaga Api, seperti Gayung Api dan Tinju Marulak.

Ilmu ini berkaitan dengan pertahanan diri, pertarungan, dan perang melawan musuh.


2. Raja Angin: Memiliki ilmu kebatinan yang terkait dengan tenaga angin.

Mereka bisa merobohkan yang kuat dengan angin topan atau bahkan tiba-tiba muncul di depan mata seseorang dengan angin yang lembut.


3. Raja Tawar: Mempunyai ilmu kebatinan yang berkaitan dengan ramuan tradisional dan pengobatan, termasuk pengobatan patah tulang dan luka bakar.


4. Raja Lae, Lau, atau Lawe: Ahli dalam mengendalikan hujan, mencegah hujan, atau mengalihkan hujan, disebut juga Pawang Hujan.


5. Raja Aji: Memiliki ilmu kebatinan yang terkait dengan pengobatan penyakit Aji-ajian atau guna-guna.


6. Raja Besi: Menguasai ilmu kebatinan yang berkaitan dengan alat-alat besi, termasuk kebal terhadap tikaman pisau atau peluru senjata api.


7. Raja Dapat: Memiliki ilmu kebatinan yang berhubungan dengan binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan laba-laba.


Setelah Raja Api memiliki tiga anak laki-laki, salah satu putranya diberi nama Raja Matanari, yang berarti "Matahari."

Raja Api berharap bahwa ilmu kebatinan dan kekuatan yang dimiliki oleh putranya akan melebihi kekuatan Api yang telah dimilikinya.

Dengan demikian, Raja Matanari menjadi pahlawan dan memimpin keturunannya dalam mengembangkan wilayah-wilayah tertentu di Tanah Pakpak-Dairi.


Awalnya, Pakpak Pegagan, yang dikenal sebagai Raja Api, bapa, dan kakeknya, adalah orang nomaden yang hidup dari alam, memanen hasil hutan, berburu binatang, menangkap ikan, dan pindah-pindah tempat.

Mereka diyakini pertama kali tinggal di sekitar hutan Lae Rias dan Lae Pondom, dengan perkampungan awal mereka di sekitar Lae Rias di hulu sungai Lae Patuk, di atas daerah Silalahi.

Kuburan Raja Api, orangtuanya, dan beberapa keturunannya diyakini berada di sekitar hutan Lae Rias, yang dikenal sebagai daerah Sembahan SIMERGERAHGAH, yang merupakan tempat bersemayamnya si Perbuahaji, nenek moyang orang Pakpak, yang juga merupakan keturunan imigran India dari daerah Barus.


Seiring perkembangan zaman dan budaya, keturunan Pakpak Pegagan berubah dari budaya nomaden menjadi petani berpindah-pindah.

Mereka bermigrasi mencari lahan yang lebih subur dan meninggalkan lahan yang sudah tidak produktif. 

Sistem pertanian berpindah-pindah ini mendorong mereka dan keturunannya untuk bergerak ke wilayah seperti Balna Sikabeng-kabeng, Kuta Gugung, Kuta Manik, Kuta Raja, Kuta Singa, Kuta Posong, Sumbul Pegagan, Batangari (Batanghari), Juma Rambah, Simanduma, hingga daerah Tigalingga.


Pakpak Suak Pegagan hanya memiliki tiga marga yang terkenal: Raja Matanari, Raja Manik, dan Raja Lingga. Seiring perkembangan budaya, zaman, dan sejarah, keturunan tiga putra Raja Api, Pakpak Suak Pegagan, mendiami wilayah yang berbeda. Raja Matanari berkembang di wilayah Balna Sikaben-kabeng dan Kuta Gugung, Raja Manik di Kuta Manik dan Kuta Raja, dan Raja Lingga di Kuta Singa dan Kuta Posong.

Wilayah Kuta (kampung) lainnya adalah hasil perkembangan generasi berikutnya.


Buku Silsilah Marga Manik Pakpak Dairi: Jejak Sejarah yang Dikaji Ulang

Sebuah buku yang mencuri perhatian adalah "Silsilah Marga Manik Pakpak Dairi" yang ditulis oleh Bapak Mansehat Manik, S.Pd, seorang keturunan marga Manik dari Pakpak yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pakpak Bharat dan anggota Majelis Pusat Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).


Buku ini memberikan pandangan yang berbeda tentang sejarah marga Manik yang sering dikaitkan dengan suku Toba.

Selama ini, pihak keturunan Raja Borbor, atau yang lebih kecilnya, keturunan Silau Raja dari Toba, sering mengklaim bahwa semua marga yang berawalan "Manik," baik dari Toba, Damanik di Simalungun, Karo-Karo Manik di Karo, atau Manik di Pakpak Dairi, seakan-akan merupakan hak eksklusif dari suku Toba semata.


Namun, buku ini mengungkapkan bahwa sejarah suku Pakpak menunjukkan bahwa mereka berasal dari India Selatan dan datang ke Indonesia melalui Barus sebelum menetap di Pakpak dan menjadi Suku Pakpak.

Mereka membawa marga dari negeri asal mereka dan kemudian membentuk marga baru yang memiliki kesamaan dengan marga asli mereka.


Tidak semua orang Pakpak tinggal di Tanah Dairi, beberapa pergi merantau dan membentuk komunitas baru, meskipun mereka tetap mengakui akar mereka dari Pakpak.

Bahkan ada yang merantau dan mengganti nama dan marga mereka untuk mengadopsi identitas baru.


Sejarah mereka dimulai dengan kisah nenek moyang awal mereka, Kada dan Lona, yang datang ke Barus dari India Selatan dan kemudian masuk ke Tanah Dairi.

Dari pernikahan mereka lahir seorang anak bernama Hyang, yang menjadi tokoh penting dalam mitologi Pakpak.

Hyang kemudian menikahi Putri Raja Barus dan memiliki tujuh putra dan satu putri, yang disebut Mahaji, Perbau Bigo, Ranggar Jodi, Mpu Bada, Raja Pako, Bata, Sanggar, dan Suari.


Buku ini juga menjelaskan peran masing-masing anak Hyang dalam membentuk kerajaan mereka di berbagai wilayah, seperti Banua Harhar, Simbllo, Buku Tinambun, dan lainnya.

Hal ini juga mengungkapkan bahwa marga Manik dimulai dengan Mpu Bada, anak keempat dari Hyang, yang memiliki empat anak: Tndang, Rea (kemudian menjadi Banuera), Manik, dan Permencuari, yang kemudian menjadi cikal bakal marga Boang, Menalu, dan Bancin.


Buku ini menjelaskan bagaimana sejarah suku Pakpak-Dairi telah diubah, dan seringkali diputarbalikkan, oleh pihak Toba, yang berusaha mengklaim bahwa Mpu Bada adalah keturunan dari marga Sigalingging dari Toba.

Namun, buku ini dengan jelas menunjukkan bahwa Mpu Bada adalah anak keempat dari Hyang, bukan keturunan Sigalingging.


Dengan kata lain, buku "Silsilah Marga Manik Pakpak Dairi" menghadirkan sudut pandang yang lebih akurat tentang asal usul suku Pakpak-Dairi dan perannya dalam sejarah Indonesia.

Ini adalah upaya untuk mengkaji ulang dan menghormati warisan budaya dan sejarah suku Pakpak yang sering terlupakan atau disalahpahami.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll