24 C
id

Pasukan Marsose: Pasukan Elit Belanda Bentukan Muhammad Syarif yang Menguasai Aceh

Pasukan Marsose, Perang Aceh
Pasukan Marsose Belanda (Foto: Ist)
AchehNetwork.com - Pasukan Marsose, juga dikenal sebagai "Londo Ireng" atau Belanda Hitam oleh orang Jawa, adalah pasukan elit yang dibentuk oleh Belanda dengan tujuan awal untuk menghancurkan perlawanan gerilyawan di Kesultanan Aceh.

Pasukan ini memiliki sejarah yang unik, dengan peran penting dalam invasi Belanda ke Aceh pada abad ke-19.

Muhamad Syarif, seorang pribumi asli Pulau Sumatra dengan darah Minang, adalah tokoh utama di balik pembentukan pasukan ini.


Pada masa invasi Belanda ke Aceh, pemerintah kolonial Belanda sangat khawatir bahwa kekuatan asing dari negara-negara penjajah lain akan mengambil alih Aceh sebelum mereka. Ini akan mengancam kedudukan Belanda di Pulau Sumatra dan Selat Malaka.

Untuk mencegah kemungkinan tersebut, Belanda membuat Perjanjian Sumatra atau Traktat Sumatra dengan Inggris, yang melepaskan tanggung jawab mereka atas Aceh jika Belanda memutuskan untuk menginvasinya.


Belanda mulai menekan Kesultanan Aceh dengan menggunakan Traktat Sumatra sebagai dasar hukum. Namun, Aceh menentang dengan keras tindakan tersebut dan mencari bantuan dari luar negeri.

Pada 1 April 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang, dan kemudian mengirim armada perang ke Aceh di bawah pimpinan Jenderal Kholer.


Setelah beberapa pertempuran, Istana Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 31 Januari 1874, dan kedudukan Sultan Aceh diambil alih oleh Van Swieten.

Meskipun demikian, Kesultanan Aceh tidak menyerah, dan perlawanan terus berlanjut dengan sultan dan para pemimpin yang mengungsi ke daerah Lueng Bata, serta banyak kelompok perlawanan di luar Aceh Besar yang terus melawan Belanda.


Ketika banyak pemimpin Aceh menyerah atau gugur dalam pertempuran, termasuk Sultan Aceh terakhir, perlawanan kemudian diambil alih oleh para ulama yang memobilisasi semangat perang jihad fi sabilillah.

Rakyat Aceh mulai melancarkan perang gerilya, menyerang benteng-benteng dan posisi tentara Belanda. Inilah yang membuat perang gerilya semakin sulit bagi Belanda.


Muhamad Syarif, yang saat itu menjabat sebagai Jaksa Kepala di Kutaraja (Banda Aceh), memiliki ide brilian.

Menurutnya, pasukan gerilya harus dihadapi dengan pasukan yang memiliki kemampuan gerilya yang sama.

Pasukan tersebut harus menguasai senjata tradisional seperti Klewang, Rencong, serta mampu berduel dan menggunakan senjata api, sambil dapat bertahan hidup di hutan dengan perbekalan yang minimal.


Ide Muhamad Syarif ini disampaikan kepada Kepala Gubernur Militer Aceh saat itu, Jenderal Van Teijn, dan Kepala Stafnya, Kapten J.B. Van Heutsz.

Ide ini diterima dengan baik, dan Belanda kemudian membentuk pasukan khusus yang dikenal sebagai "Marsose."


Pasukan Marsose direkrut dari berbagai suku di Indonesia, terutama dari Ambon dan Menado, serta termasuk orang Jawa, Madura, Bugis, dan lainnya.

Mereka dipilih berdasarkan keberanian individual, kemampuan bertahan hidup di hutan, dan ketrampilan dalam perang kontra gerilya, seperti melacak jejak dan menentukan arah mata angin.


Meskipun pasukan Marsose secara resmi dibentuk pada 2 April 1890, mereka baru menjadi pasukan para-komando beberapa bulan kemudian, pada Desember 1895, di bawah komando Kapten G.W.J. Graafland.


Pasukan Marsose kemudian berhasil dalam melaksanakan misi mereka. Mereka membuat perlawanan gerilya Aceh semakin sulit, bahkan menyasar warga sipil Aceh yang tidak terlibat dalam perang. 

Perjuangan gerilya rakyat Aceh berkurang secara signifikan, kecuali kelompok-kelompok perlawanan kecil.


Dua serangan Marsose yang paling mematikan dalam sejarah perang Aceh adalah serangan terhadap benteng Aneuk Galong pada 28 Juni 1896 dan ekspedisi ke daerah Gayo dan Alas pada tahun 1904 yang dipimpin oleh Letkol G.C.E. Van Daalen.

Dalam serangan tersebut, pasukan Marsose melakukan kekejaman yang mengerikan, mengakibatkan banyak korban di antara pejuang Aceh dan warga sipil.


Penghargaan khusus diberikan kepada Muhamad Syarif oleh Belanda atas peran pentingnya dalam membantu merencanakan strategi untuk mengatasi perlawanan Aceh.

Dia dianugerahi bintang tanda jasa oleh Belanda dan diangkat sebagai Raja di Kerajaan Skala Brake Lampung dengan gelar Pangeran Djajadilampoeng II.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya