Acheh Network - Upacara pernikahan selalu menjadi ajang di mana berbagai keunikan dan tradisi khas suatu daerah dihadirkan dengan megah.


Dari pakaian adat yang memukau hingga hidangan istimewa yang menggugah selera, semua menjadi bagian penting dari perayaan ini.

Namun, di beberapa tempat, ada satu tradisi yang memiliki peranan sangat vital: tradisi Seumapa.


Seumapa, sebuah tradisi yang masih dipegang erat oleh masyarakat Aceh, bukan hanya sekadar bagian dari upacara pernikahan mereka, melainkan juga menjadi fondasi penting dalam budaya mereka.

Bagi orang Aceh, pernikahan adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan tanpa melibatkan tradisi ini.


Seumapa, yang kini semakin menarik perhatian, dihidupkan kembali oleh kalangan muda di Aceh melalui sanggar Seni Seueng Samlakoe yang diprakarsai oleh @medyahus.

Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Sultan Iskandar Muda pada tahun 1590-an.

Namun, kini tradisi ini semakin berkembang pesat.


Tradisi Seumapa bukanlah sembarang komunikasi. Ia adalah seni tutur atau seni berbalas pantun yang dianggap tinggi oleh masyarakat Aceh.

Uniknya, Seumapa tidak direncanakan sebelumnya. Pantun-pantun ini disampaikan secara spontan sesuai dengan situasi yang ada.

Seni ini mengharuskan kemampuan merangkai kata dan irama yang pas untuk menciptakan balasan pantun yang menarik.


Tradisi Seumapa juga tak hanya terbatas pada upacara pernikahan. Ia juga digunakan untuk menyambut tamu yang datang ke Aceh.

Dalam tradisi ini, dua orang berbalas pantun. Maksud kedatangan tamu disampaikan dalam bentuk pantun dan kemudian dibalas oleh sang penerima tamu.

Lanjut Halaman 2

Namun, Seumapa bukanlah hal yang mudah. Hanya mereka yang cerdas dalam merangkai kata dan berirama bisa melakukannya dengan baik.

Jika salah satu pihak tidak bisa menjawab pantun yang diberikan dengan pantun yang sesuai, ia dianggap kalah.


Yang membuat tradisi Seumapa semakin menarik adalah keragaman isi pantun yang disampaikan. 

Pantun bisa berupa pantun pemuda, pantun pergaulan, teka-teki, atau bahkan pantun jenaka. Ini mencerminkan betapa kaya dan hidupnya budaya lisan di Aceh.


Jadi, di balik keindahan upacara pernikahan Aceh, ada tradisi Seumapa yang menjadikan pernikahan mereka lebih hidup dan berkesan.

Ia juga menunjukkan betapa tingginya apresiasi orang Aceh terhadap seni tutur dan berbalas pantun, yang seakan menjadi bahasa hati mereka dalam berkomunikasi.(*)

Dapatkan update berita dan artikel menarik lainnya dari Acheh Network di Google News