24 C
id

Kampung 'Mati' di Sumatera Barat Ini Cuma Sisa 2 Penghuni, Ternyata Ini Penyebabnya

Kampung Mati di Sumatera Bara
Kampung Mati di Sumatera Barat (YT Lantai 16)

AchehNetwork.com -  Kampung yang terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini mengisahkan sebuah misteri yang tak terlupakan.

Pada masa lalu, kampung ini hidup seperti desa lainnya di Kabupaten Agam.

Namun, suatu sebab tertentu mendorong penduduknya untuk meninggalkan kampung ini, dan kini, kampung 'mati' ini menjadi objek eksplorasi para penjelajah, termasuk pemilik akun YouTube, Zeki Satria.


Saat Anda mengunjungi kampung ini, Anda akan menemukan jalan pedesaan yang dulu penuh kehidupan, kini dipenuhi semak belukar dan rumah-rumah yang terlupakan.

Meski terlihat lapuk, bangunan seperti masjid dan balai desa masih utuh, meski kosong tanpa kehidupan.


Azwardi Efendi, satu-satunya warga desa yang masih bertahan, menceritakan bahwa dahulu kampung ini dihuni oleh sekitar 150 rumah seperti pemukiman biasa.

Namun, kini, hanya ada dua orang dan dua rumah yang tersisa, sementara bangunan lainnya ditinggalkan.


Pada masa lalu, ada sekolah di dekat kampung 'mati' ini, tetapi sekarang sekolah tersebut telah dipindahkan ke Rumah Sekolah Kukuban.

Para penduduk desa ini meninggalkan kampung tersebut pada tahun 1980-an dan pindah ke kampung Bancah yang berdekatan.


Namanya adalah Kampung Panji Kubu Gadang, terletak di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Tetapi apa yang menjadi alasan utama bagi para penduduk untuk meninggalkan pemukiman yang pernah ramai ini?


Menurut Bapak Azwardi Efendi, masalah utama adalah akses terhadap air.

Kesulitan dalam mendapatkan air bersih dan menjalankan kegiatan sehari-hari serta bercocok tanam membuat mereka kesulitan untuk tetap tinggal di kampung tersebut.


Dilansir dari laman Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, upaya untuk memperbaiki akses air bersih dan jalan rusak mulai dijalankan setelah terbengkalai selama 30 tahun.


Namun, ada sekelompok individu dan lembaga yang berusaha keras untuk menghidupkan kembali kampung kosong ini.

Pesantren Prof. Dr. Buya Hamka dan para perantau telah membuat terobosan-terobosan baru, seperti membangun jalan selama 700 meter dengan lebar empat meter.

Selain itu, sektor ternak itik dan perkebunan terong mulai digalakkan kembali di kampung ini.


Kabar baiknya, usaha beternak itik telah menghasilkan 12 ekor telur setiap hari pada tahun 2019. 

Dengan usaha dan dedikasi ini, kampung 'mati' ini mulai hidup kembali, menghadirkan harapan bagi masa depan yang lebih cerah di tengah Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya