24 C
id

Heboh! Ibu Kota Provinsi Aceh Akan Dipindahkan ke Aceh Tengah, Berikut Profil Aceh Tengah, Yuk Kenalkan!

Aceh Tengah
Penampakan kota Takengon dan Danau Laut Tawar/



AchehNetwork.com - Gegap gempita melanda tanah Aceh seiring dengan tuntutan baru dari Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH MH.

Beliau baru saja mengeluarkan pernyataan mengejutkan, menyerukan kepada Pemerintah Aceh dan DPRA Aceh untuk menggeser Ibu Kota Provinsi Aceh dari Banda Aceh ke Aceh Tengah.

Pertanyaannya pun mengemuka, akankah wacana kontroversial ini benar-benar menjadi kenyataan?


Sebelum kita larut dalam pro dan kontra pemindahan ibu kota, mari kita kenali terlebih dahulu calon ibu kota Aceh yang baru ini.


Aceh Tengah, sebuah kabupaten yang menjadi pusat sorotan, terletak di tengah-tengah Provinsi Aceh. Takengon, kota kecil yang dikelilingi udara sejuk, menjadi ibu kota kabupaten ini, terletak di punggung pegunungan Bukit Barisan yang menjalar panjang sepanjang Pulau Sumatra.


Apa yang membuat Aceh Tengah begitu istimewa?

Ini terletak pada geografinya yang luar biasa. Terletak di Dataran Tinggi Gayo, bersama dengan Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues, kabupaten ini memiliki kota-kota utama yang mengagumkan seperti Takengon, Blang Kejeren, dan Simpang Tiga Redelong.

Perjalanan antarkota yang menakjubkan ini melalui pemandangan alam yang memesona.

Dahulu kala, wilayah Gayo dianggap terpencil sebelum jalan-jalan pembangunan membuka akses ke daerah ini.


Ketinggian Aceh Tengah berkisar antara 200 hingga 2600 meter di atas permukaan laut, meliputi luas wilayah seluas 4.454,50 km2.

Terdapat 14 kecamatan dan 295 desa yang membentang di antara gunung-gunung nan megah.

Nama-nama seperti Atu Lintang, Bebesen, hingga Silih Nara menambah kekayaan budaya wilayah ini.


Mari kita membawa langkah kita melalui sejarah yang menggugah.

Masa Hindia Belanda menyaksikan kedatangan kolonialis sekitar tahun 1904, dipicu oleh potensi perkebunan Tanah Gayo yang ideal untuk budidaya kopi Arabika, tembakau, dan damar.

Tak heran, Takengon menjadi pusat pengolahan kopi dan damar, mengubahnya menjadi pusat perdagangan hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, terutama kopi dan sayuran.


Jepang datang, dan sebutan Onder Afdeeling Takengon berganti menjadi Gun pada masa pendudukan (1942-1945).

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Aceh Tengah berkembang menjadi kabupaten pada tahun 1956, membentuk bagian penting dari perjalanan kemerdekaan Indonesia.


Pendidikan juga merajai peta Aceh Tengah dengan adanya institusi-institusi seperti Sekolah Tinggi Agama Negeri Gajah Putih Takengon, Universitas Gajah Putih Takengon, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan Muhammadiyah, dan Perguruan Tinggi Al-Wasliyah.


Selain sejarah dan pendidikan, Aceh Tengah menawarkan pesona wisata yang tak terlupakan.

Danau Laut Tawar, Pantan Terong, Gua Loyang Koro, serta keunikan budaya Didong adalah sebagian kecil dari keindahan yang ditawarkan.

Pacu kuda tradisional yang digelar dua kali setahun juga menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung.


Dalam aspek pertanian dan perkebunan, Aceh Tengah memimpin dengan menghasilkan kopi Arabika terbaik di dunia. Petani di sini juga berfokus pada tebu, kakao, dan tanaman sayur mayur serta palawija.


Sosok Aceh Tengah tak lepas dari kekayaan budayanya. Suku Gayo yang mendiami wilayah ini dikenal sebagai pemberani dan anti penjajahan.

Tradisi pacu kuda dengan joki muda tanpa sadel menjadi ciri khas yang unik dan menarik.


Menghadapi tuntutan pemindahan ibu kota, Aceh Tengah tampil sebagai kandidat potensial. Keberagaman alam, sejarah, dan kehidupan budaya membuatnya layak diperhitungkan.

Akankah Aceh Tengah benar-benar meraih mahkota sebagai ibu kota Aceh? Waktulah yang akan menjawab pertanyaan ini, seiring dengan langkah-langkah menuju masa depan yang menggoda.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya