24 C
id

Awal Mula Tradisi Kurban dalam Ajaran Islam: Ketaatan dan Keimanan yang Luar Biasa

Awal mula berkurban, sejarah Nabi Ibrahim
Ilustrasi/berbagai sumber



AchehNetwork.com — Setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan penuh kebahagiaan dan semangat kebersamaan. 

Di balik perayaan ini, terdapat sebuah kisah penuh makna dan pelajaran yang melibatkan dua nabi besar, Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Ismail Alaihissalam. 

Tradisi berkurban yang kita kenal saat ini bermula dari peristiwa monumental yang menggambarkan ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.



Perjalanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya di Mekkah


Cerita ini bermula ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam mengunjungi istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, di Mekkah. 

Suatu hari, mereka menggiring ternak mereka yang banyak dan memutuskan untuk beristirahat di Masjidil Haram karena kelelahan. Mereka tertidur pulas di sana.


Mimpi Pertama: Awal Mula Ujian


Di tengah malam, Nabi Ibrahim terbangun dari mimpinya yang begitu nyata. 

Dalam mimpinya, beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menyembelih putranya, Ismail, sebagai kurban. 

Terkejut dan bingung, Nabi Ibrahim tidak segera menceritakan mimpinya kepada Hajar dan Ismail, khawatir mereka akan merasa takut dan gelisah.


Mimpi Berulang: Keyakinan yang Menguat


Setelah melanjutkan perjalanan, mereka tiba kembali di rumah mereka di Mekkah. Namun, malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali bermimpi hal yang sama. 

Suara dalam mimpinya terdengar sangat jelas, memerintahkan beliau untuk menyembelih Ismail. 

Pagi harinya, Nabi Ibrahim semakin resah dan tidak bisa mengabaikan mimpi tersebut. 

Meskipun demikian, beliau tetap belum berani menceritakan mimpinya kepada keluarganya.


Mimpi Ketiga: Kepastian Perintah Allah


Untuk ketiga kalinya, Nabi Ibrahim bermimpi tentang perintah menyembelih Ismail. 

Keyakinan Nabi Ibrahim semakin kuat bahwa ini adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Memikirkan untuk menyembelih putranya sangatlah berat bagi seorang ayah yang begitu menyayangi anaknya. 

Saat itulah, setan mulai mencoba menggoda Nabi Ibrahim, berusaha meruntuhkan ketaatannya. 

Namun, Nabi Ibrahim berhasil menepis godaan setan tersebut.


Penyampaian Perintah: Ujian Keimanan Ismail


Pada akhirnya, Nabi Ibrahim tidak mampu lagi menanggung beban pikiran tersebut dan memutuskan untuk memberitahukan kepada putranya. 

Beliau memanggil Ismail dan memintanya untuk sabar dan tabah. 

Dengan ketabahan luar biasa, Ismail menjawab, "Ayah, apapun perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, katakanlah. 
Saya akan tetap tabah dan sabar, sebagai orang beriman apapun perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala harus dilaksanakan." 

Nabi Ibrahim kemudian menjelaskan mimpinya kepada Ismail, yang mendengarkan dengan penuh ketenangan dan ketabahan. 

Setelah itu, Nabi Ibrahim juga berbicara dengan Hajar, yang meskipun menangis, menerima perintah tersebut sebagai kehendak Allah.



Persiapan untuk Kurban: Godaan Setan dan Kesabaran


Setelah keluarganya mengetahui perintah Allah, Nabi Ibrahim bersiap untuk menjalankan perintah tersebut. 

Iblis berulang kali mencoba menggoda dan menghalangi Nabi Ibrahim, namun beliau tetap teguh pada niatnya. 

Setiap kali iblis datang, Nabi Ibrahim melemparkan batu dan mengusirnya dengan tegas.



Tempat Penyembelihan: Mukjizat dari Allah


Akhirnya, Nabi Ibrahim dan Ismail tiba di sebuah bukit di daerah Mina. 

Di sana, Nabi Ibrahim menemukan batu datar yang cukup besar. 

Ismail pun dibaringkan di atas batu tersebut dengan wajah yang ditutupi oleh bajunya, agar Nabi Ibrahim tidak harus melihat wajah putranya saat penyembelihan. 

Ismail juga meminta agar tangannya diikat kuat agar tidak bergerak saat disembelih. 

Saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail, pisau yang digunakan ternyata tumpul dan tidak mampu melukai Ismail. 

Nabi Ibrahim lalu mencoba dengan pisau yang lebih tajam, namun saat itu Malaikat Jibril datang membawa kabar dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.



Penggantian Kurban: Hikmah dari Allah


Malaikat Jibril berkata, "Wahai Ibrahim, sungguh kau telah siap untuk melaksanakan perintah Tuhan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan mengampunimu dengan ketaatanmu. Sembelihlah kibas (domba di Arab) ini sebagai pengganti Ismail. Makanlah dagingnya, jadikanlah hari ini sebagai hari raya bagi kalian berdua, dan sedekahkanlah sebagian dari dagingnya untuk fakir miskin sebagai kurban." 

Mendengar suara Malaikat Jibril, Nabi Ibrahim sangat bahagia dan bersyukur. 

Beliau pun menyimpan kembali pisau dan memeluk Ismail dengan penuh kelegaan. 

Peristiwa ini menjadi mukjizat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, menunjukkan bahwa perintah pengorbanan itu adalah ujian keimanan bagi Nabi Ibrahim dan Ismail.



Makna dan Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim


Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini terekam dalam Al-Quran dan menjadi dasar bagi perayaan Idul Adha. 

Dalam surat As-Saffat ayat 102-107, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman mengenai peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa pengorbanan itu hanyalah ujian untuk menguji ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail. 

Dari kisah ini, kita belajar tentang arti ketaatan dan keimanan yang sejati kepada Allah. 

Nabi Ibrahim menunjukkan ketaatan yang luar biasa sebagai seorang ayah yang bersedia mengorbankan yang paling berharga demi menjalankan perintah Allah. 

Ismail juga menjadi contoh anak yang sabar dan taat kepada perintah Allah dan ayahnya.

Idul Adha kini dirayakan sebagai bentuk peringatan akan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail. 

Umat Muslim di seluruh dunia menyembelih hewan kurban sebagai simbol pengorbanan dan berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama yang kurang mampu. 

Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu taat dan percaya kepada Allah, meskipun ujian yang diberikan sangat berat. 

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menjadi orang-orang yang lebih taat dan beriman.

Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga semangat pengorbanan dan keikhlasan selalu menyertai kita semua!***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya