24 C
id

Keunikan Penamaan Ikan di Aceh Terungkap dalam Sidang Komisi Bahasa Daerah, Sejenis Ikan Ada yang Punya 3 Nama

Nama ikan dalam bahasa Aceh
Gambar, Eungkôt Bagok dan Eungkôt Surèe



AchehNetwork.com - Sidang Komisi Bahasa Daerah Bidang Kemaritiman yang diadakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh selama dua hari, pada 4-5 Oktober 2021 di Hotel Kryiad Muraya, Banda Aceh, mengungkap berbagai fakta menarik tentang dunia perikanan di Aceh. 


Salah satu temuan yang paling mengejutkan adalah penamaan beberapa jenis ikan berdasarkan ukuran tubuhnya, menghasilkan hingga enam nama untuk satu jenis ikan.

Sebagai contoh, ikan 'bagok' dikenal dengan nama 'suw'iek' saat masih kecil.

Ikan ini memiliki kumis, patil, dan duri keras di punggungnya. 

Contoh lain adalah ikan belanak atau 'kadra'. Ketika masih kecil, ikan ini disebut 'seurampueng'. 

Saat ukurannya mencapai sejengkal tangan orang dewasa, barulah disebut 'kadra'. 

Jika tumbuh lebih besar lagi, ikan ini dinamakan 'subon', dan ketika mencapai berat sekitar 5 kg, namanya berubah menjadi 'rapeueng'. 


Uniknya, di wilayah Tibang, Aceh Besar, 'seurampung' disebut 'kadra' saat masih kecil, dan saat besar dinamakan 'beulanuet'.

Jenis ikan lain dengan banyak nama adalah tongkol atau cakalang. 

Di Aceh, tongkol terkecil disebut 'Surèe Panjoë', berukuran sebesar jari kelingking hingga jari jempol tangan pria dewasa. 

Ukuran yang lebih besar dikenal sebagai 'jeureubok' (15-20 cm), kemudian 'suree keumong' (30-45 cm) yang juga dikenal sebagai 'pimpik' atau 'timpiek' tergantung dialek daerah.


Ikan 'surèe keumong' biasanya paling enak dipanggang atau diolah menjadi keumamah (ikan kayu). 

Ukuran lebih besar lagi disebut 'amè-amè' (60-80 cm), dengan nama Latin Katsuwonus pelamis, dan yang terbesar disebut 'pa'ak', beratnya mencapai 20-25 kg. 

Anggota terbesar dalam keluarga tongkol adalah tuna, panjangnya melebihi 100 cm dengan bobot lebih dari 25 kg, yang memiliki ciri khas ekor kuning. 

Daging tuna lebih empuk dibandingkan tongkol dan lebih sering diekspor daripada dikonsumsi lokal.

Harga ikan juga bervariasi sesuai ukurannya. 

Misalnya, 'surèe keumong' dihargai antara 60.000-80.000 rupiah per ekor, sementara 'ame-ame' bisa mencapai 100.000-140.000 rupiah per ekor. 

Tuna besar bahkan bisa mencapai harga jutaan rupiah. 

Selain itu, terdapat ikan 'sisék itam', sejenis tongkol berwarna hitam dengan sisik kecil dan jarang, panjangnya berkisar antara 20-70 cm.

Keragaman nama dan ciri-ciri ikan tersebut menjadi salah satu topik menarik dalam sidang yang dihadiri oleh 14 peserta.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll