24 C
id

Pasukan Inong Balee, Pasukan Perempuan Aceh yang Berhasil Menewaskan Cornelis de Houtman Pemimpin Armada Belanda Tahun 1599

Pasukan Inong Balee, Malahayati
Gambar Ilustrasi



AchehNetwork.com - Apakah kalian pernah mendengar tentang pasukan Inong Balee? Mungkin yang paling dikenal saat ini adalah peninggalan mereka berupa Benteng Inong Balee di Aceh. 

Namun, tahukah kalian bahwa Inong Balee adalah pasukan perempuan yang berjaya melawan penjajah?

Inong Balee adalah pasukan perempuan rakyat Aceh pada masa penjajahan Belanda dan Portugis. 

Pasukan ini menjadi simbol kekuatan dan keberanian perempuan Aceh, yang berhasil mengalahkan pasukan Belanda.

Secara bahasa, "Inong Balee" berarti "Pasukan Armada Janda". 

Dalam Bahasa Aceh, 'Inong' berarti perempuan dan 'Balee' berarti janda. Meskipun demikian, sebagian besar anggota pasukan ini adalah perempuan muda dan lajang yang berusia awal dua-puluhan, bahkan ada yang masih berusia belasan tahun, menurut buku "Post-War Security Transitions: Participatory Peacebuilding After Asymmetric Conflicts".


Pasukan Inong Balee terbentuk pada masa Sultan Alaydin Ali Riayat Syah IV Saydil Muqammil, yang memerintah Kerajaan Aceh dari 997 hingga 1011 M (1589-1604). 

Pasukan ini dibentuk atas permintaan Laksamana Malahayati, seorang bangsawan Aceh yang terkenal dengan keberaniannya. 

Nama asli Malahayati adalah Keumalahayati, putri dari Laksamana Mahmud Syah, seorang panglima perang Kesultanan Aceh. 


Setelah suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis, Malahayati mengambil alih komando dan membentuk Pasukan Inong Balee. 

Dengan kemampuan yang didapat saat menimba ilmu di Mahad Baitul Maqdis, Malahayati melatih Inong Balee menjadi pasukan tempur yang tangguh. 

Pasukan ini, yang berjumlah sekitar 2.000 orang, ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. 

Malahayati diangkat sebagai panglima armada laut (laksamana) dan merupakan perempuan pertama di dunia yang menyandang jabatan tersebut. 

Sultan membekali pasukan Inong Balee dengan 100 unit kapal perang besar, masing-masing berkapasitas 400 pasukan, untuk menghadapi Portugis dan Belanda.

Keberanian dan kehebatan pasukan Inong Balee terlihat dalam berbagai pertempuran, termasuk pertempuran terkenal di Teluk Haru pada tahun 1599, di mana mereka berhasil mengalahkan armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. 

Pada 11 September 1599, dalam sebuah duel satu lawan satu di atas kapal musuh, Laksamana Malahayati mengalahkan Cornelis de Houtman. 

Kemenangan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan militer mereka tetapi juga mengukuhkan posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang disegani pada masa itu.

Jejak peninggalan pasukan Inong Balee bisa ditemukan di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, yakni berupa Benteng Inong Balee. 

Benteng ini membentang dari ujung barat Teluk Krueng Rata hingga jauh ke pesisir timur Aceh Besar, menunjukkan lokasinya yang strategis untuk mendukung perang pada masa itu. 

Kini, benteng ini hanya menyisakan reruntuhan akibat faktor alam, seperti dinding barat yang rawan longsor dan pepohonan yang tumbuh di hampir seluruh bagian benteng. 

Meski demikian, Benteng Inong Balee tetap menjadi saksi bisu keberanian dan kehebatan pasukan perempuan Aceh pada masa lalu.

Laksamana Malahayati diakui sebagai pahlawan nasional pada 6 November 2017 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017, berkat kiprahnya sebagai tokoh sejarah bangsa Indonesia dan sebagai laksamana laut wanita pertama di dunia.***

ARTIKEL TERKAIT

There is no other posts in this category.

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll