24 C
id

Pesona Gadis Bermata Biru di Lamno: Warisan Sejarah dan Misteri dari Aceh Jaya

gadis mata biru lamno, Aceh Jaya
Ilustrasi Pesona Gadis Bermata Biru di Lamno


AchehNetwork.com - Keindahan gadis bermata biru di Lamno, Aceh Jayat, sudah lama menjadi buah bibir. Konon, mereka adalah keturunan orang-orang Portugis yang mendarat di sana ratusan tahun yang lalu. 


Namun, menemukan mereka bukanlah hal yang mudah. Selain jumlah mereka yang sedikit, umumnya mereka juga pemalu.


Dilansir dari Harian Kompas, pada tahun 1986, desa kecil di Lembah Geurutee ini sering didatangi orang-orang berkulit putih yang mengaku dari Portugis. 


Mereka datang dengan tujuan yang sama, yakni mencari keturunan Portugis yang bermata biru. 


Namun, mereka sering gagal menemukan karena para gadis bermata biru ini cenderung menghindar.



Sejarah Singkat dan Keturunan Bermata Biru


Salah satu kisah yang menarik adalah tentang seorang pemuda bernama Abdullah, yang pada usia 20 tahun memiliki mata biru, meskipun hidungnya tidak mancung dan kulitnya kekuningan. 


Rambutnya yang aslinya pirang, diwarnai hitam untuk menyamarkan keturunannya.


Seiring modernisasi, orang-orang bermata biru di Lamno menjadi lebih mudah ditemui, meskipun dampak tsunami 2004 membuat hal ini menjadi lebih sulit. 


Artikel "Masih Ada Si Mata Biru di Lamno" yang ditulis Basri Daham di Harian Kompas pada 8 Juni 1997 mengungkap sejarah ini bermula dari kisah Marco Polo.



Legenda Marco Polo dan Kedatangan Portugis


Menurut para tetua di Lamno, Marco Polo pernah singgah di sana untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan petualangannya. 


Kisah ini tercatat dalam buku "Far East" yang mengisahkan perjalanan di Indo China, Lamno Aceh, dan Kepulauan Banda Maluku Tengah.


Setelah itu, sebuah kapal dagang Portugis terdampar di Wateuh Lamno, sebuah desa pantai di wilayah Kerajaan Meureuhom Daya. 


Kerajaan ini merupakan cikal-bakal dari Kerajaan Aceh Darussalam yang dikenal hingga era Sultan Iskandar Muda. 


Bukti sejarah keberadaan Kerajaan Meureuhom Daya dapat dilihat pada relief batu nisan berkaligrafi Persia abad ke-13 di kompleks makam Marhom Daya Glee Jong, Lamno.



Warisan Portugis dan Konflik dengan Kerajaan Aceh


Portugis dan Marco Polo memiliki kaitan erat dengan orang Aceh bermata biru, keturunan Portugis yang ditaklukkan Raja Meureuhom Daya. 


Di Lamno, pernah terjadi perang besar melawan Portugis, Belanda, dan Inggris. 


Bekas-bekasnya berupa puing benteng dan meriam kuno banyak ditemukan di pantai.


Kapal dagang Portugis yang terdampar di Lamno melarikan diri dari Singapura menuju Kerajaan Daya untuk membeli rempah-rempah. 


Namun, tentara Kerajaan Daya tidak membiarkan mereka mendarat begitu saja. Mereka dihujani tembakan meriam dan diserang hingga menyerah. 


Sambil menunggu kapal untuk kembali ke Portugis, Raja Daya mengizinkan mereka tinggal di kawasan Wateuh Lamno. 


Mereka belajar agama, bahasa, bertani, dan adat istiadat Aceh, sehingga cepat beradaptasi.



Penutup


Pesona gadis bermata biru di Lamno tidak hanya merupakan warisan fisik, tetapi juga merupakan saksi bisu dari sejarah panjang interaksi antara Aceh dan bangsa-bangsa Eropa. 


Meskipun keberadaan mereka kini semakin jarang, kisah mereka tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Aceh yang kaya dan beragam.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll