24 C
id

Ke'te Kesu: Desa Tradisional Eksentrik di Tana Toraja

 

Desa Kete Kesu, Wisata Toraja
Desa Kete Kesu, Wisata Toraja



AchehNetwork.com - Di tengah pegunungan Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tersembunyi sebuah desa tradisional yang eksentrik, Ke'te Kesu. 


Desa ini terletak di hamparan sawah yang luas dan merupakan salah satu desa tertua di Sanggalangi, dengan usia diperkirakan mencapai 400 tahun. 


Ke'te Kesu telah mempertahankan keasliannya sejak pertama kali berdiri, menjadikannya semacam museum hidup yang menawarkan pemandangan langsung budaya dan tradisi unik masyarakat Toraja.



Keindahan Tradisi dan Ritual

Salah satu daya tarik utama Ke'te Kesu adalah ritual dan upacara pemakaman mewah yang menggambarkan keseriusan mereka terhadap kematian. 


Kuburan yang menggantung dan situs permakaman dengan dekorasi yang indah memberikan kesan mendalam bagi pengunjung. 


Desa ini dihuni oleh sekitar 20 keluarga, beberapa di antaranya tinggal di rumah adat Tongkonan yang ikonik. 


Terdapat delapan Tongkonan di Ke'te Kesu, yang diatur berbaris dan saling berhadapan, lengkap dengan lumbung padi yang terhubung.



Keindahan Rumah Tongkonan

Tongkonan, rumah adat Toraja, memiliki dinding yang dihiasi dengan tanduk kerbau dan ukiran yang indah, menunjukkan status sosial pemilik rumah. 


Hanya mereka yang berdarah bangsawan yang diperbolehkan membangun Tongkonan, sementara masyarakat biasa tinggal di rumah yang lebih sederhana. 


Bentuk atap Tongkonan yang menyerupai perahu besar menambah keunikan rumah ini. 


Pembangunan Tongkonan melibatkan seluruh anggota keluarga, menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan dan gotong royong.



Museum Hidup

Salah satu Tongkonan di Ke'te Kesu telah diubah menjadi museum yang memamerkan benda-benda unik dan bersejarah dari adat istiadat kuno. 


Keramik Tiongkok, patung, belati, parang, hingga bendera pertama yang pernah dikibarkan di Toraja terpajang di sana. 


Museum ini juga menawarkan workshop bagi pengunjung yang ingin melatih keterampilan membuat karya seni dari bambu.



Bukit Buntu Ke'su: Situs Pemakaman Kuno

Tidak jauh dari Tongkonan, terdapat batu menhir di tengah sawah yang menandai jalan menuju Bukit Buntu Ke'su, situs pemakaman kuno berusia 700 tahun. 


Di jalur bukit yang berbatu, pengunjung dapat melihat tengkorak dan tulang manusia yang berserakan. Beberapa di antaranya disimpan dalam bejana besar berbentuk perahu atau sampan.


Pada tebing bukit, terdapat lubang-lubang yang digunakan untuk menguburkan mayat. 


Berdasarkan tradisi setempat, warga berdarah bangsawan dimakamkan di lubang tertinggi, sementara orang biasa di kaki bukit. 


Masyarakat Toraja percaya bahwa semakin tinggi lokasi seseorang dikubur, semakin mudah jalan mereka menuju surga.


Beberapa makam adat di Ke'te Kesu telah ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat (tau-tau). 


Peti mati yang menggantung di dinding bukit diukir dengan akurasi dan keindahan yang luar biasa, menjadikan situs ini sebagai pemandangan yang memukau.



Keterampilan Pengrajin Ke'te Kesu

Warga Ke'te Kesu dikenal sebagai pengrajin yang sangat terampil. Mereka mengukir ornamen unik pada bambu atau batu dengan motif abstrak atau geometris. 


Berbagai suvenir seperti tatakan gelas, perhiasan, hiasan dinding, tau-tau, dan senjata tradisional dapat dibeli di sana. 


Harganya bervariasi, mulai dari yang murah hingga jutaan rupiah untuk hiasan dinding yang rumit dan lukisan berukir.



Mengunjungi Ke'te Kesu

Untuk mencapai Ke'te Kesu, Anda harus naik pesawat ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. 


Selanjutnya, perjalanan darat dengan bus menuju Rantepao Toraja memakan waktu sekitar delapan jam. Setelah tiba di Rantepao, Anda perlu melanjutkan perjalanan satu jam lagi untuk sampai di desa Ke'te Kesu.


Dengan keunikan dan kekayaan tradisinya, desa Ke'te Kesu menjadi salah satu warisan megah Toraja yang wajib dikunjungi. 


Nikmati pengalaman tak terlupakan di desa yang penuh dengan sejarah dan budaya ini.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll