24 C
id

Pahlawan Wanita Tanah Rencong Bukan Hanya dari Pesisir Aceh: Inilah Inen Mayak Teri, Pejuang Wanita Pemberani dari Gayo yang Tersembunyi dari Sejarah

Inen Mayak Teri, Pahlawan Tanah Rencong, Pahlawan Gayo
Gambar ilustrasi/



AchehNetwork.com - Ketika membicarakan pahlawan wanita dari Tanah Rencong, nama-nama seperti Cut Nyak Dhien, Pocut Meurah Intan dan Cut Meutia mungkin yang pertama kali terlintas di benak kita. 


Namun, sejarah Aceh tidak hanya dihiasi oleh keberanian para wanita dari suku Aceh saja. 


Dari Tanah Gayo, muncullah seorang tokoh yang keberaniannya mengguncang nyali penjajah Belanda—Inen Mayak Teri.

Inen Mayak Teri, seorang pejuang wanita dari Gayo, bukan hanya simbol keberanian tetapi juga representasi kegigihan melawan ketidakadilan. 

Dengan semangat juang yang tak kenal takut, ia berdiri tegak menghadapi kekejaman dan penindasan yang dilakukan oleh penjajah Belanda. 

Keberanian Inen Mayak Teri tak hanya menginspirasi kaumnya, tetapi juga membuat namanya ditakuti oleh Belanda.


Tanpa mengenal takut, ia berjuang di hutan Serbejadi Lokop demi mempertahankan marwah Islam dan martabat Gayo. 

Dilansir Creator AN dari LintasGayo, Menurut adat-istiadat Gayo, seorang wanita yang baru menikah diberi sebutan "Inen Mayak," dan mungkin nama aslinya adalah Teri atau Tri, sehingga ia dikenal sebagai Inen Mayak Teri.

Lahir di kampung Bunin, Serbejadi Lokop, dari keluarga sederhana, Inen Mayak Teri tidak pernah mengejar kemewahan atau kekuasaan. 

Yang ia perjuangkan adalah prinsip dan kebenaran yang tidak bisa dibeli dengan harta atau jabatan. 

Ia adalah simbol wanita pejuang Gayo yang menentang hegemoni Belanda yang ingin menguasai tanah airnya, Gayo. 

Berbeda dengan Datu Beru yang berjuang melalui diplomasi, Inen Mayak Teri memilih jalur perang.

Inen Mayak Teri percaya bahwa perubahan tidak bisa dicapai hanya dengan berdiskusi atau berdebat, melainkan harus dengan kerja keras dan perjuangan tanpa henti. 

Ia mengangkat senjata melawan Belanda di pantai timur Aceh, jauh sebelum Cut Nyak Dhien memulai perjuangannya. 

Keberanian Inen Mayak Teri bahkan membuat pasukan Belanda kagum dan ragu untuk berhadapan dengannya di medan perang.

Patriotisme dan keberanian Inen Mayak Teri adalah teladan bagi generasi muda Gayo hari ini. 

Ia menunjukkan bahwa untuk melawan ketidakadilan dan penindasan, kita harus memiliki empat unsur penting:


1. Berani


 Keberanian adalah kunci perubahan. Tanpa keberanian, tidak ada yang bisa dicapai. 

Semangat keberanian Inen Mayak Teri harus dicontoh oleh kaum muda Gayo dalam menghadapi tantangan sehari-hari.


2. Pantang Menyerah

   
Sikap pantang menyerah adalah simbol tawakkal kepada Allah SWT. 

Inen Mayak Teri tidak pernah menyerah, bahkan di bawah desingan peluru dan kilatan pedang. 

Generasi muda Gayo harus mengadopsi semangat ini dalam mendidik anak-anak mereka dan melawan kebodohan serta kemalasan.


3. Tidak Kenal Lelah

   
Perjuangan Inen Mayak Teri tidak pernah berhenti sampai tujuannya tercapai. 

Kaum muda Gayo juga harus memiliki semangat yang sama dalam mengejar pendidikan, bekerja, dan membangun masa depan.

4. Tanpa Pamrih


Inen Mayak Teri berjuang tanpa mengharapkan imbalan. Ia meninggalkan keluarga dan harta demi keadilan. 

Generasi muda Gayo harus meneladani sikap ini dalam membantu sesama dan membangun masyarakat yang adil dan bermartabat.


Inen Mayak Teri akhirnya ditembak oleh pasukan Belanda pada hari Jumat, November 1899, dalam perlawanan terakhirnya. 

Pengorbanannya adalah warisan yang harus dihargai dan dijaga oleh generasi penerus. 

Meskipun dia telah tiada, semangat dan perjuangannya akan terus hidup di hati sanubari generasi muda Gayo.

Wahai Inen Mayak Teri, meski engkau tidak lagi bersama kami, semangat juangmu akan selalu hidup. 

Kami akan melanjutkan perjuanganmu, dan semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagimu di sisi-Nya. Amiin.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya