24 C
id

Sejarah Upaya dan Usaha Kesultanan Aceh Membebaskan Wilayah Malaka dari Penjajahan Portugis

Kesultanan Aceh, Kesultanan Malaka
Peta wilayah Kesultanan Aceh dan wilayah perlindungannya



AchehNetwork.com - Pada masa Imperium, Selat Malaka yang terletak di sebelah timur Sumatera berkembang menjadi jalur lalu lintas laut utama antara Laut India dan Cina. 

Salah satu kerajaan besar yang berdiri di kawasan ini adalah Samudra Pasai. 

Terletak di pintu masuk jalur perdagangan di wilayah utara, Samudra Pasai tumbuh menjadi penguasa imperium. 

Puncaknya terjadi ketika Sultan Malik Az-Zahir menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. 

Pengaruh Samudra Pasai ini juga melatarbelakangi tumbuhnya kesultanan-kesultanan baru di kawasan pesisir Sumatra, dengan Kesultanan Malaka menjadi yang terbesar.


Kebangkitan dan Kejayaan Kesultanan Malaka


Kesultanan Malaka, dengan letak strategis di ujung lintasan perairan, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1445-1459). 

Kesultanan ini berhasil menjadikan wilayahnya sebagai bandar perniagaan utama untuk rempah-rempah dari Maluku menuju perdagangan internasional ke Cina, India, Arab, dan Eropa. 

Aktivitas perdagangan yang tinggi ini bahkan mengungguli bandar-bandar Pasai, yang sebelumnya banyak terlibat dalam peperangan dengan Majapahit.

Dengan meningkatnya pendapatan dari perdagangan, kesejahteraan rakyat Malaka pun meningkat. 

Raja dapat membangun armada yang kuat, dan hingga penghujung abad ke-15, Kesultanan Malaka telah menguasai wilayah Manjong, Selangor, Batu Pahat, Kampar, dan Indragiri (sekarang Malaysia dan Riau), mengapit kedua sisi jalur maritim internasional. 

Kejayaan ini berlanjut hingga awal abad XVI, ketika Portugis berhasil mengambil alih kekuasaan di Malaka.



Penaklukan Malaka oleh Portugis


Setelah berhasil menduduki Goa pada tahun 1510, Portugis semakin percaya diri untuk memperluas pengaruhnya ke Timur. 

Alfonso d’Albuquerque mendengar bahwa Malaka adalah bandar dagang yang ramai dan tergerak untuk menguasainya. 

Namun, keberadaan Samudra Pasai yang kuat sempat menghalangi niatnya. Samudra Pasai, sebagai kerajaan Islam besar, dianggap sebagai batu sandungan. 

Namun, ketika mengetahui Pasai tengah dilanda perang saudara, Portugis dengan mudah menembus Selat Malaka dan menguasai wilayah Kesultanan Malaka pada tahun 1511. 

Sultan Malaka, Mahmud Syah, terpaksa meninggalkan wilayah kerajaan dan mendirikan Kesultanan Johor.


Reaksi dan Perlawanan Kerajaan-Kerajaan Islam


Kejatuhan dan penguasaan Malaka oleh Portugis dianggap sebagai upaya penguasaan perdagangan internasional oleh Barat dan melemahnya kekuasaan Islam atas jalur dakwah utama. 

Penguasaan Portugis selalu dibarengi dengan penyebaran agama Kristen dan permusuhan terhadap bangsa Moor (Muslim). 

Berbagai kerajaan Islam, termasuk Aceh Darussalam, selalu berusaha mengusir Portugis dari Malaka.


Kebangkitan Kesultanan Aceh Darussalam


Setelah runtuhnya Samudra Pasai, Sultan Ali Mughayat Syah mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1514. 

Perebutan Malaka dari Portugis menjadi kebijakan internasional utamanya. 

Sultan Ali Mughayat berhasil menarik para pedagang internasional ke pelabuhan-pelabuhan Aceh Darussalam, sehingga Portugis tidak bisa menguasai perdagangan di perairan Malaka secara mutlak.

Portugis, menyadari ancaman Aceh, mulai menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya seperti Daya, Pedir, dan Pasai. 

Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak baik secara politik maupun ekonomi. 

Pada tahun 1520, Aceh mulai melakukan ekspansi serius dengan menaklukkan wilayah-wilayah seperti Daya, Pasai, Aru, Perlak, Tamiang, dan Lamuri, mengusir keberadaan Portugis di wilayah tersebut.



Perlawanan Berkelanjutan Terhadap Portugis


Pada tahun 1537, Sultan Ali Riayat Syah AI Qahhar naik tahta. Dua tahun kemudian, kerajaan Aru, dengan hasutan Portugis, mencoba memisahkan diri. 

Aceh mengirim ekspedisi perang untuk mengatasi perlawanan ini, namun pertempuran dengan Aru dan bantuan dari Johor membuat Aceh mundur. 

Ini menjadi awal pertemuan Aceh dan Johor.


Pada tahun 1547, Aceh melancarkan serangan besar untuk mengusir Portugis dari Malaka. 

Meski sempat mendesak Portugis, bantuan dari Johor, Perak, dan Pahang membuat Aceh mundur. 

Pada tahun 1568, Aceh kembali melancarkan serangan, kali ini dengan bantuan dari Turki, namun belum berhasil mengalahkan Portugis.



Era Sultan Iskandar Muda dan Strategi Baru


Sultan Iskandar Muda, yang naik tahta kemudian, menempuh strategi berbeda. 

Ia menata ulang armada perang dan menaklukkan wilayah-wilayah yang bersinggungan dengan Portugis untuk membatasi pergerakan mereka. 

Kesultanan Aceh Darussalam berhasil menaklukkan negeri-negeri Melayu seperti Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias. 

Aceh sering kali berhasil menenggelamkan kapal-kapal Portugis yang lengah di perairan Malaka, meskipun patroli Portugis tetap berlanjut.


Akhir dari Perjuangan Melawan Portugis


Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, Aceh belum sepenuhnya berhasil mengusir Portugis dari Malaka. 

Bentrokan kecil terus terjadi hingga awal abad ke-17. 

Meskipun tidak berhasil sepenuhnya mengusir Portugis, Aceh tetap menjadi kekuatan penting di wilayah perairan Malaka, menunjukkan keberanian dan ketangguhan mereka dalam mempertahankan kedaulatan dan jalur perdagangan mereka.***


Sumber: islamtoday

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll