24 C
id

Tradisi Unik Suku Karen: Makin Panjang Leher Makin Cantik, Keindahan dalam Simbol Cincin Leher Wanita

Suku karen, suku unik, myanmar, thailand
Wanita suku Karen/



AchehNetwork.com - Di berbagai penjuru 
dunia, tradisi dan kebiasaan lokal mempengaruhi cara hidup dan identitas masyarakat. 

Di Indonesia, terdapat beragam tradisi yang berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya. 

Perbedaan ini kadang membuat seseorang merasa canggung atau pemalu saat berinteraksi dengan orang dari budaya lain. 

Namun, setiap pemilik tradisi sangat menghargai dan menikmati warisan budaya mereka.



Suku Karen: Pemilik Tradisi Panjang Leher


Salah satu tradisi yang menarik perhatian dunia adalah milik Suku Karen di Thailand. 

Suku yang juga dikenal sebagai Kayin ini tinggal di provinsi pedalaman Mae Hong Son. 

Mereka dikenal dengan tradisi uniknya yang melibatkan penggunaan cincin kawat tembaga yang melingkari leher para wanita, memanjangkan leher mereka seiring waktu.


Asal Usul dan Evolusi Tradisi Cincin Leher


Awalnya, tradisi memanjangkan leher ini bertujuan untuk melindungi wanita dari serangan harimau. 

Pada masa lampau, beberapa wanita Suku Karen menjadi korban serangan harimau, sehingga cincin ini dipakai sebagai pelindung. 

Seiring waktu, tradisi ini berkembang dan menjadi simbol kecantikan. Di mata masyarakat Karen, semakin panjang leher seorang wanita, semakin cantik dan menarik ia dianggap.


Simbol Kecantikan: Makna di Balik Leher Panjang


Cincin di leher wanita Karen hanya dilepas pada saat-saat tertentu, seperti ketika menikah, melahirkan, atau meninggal dunia. 

Pemandangan tumpukan cincin besar di leher wanita Karen adalah hal biasa, dan tradisi ini dimulai sejak usia dini. 

Anak perempuan Suku Karen mulai memakai cincin kuningan di leher mereka agar lehernya bisa tumbuh panjang dengan sempurna.



Ritual Hidup: Penggunaan Cincin dari Kecil Hingga Dewasa


Seiring bertambahnya usia, jumlah cincin di leher wanita Karen pun bertambah, menciptakan efek visual yang memanjangkan leher mereka. 

Mereka bahkan tidak pernah melepaskan cincin-cincin ini, bahkan saat beraktivitas sehari-hari.

Kemiripan dengan Tradisi di Indonesia: Dayak Sungkung

Menariknya, ada kemiripan antara Suku Karen di Thailand dengan suku-suku tertentu di Indonesia. 

Sebagai contoh, pakaian adat Dayak Sungkung memiliki kesamaan dengan Suku Karen. 

Wanita Dayak Sungkung mengenakan sulang, yaitu gelang tembaga yang diikatkan di kaki dan tangan, serta memakai mutiara sebagai perhiasan di leher mereka.


Perubahan dalam Tradisi: Hanya untuk Generasi Tertentu


Meskipun demikian, tidak semua wanita Karen saat ini diharuskan memakai cincin leher. 

Tradisi ini sekarang hanya dijalani oleh anak perempuan yang lahir pada titik waktu tertentu dalam kalender tradisional mereka.


Tradisi Suku Karen merupakan contoh bagaimana warisan budaya dan kepercayaan lokal dapat membentuk identitas suatu komunitas, sekaligus menarik perhatian dunia luar dengan keunikan dan keindahannya.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya

Iklan: Lanjut Scroll