24 C
id

Cerita Ahli Waris Tentang Kisah Rumoh Geudong Hingga Dijadikan Pos TNI Masa DOM

Rumoh Geudong
Cut Anita bin Teuku Muhammad Daud (70 (Foto: serambinews)
PIDIE - Rumoh Geudong, sebuah bangunan bersejarah yang terletak di Gampong Bili Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, kini tengah menjadi perbincangan publik. Hal ini disebabkan oleh kunjungan yang akan dilakukan oleh Presiden RI, Joko Widodo, pada Selasa (27/6/2023) mendatang.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk memulai penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di masa lalu di Aceh secara non-yudisial.

Rumoh Geudong sendiri merupakan peninggalan Ulee Balang yang digunakan sebagai kantor raja setingkat pemerintah kabupaten, dan bangunannya didirikan pada tahun 1818.

"Rumoh Geudong digunakan sebagai kantor kerajaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh keturunan Raja Lamkuta," kata Cut Anita bin Teuku Muhammad Daud (70) yang dilansir dari Serambinews.com, Sabtu (24/6/2023) di Gampong Meuje Glumpang Minyeuk, Pidie.


Ia menjelaskan bahwa awalnya Rumoh Geudong digunakan oleh Teuku Ampon Raja Lamkuta sebagai pewaris. Namun, Teuku Ampon Raja Lamkuta meninggal setelah ditembak oleh Belanda di Rumoh Geudong ketika usianya baru sekitar 13 tahun.

Cut Anita menjelaskan bahwa saat itu Belanda menggunakan tipu muslihat dengan berkolusi dengan orang dalam yang masuk dari arah belakang Rumoh Geudong, karena mereka ingin menghabisi keturunan Raja Lamkuta.

"Saat Belanda datang, Teuku Ampon Raja Lamkuta menyambut mereka tanpa mengetahui bahwa mereka bermaksud untuk membunuhnya. Maka, rumah itu awalnya menjadi tempat keajaiban," jelas Cut Anita.

Setelah itu, Rumoh Geudong ditempati oleh Teuku Cut Ahmad, yang kemudian meninggal dalam peperangan, dan digantikan oleh Teuku Keujruen Rahmad. Kemudian, Teuku Keujruen Rahmad memiliki dua anak, yaitu Teuku Keujruen Husen dan Teuku Keujruen Gade.

Teuku Keujruen Husen adalah anak tertua dari Teuku Keujuen Rahmad. Terakhir, Rumoh Geudong sebagai kantor kerajaan diisi oleh Teuku Keujruen Uma, karena pada saat itu terjadi perang cumbok dan Indonesia telah merdeka sehingga tak ada lagi kerajaan.

"Saya sendiri merupakan keturunan dari Teuku Keujruen Gade. Ayah saya bernama Teuku Jafar Usman. Rumah ini dinamakan Rumoh Geudong karena awalnya tidak memiliki dinding dan digunakan sebagai kantor kerajaan," kata Cut Anita.

Ia menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka, Rumoh Geudong ditempati oleh Teuku Muhammad, anak dari Teuku Keujruen Uma.

Namun, Teuku Muhammad tidak mampu merawat Rumoh Geudong sehingga ia pergi ke Medan untuk bertemu dengan Ir Teuku Arrahman yang bekerja di PTPN. Ir Teuku Arrahman juga merupakan keturunan dari Teuku Keujruen Gade.

"Pada saat itu, Teuku Muhammad meminta kepada Ir Teuku Arrahman, yang merupakan sepupunya, untuk membeli tanah di Rumoh Geudong.

Namun, rumahnya tidak boleh dijual. Sehingga hasil penjualan tanah di Rumoh Geudong dibagi untuk seluruh keluarga," jelasnya.

Setelah Ir Teuku Arrahman membelinya, Rumoh Geudong dibangun kembali tanpa mengubah bentuk dasarnya pada tahun 1970.

Atap Rumoh Geudong diganti dengan seng. Awalnya, Ir Teuku Arrahman memiliki rencana untuk membangun pesantren yang bersebelahan dengan Rumoh Geudong, namun rencana tersebut tidak terwujud.

Cut Anita mengatakan bahwa sekitar tahun 1980, Rumoh Geudong kosong dan dijaga oleh salah seorang warga di Gampong Bili Aron, Kecamatan Glumpang Tiga.

Ia sendiri tidak mengetahui saat Rumoh Geudong digunakan sebagai pos TNI, karena pada waktu itu dirinya dan keluarganya masih berada di Langsa dan Kuala Simpang.

Ketika ia mengunjungi Rumoh Geudong, seorang tentara atau anggota TNI pernah bercerita bahwa di dalamnya terdapat seekor harimau yang sering muncul.

Pada suatu kesempatan, harimau tersebut ditembak, namun peluru tersebut mengenai seorang rekannya. Harimau tersebut menjadi penjaga Rumoh Geudong.

"Jadi, tentara yang melihat sendiri harimau tersebut menceritakan kepada saya saat itu," kata Cut Anita.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya