24 C
id

Serangan Israel Terus Berlanjut, Rumah Sakit Al-Shifa Terkepung Tanpa Ampun

 

Gaza
Serangan Israel Terus Berlanjut, Rumah Sakit Al-Shifa Terkepung Tanpa Ampun (Foto: AFP)


Gaza City, AchehNetwork.com - Keadaan darurat mencengkeram Rumah Sakit Al-Shifa, fasilitas medis terbesar di Gaza, setelah serangan brutal oleh tentara Israel yang berlanjut hingga tadi malam. 

Para dokter yang berada di dalamnya diliputi kecemasan luar biasa akan keselamatan mereka sementara tentara, tank, dan drone terus mengepung ratusan warga Palestina yang terluka dan terlantar yang mencari perlindungan di dalam rumah sakit.


Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Muhammad Abu Salmiya, menggambarkan situasi yang mencekam, "Kompleks rumah sakit ditutup, dan bangunan rumah sakit menjadi sasaran. Setiap orang yang bergerak di dalam kompleks menjadi sasaran. Pasukan pendudukan Israel berada di luar, mencegah siapa pun untuk bergerak."


Menurutnya, Rumah Sakit Al-Shifa benar-benar terputus dari seluruh dunia, dengan harapan bantuan dan respons yang belum datang.

"Kami hanya berjarak beberapa menit dari kematian yang akan segera terjadi. Kami terdampar, kami mengirim banyak SOS (tanda bahaya) ke seluruh dunia – tidak ada tanggapan, tidak ada tanggapan," tegas Salmiya.


Pertempuran sengit terus berlangsung di luar Al-Shifa selama 24 jam terakhir, dengan tentara Israel mengepung tempat tersebut yang mereka klaim sebagai "pusat komando Hamas."


"Satu keluarga mencoba meninggalkan kompleks tersebut, dan saat mereka meninggalkan gerbang luar, mereka semua terbunuh," ungkap Mustafa Sarsour, jurnalis yang masih berada di dalam Al-Shifa.


Penembak jitu Israel juga mengincar siapa pun yang bergerak di dalam kompleks tersebut.

Jet militer bahkan dikabarkan menghujani bom fosfor putih yang dilarang secara internasional di sekitar Al-Shifa pada malam sebelumnya.


Jumlah korban di dalam rumah sakit begitu besar, sehingga para penyintas dilaporkan terpaksa menggali kuburan dengan tangan mereka sendiri di dalam kompleks tersebut.

"Kami tidak memiliki peralatan atau mesin untuk menggali kuburan. Kita harus menguburkan jenazah-jenazah ini, kalau tidak, epidemi akan merebak. Mayat-mayat ini tergeletak di jalan selama berhari-hari," kata wakil menteri kesehatan di Gaza, Monir al-Bashr.


Pusat kesehatan lainnya, seperti Rumah Sakit Indonesia, Rumah Sakit Al-Quds, dan rumah sakit anak Al-Rantisi dan Nasser, juga dilaporkan terkepung di tengah serangan yang intens.

Meskipun Tel Aviv menyatakan bahwa "pusat komando" Hamas terletak di bawah Rumah Sakit Al-Shifa, laporan Human Rights Watch (HRW) dan beberapa profesional kesehatan barat yang telah bekerja di Gaza selama bertahun-tahun membantah klaim tersebut.


Sementara itu, kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan lebih dari 250 serangan terhadap pusat kesehatan di Gaza sejak dimulainya perang.

Dengan lebih dari 11.000 warga Palestina tewas, termasuk lebih dari 4.000 anak-anak, konflik ini semakin mencuat sebagai tragedi kemanusiaan yang membutuhkan perhatian mendalam dari komunitas internasional.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya