24 C
id

Fakta Ilmiah Badai Memicu Banjir Parah di Dubai: Dampak Perubahan Iklim

Banjir Arab
(Tangkapan layar video viral)


AchehNetwork.com - Dubai, Uni Emirat Arab, baru saja dilanda banjir parah pada Selasa (16/4), yang secara luas dikaitkan dengan badai kuat yang melanda Timur Tengah, memberikan sinyal jelas tentang tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Curah hujan terbesar sepanjang tahun ini menghantam Uni Emirat Arab dan Oman, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat: air menggenangi jalan-jalan, rumah-rumah, bahkan bandara, dengan gambar dan video viral tersebar luas di media sosial.

Badai awalnya menerjang Oman pada Minggu (14/4) sebelum melanda Uni Emirat Arab pada Selasa (16/4), mengakibatkan pemadaman listrik dan gangguan besar pada penerbangan karena landasan pacu yang terendam.

Rekor curah hujan tercatat di Al Ain, Uni Emirat Arab, dengan angka mencapai 254 milimeter dalam waktu 24 jam, menjadi yang tertinggi sejak catatan dimulai pada tahun 1949. 

Fenomena ini menjadi perhatian karena wilayah ini umumnya dikenal dengan iklim gurun yang kering, dengan suhu udara yang bisa mencapai lebih dari 50 derajat Celsius di musim panas.

Menurut Reuters, kedua negara tersebut, Uni Emirat Arab dan Oman, memiliki sistem drainase yang kurang memadai untuk menangani hujan deras, yang menjadi penyebab umum terjadinya genangan air di jalan-jalan.

Esraa Alnaqbi, seorang prakirawan senior di Pusat Meteorologi Nasional Uni Emirat Arab, menjelaskan bahwa kombinasi dari sistem tekanan rendah di bagian atas atmosfer dan tekanan rendah di permukaan menciptakan kondisi ideal bagi badai petir yang dahsyat. 

Esraa menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang "tidak terduga" pada bulan April, karena perubahan musim yang cepat.

Perubahan iklim juga diakui sebagai salah satu faktor yang memperparah situasi. Para ilmuwan menghubungkan peningkatan suhu global dengan cuaca ekstrem, termasuk curah hujan yang tinggi seperti yang terjadi di Uni Emirat Arab dan Oman.

Mark Howden, Direktur Institut Solusi Iklim, Energi & Bencana di Universitas Nasional Australia, menjelaskan bahwa pemanasan global telah meningkatkan suhu air di sekitar Dubai secara signifikan, meningkatkan potensi penguapan dan kapasitas atmosfer untuk menampung air, yang kemudian berkontribusi pada curah hujan yang lebih tinggi.

Gabi Hegerl, seorang ahli iklim di University of Edinburgh, memperingatkan bahwa curah hujan ekstrem kemungkinan akan menjadi semakin buruk di banyak tempat akibat perubahan iklim.

Dalam konteks ini, pertanyaan viral muncul apakah penyemaian awan, sebuah teknik yang sering digunakan di Uni Emirat Arab untuk meningkatkan curah hujan, dapat menyebabkan hujan lebat. 

Badan meteorologi Uni Emirat Arab menyatakan bahwa tidak ada operasi penyemaian awan sebelum badai terjadi.

Friederike Otto, seorang dosen senior ilmu iklim di Imperial College London, menegaskan bahwa meskipun curah hujan lebih deras di seluruh dunia akibat pemanasan iklim, menyimpulkan bahwa penyemaian awan sebagai penyebab langsung dari banjir adalah keliru. 

Menurutnya, proses ini hanya dapat meningkatkan curah hujan di tempat-tempat yang sudah memiliki kelembapan udara yang cukup.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya