24 C
id

Pulau Bungin, Pulau Pemukiman Terpadat dengan Pesona Uniknya

Pulau Bungin
Pulau Bungin/ist



AchehNetwork.com - Pulau Bungin, sebuah permata tersembunyi di lepas Laut Bali, menjadi destinasi yang tak biasa di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. 

Terletak di Kabupaten Sumbawa, pulau ini secara administratif merupakan sebuah desa dengan luas hanya 8,5 hektare, namun dihuni oleh lebih dari 5.000 penduduk (BPS 2014). 

Mayoritas penduduknya adalah Suku Bajo, yang telah mengakar di sini selama dua abad terakhir.

Dikenal sebagai pemukiman terpadat di dunia, Pulau Bungin tidak menyediakan pemandangan pantai berpasir putih atau hamparan pohon kelapa yang menggoda. 

Alih-alih, kedatangan para wisatawan disambut oleh jajaran rumah padat yang saling berhimpit, menggambarkan kehidupan komunal yang unik.

Kepadatan penduduk telah mengubah pesisir pulau ini menjadi kawasan hunian, tanpa jeda yang mengakibatkan absennya garis pantai di pulau tersebut. 

Namun, justru keunikan ini yang menjadikan Pulau Bungin sebagai destinasi wisata yang menarik. 

Berbeda dengan gambaran umum destinasi wisata di sekitar Sumbawa yang identik dengan keindahan laut dan pasir putih, Bungin menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.

Meskipun tanpa pantai, Pulau Bungin terkenal akan kelezatan kuliner seafood khas Desa Bungin. 

Restoran apung menyajikan hidangan laut segar, yang bisa dipilih langsung dari kolam penangkaran dengan harga yang terjangkau.

Tradisi kelautan dan keahlian menangkap ikan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penduduk pulau ini, terutama suku Bajo yang terampil sebagai pelaut ulung. 

Anak-anak di Desa Bungin telah terbiasa menjelajahi lautan dan membantu orang tua mereka dalam mencari rezeki di laut.

Pulau ini dulunya hanya gundukan pasir putih sebelum dihuni oleh Suku Bajo. 

Mereka membangun rumah-rumah mereka di atas tumpukan terumbu karang mati, memanfaatkannya sebagai pondasi yang kokoh. 

Penduduk melakukan reklamasi untuk memperluas lahan dengan menguruk tanah dan membangun rumah panggung di atas gundukan karang tersebut.

Keunikan lain dari Pulau Bungin adalah adat ritual Toyah, sebuah upacara untuk memperkenalkan bayi baru lahir pada dunia bahari. 

Ritual ini memainkan peran penting dalam mengajarkan keterampilan menyelam dan menangkap ikan kepada generasi muda, serta menghubungkan mereka dengan laut yang menjadi sumber kehidupan.

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk juga membuka keramba ikan atau lobster untuk menarik minat wisatawan. 

Wisatawan dapat menikmati pengalaman memancing hasil laut sendiri dan menikmatinya di restoran apung lokal.

Jangan lewatkan momen indah matahari terbenam di dermaga Pulau Bungin, meskipun tanpa pasir putih dan pohon kelapa, kecantikan senja di pulau ini tetap memukau.

Dengan keramahan penduduknya, Pulau Bungin menyambut wisatawan dengan hangat. 

Jadi, tak ada alasan untuk tidak menyempatkan diri mengunjungi pulau ini saat berada di Sumbawa.

Akses ke pulau ini dapat dilakukan melalui dua dermaga di bagian selatan dan barat, menjadi pintu gerbang bagi para petualang yang ingin menjelajahi keunikan Pulau Bungin. 

Jika berangkat dari Lombok, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa, memakan waktu sekitar 6-8 jam. Alternatif lainnya adalah melalui jalan darat dari Pulau Sumbawa.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya