24 C
id

Alasan Masjid Al Aqsa Jadi Rebutan: Simbol Konflik dan Keharmonisan di Kota Suci Yerusalem

Masjid Al Aqsa
Masjid Al Aqsa/Foto: pixabay


AchehNetwork.com - Masjid Al Aqsa, sebuah peninggalan sejarah yang tak ternilai di tengah Yerusalem, telah menjadi landasan sengketa yang tak berujung hingga saat ini. 


Bangunan ini bukan sekadar sebuah tempat ibadah, tetapi menjadi saksi bisu dari panjangnya sejarah, memengaruhi dinamika politik dan sosial di Timur Tengah.


Sebagai bagian tak terpisahkan dari Kota Tua Yerusalem, Masjid Al Aqsa memegang makna yang mendalam bagi tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. 


Ini tidak hanya menjadi tempat suci bagi umat Islam, tetapi juga memiliki kepentingan penting bagi umat Kristen dan Yahudi.

Bagi umat Islam, Masjid Al Aqsa berdiri sebagai salah satu dari tiga tempat suci terpenting, setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. 

Sejarahnya sebagai kiblat pertama bagi umat Muslim sebelum arah ibadah dialihkan ke Makkah menambah nilai spiritualnya. 

Diyakini sebagai masjid kedua yang dibangun di muka bumi, Masjid Al Aqsa juga menjadi saksi peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Bagi umat Kristen, situs ini dianggap sebagai tempat penting di mana Ibrahim mengalami ujian besar akan menyembelih putranya, Ismail. 

Peristiwa ini memiliki makna mendalam dalam kepercayaan Kristen.

Umat Yahudi juga merayakan kekhususan Masjid Al Aqsa, memandangnya sebagai Baitulmaqdis atau rumah yang suci. 

Dalam keyakinan mereka, hubungan situs ini dengan sejarah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman menjadikannya tempat yang sangat berarti. 

Nabi Sulaiman diyakini membangun Bait Suci di tempat ini, yang kemudian menjadi pusat ibadah bagi umat Yahudi.

Sejarah pembangunan Masjid Al Aqsa merupakan inti dari kompleksitasnya. Dalam tradisi Islam, masjid ini telah ada sejak zaman Rasulullah, meskipun bangunan yang berdiri sekarang merupakan hasil perbaikan dari sejarah bencana yang pernah menimpanya. 


Bagi umat Kristen, hubungannya dengan Bait Suci yang didirikan oleh Nabi Sulaiman menambah kedalaman maknanya. 

Sedangkan dalam keyakinan Yahudi, situs ini memiliki kaitan erat dengan Bait Suci dan sejarah agama Yahudi di wilayah tersebut.

Namun, sejarah panjang Masjid Al Aqsa juga dipenuhi dengan konflik. 

Pada tahun 637 M, umat Islam mengambil alih Yerusalem dari tangan Romawi Timur, yang mengawali periode perebutan atas situs ini. 

Perang Salib Pertama pada tahun 1099 menjadi titik balik, ketika tentara Salib mengubah Masjid Al Aqsa menjadi istana, menandai dominasi umat Kristen atas situs tersebut. 

Konflik berlanjut hingga Perang Salib Kedua, di mana kaum Muslim berhasil merebut kembali Masjid Al Aqsa.

Namun, kedatangan bangsa Israel ke Palestina menjadi titik awal konflik yang tak berujung antara Israel dan Palestina, dengan Masjid Al Aqsa menjadi salah satu titik sensitif. 

Klaim sejarah dan identitas dari kedua belah pihak, bersama dengan kepentingan politik dan agama yang kompleks, terus memanaskan situasi.

Dalam konteks konflik modern, Masjid Al Aqsa terus menjadi fokus ketegangan dan perdebatan. 

Keberadaannya tidak hanya menimbulkan tantangan politik, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendalam tentang identitas, sejarah, dan masa depan Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama besar dunia. 

Masjid Al Aqsa, sebagai simbol sejarah yang kaya dan identitas agama, terus menjadi pusat dalam dinamika politik dan sosial di Yerusalem.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya