24 C
id

Bangsa Kurdi: Kurdistan, Bangsa Besar Tanpa Negara Sendiri, Namun Perjuangan Tanpa Henti untuk Pengakuan dan Kebebasan

Kurdistan
Kurdistan, Bangsa Besar Tanpa Negara Sendiri, Namun Perjuangan Tanpa Henti untuk Pengakuan dan Kebebasan/



AchehNetwork.com - Bangsa Kurdi adalah sebuah entitas etnis yang unik, yang meski tanpa negara, tanpa bendera yang berkibar di Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan tanpa kursi di meja diplomasi internasional, tetap teguh memperjuangkan eksistensinya. 


Dalam ketiadaan pengakuan resmi dari dunia internasional, bangsa Kurdi terus menunjukkan ketabahan yang luar biasa.

Sejarah bangsa Kurdi, yang dilansir dari kanal YouTube Doczon pada 30 Mei 2024, adalah sebuah kisah perjuangan tanpa akhir. 


Selama berabad-abad, mereka telah melawan batas-batas geopolitik yang memisahkan mereka di wilayah-wilayah yang kini menjadi bagian dari Irak, Turki, Iran, dan Suriah.

Bangsa Kurdi tersebar di empat negara utama di Timur Tengah: di wilayah Kurdistan Selatan di Irak, terdapat sekitar 6 juta orang Kurdi; di Kurdistan Utara di Turki, sekitar 16 juta orang; di Kurdistan Barat di Iran, sekitar 8 juta orang; dan di Suriah serta Armenia, yang disebut sebagai Kurdistan Barat, sekitar 2,5 juta orang. 

Meski terpisah oleh garis-garis batas negara, bangsa Kurdi tetap menjaga warisan budaya dan identitas etnis mereka dengan teguh.

Wilayah Kurdistan telah dihuni oleh bangsa Kurdi sejak sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. 

Mereka adalah keturunan bangsa Arya yang berkelana dari pegunungan menuju daratan subur Mesopotamia. 

Sebagai masyarakat nomaden, bangsa Kurdi mengembangkan peternakan dan pertanian, menjaga tradisi dan kebudayaan yang telah berlangsung ribuan tahun. 

Kebudayaan Kurdi yang kaya dan beragam tercermin dalam puisi, musik, dan seni kerajinan tangan yang khas.


Suku-suku Kurdi tradisional dipimpin oleh Syekh atau Aga yang sangat dihormati, dan kepemimpinan karismatik ini masih terjaga hingga hari ini. 

Mayoritas orang Kurdi memeluk Islam Sunni, meski ada juga yang mengikuti Syiah, terutama di Iran, serta beberapa yang masih mempertahankan kepercayaan Majusi dan Kristen.


Sayangnya, hingga saat ini bangsa Kurdi belum memiliki negara mereka sendiri. 

Mereka tetap menjadi minoritas di negara-negara tempat mereka tinggal dan sering kali digunakan sebagai pion dalam permainan politik internasional. 

Pada akhir abad ke-19, kesadaran akan nasib dan hak untuk merdeka mulai menyala, memicu pemberontakan yang signifikan. 

Salah satu pemberontakan besar dipimpin oleh Syekh Ubaidillah pada tahun 1880 di provinsi Hakkari.


Pada tahun 1919, di tengah kekacauan dunia pasca Perang Dunia I, Syekh Mahmud memproklamasikan pembebasan dari kolonial Inggris di Sulaimani. 

Meski pemberontakan ini akhirnya ditindas, peristiwa ini menandai awal dari perjuangan panjang bangsa Kurdi untuk kemerdekaan. 

Harapan baru muncul ketika Inggris menjanjikan otonomi bagi Kurdi dalam Perjanjian Sèvres pada tahun 1920, namun janji ini tidak pernah terpenuhi.


Pada tahun 1942, di Iran, bangsa Kurdi membentuk partai politik yang menjadi cikal bakal Partai Demokratik Kurdi Iran. Pada tahun 1945, partai ini memproklamasikan berdirinya Republik Kurdistan dengan dukungan Uni Soviet. 

Namun, pemerintah Iran berhasil meredam pemberontakan ini, dan Republik Kurdistan hancur sebelum sempat berkembang. 

Meskipun berumur pendek, Republik Mahabad menjadi simbol perjuangan gigih bangsa Kurdi.


Revolusi Iran membawa harapan baru bagi bangsa Kurdi yang bergabung dengan barisan Khomeini. 

Mereka mengajukan tuntutan untuk otonomi, penghapusan diskriminasi pekerjaan, serta pembagian hasil minyak secara adil. 

Namun, tuntutan ini ditolak oleh rezim Khomeini. 

Meski begitu, semangat perjuangan bangsa Kurdi tidak pernah pudar.


Pada era modern, perjuangan bangsa Kurdi terus berlanjut di bawah bendera partai-partai politik dan kelompok militan seperti Peshmerga di Irak dan YPG di Suriah. 

Mereka berusaha mendapatkan otonomi lebih besar dan pengakuan internasional. 

Konflik-konflik di Timur Tengah sering kali memposisikan mereka di pusat permainan geopolitik global.


Konflik yang berlarut-larut tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi bangsa Kurdi tetapi juga memperkuat tekad mereka untuk merdeka. 

Mereka terus berjuang di berbagai front, baik melalui jalur diplomasi maupun perlawanan bersenjata. 

Keberhasilan sebagian wilayah Kurdi di Irak mendapatkan otonomi merupakan langkah kecil menuju cita-cita mereka.


Meski menghadapi banyak tantangan, bangsa Kurdi tetap optimis mengenai masa depan mereka. 

Mereka terus membangun identitas mereka melalui pendidikan, budaya, dan politik. 

Komunitas internasional diharapkan dapat lebih mendukung aspirasi mereka untuk mendapatkan pengakuan dan hak yang layak sebagai sebuah bangsa.


Perjalanan panjang bangsa Kurdi adalah cerita tentang keteguhan dan semangat yang tak pernah padam. 

Meski tanpa negara, bendera, dan pengakuan resmi, mereka tetap berdiri teguh sebagai bangsa yang besar dalam semangat. 

Perjuangan mereka untuk merdeka adalah simbol dari tekad dan harapan yang tidak pernah surut, sebuah perjalanan yang masih terus berlanjut hingga hari ini.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya