24 C
id

Kisah Perjuangan Aman Dimot, Pahlawan Yang Terlupakan Dari Tanah Gayo

Sejarah Aman Dimot
Aman Dimot bersman Rekan Pjuang [] photo via regional.kompas

ACHEH NETWORK.COM - Di Nanggroe Aceh, ada sejumlah nama yang telah tercatat pada lembaran negara yang menjadi pahlawan nasional. Sebutlah Cut Nyak Dhien, Keumalahayati, Panglima Polem, dan  sejumlah nama lain. Tetapi, masih terdapat tokoh berasal dataran tinggi Gayo yang diklaim layak mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Keberanian dan  kemampuannya pada perang gerilya melawan penjajah Belanda pada tahun 1940-an sangatlah tidak sama menggunakan kemampuan pahlawan lain yang telah gugur di medan perang. Mengapa demikian? Aman Dimot di bawah pimpinan Ilyas Leube berperang menggunakan cara yg unik, adalah menghadang tank serta truk pasukan Belanda.

Bukan hanya itu, beliau diklaim kebal dan  memiliki ilmu kanuragan karena tak tergores apabila disabet pedang ataupun tak mempan ditembus peluru.



Sejarah Perang Heroik

di tanggal 30 juli 1949, di sekitaran tanah Karo, Sumatera Utara, pasukan Bagura dan  Mujahidin asal Aceh Tengah mengintai dan  menunggu iring-iringan tank dan  25 truk Belanda. Pasukan berjumlah 45 orang itu memakai persenjataan senapan serta kelewang. Sesuai sejumlah sumber, pasukan Barisan Gurilla Rakyat (bagura) yang dipimpin Ilyas Leube beserta gerilyawan setempat menyerbu tank dan  truk tadi menggunakan membabi buta sehingga menghasilkan pasukan marsose kalang kabut.

Satu daril puluhan pasukan Bagura tersebut bernama Abu Bakar yang dijuluki dengan Pang Aman Dimot. Cocok menggunakan julukannya, Pang Aman Dimot dikenal pemberani  dan  tidak kenal takut Jika menghadapi Belanda. Bahkan, pemuda itu tidak gentar walaupun pada keadaan perang terbuka atau perang jarak dekat. Hal itu terbukti ketika pasukan tadi mulai lelah karena keterbatasan orang, persenjataan, dan  logistik. Ditambah lagi, saat bala donasi pasukan belanda semakin melemahkan perlawanan pejuang ketika itu, Aman Dimot berkeras buat permanen melakukan perlawanan.

Pilihan itu permanen diambil meski komandan Ilyas Leube telah memberi perintah kepada pasukan tadi buat mundur dan  meninggalkan medan perang. Aman Dimot, pemuda kelahiran Tenamak, kecamatan Linge, Aceh Tengah, ini bersikukuh menolak perintah Ilyas Leube. Dia memilih melanjutkan perang terbuka beserta 2 rekannya, yaitu pang Ali Rema serta pang Edem. Selesainya Ilyas Leube serta sisa  pasukan pulang, Aman Dimot beserta kedua rekannya itu berpura-pura mati  di kurang lebih mayat-mayat korban perang yg bergelimpangan. Waktu pasukan Belanda sedang memastikan para korban sudah meninggal, Aman Dimot beserta kawan-temannya bangkit serta menyerang pasukan Belanda itu menggunakan beringas. Banyak pada antara pasukan Belanda yangtewas  kala itu. Namun, Ali Rema dan  Edem pun tewas saat itu. Aman Dimot terus mengejar pasukan belanda menggunakan pedang, pasukan Belanda gundah sebab agresi asal persenjataan mereka tak mampu melukai, apalagi membunuh pang Aman Dimot. Tetapi, dampak kelelahan, Aman Dimot akhirnya ditangkap Belanda.


Pasukan marsose yang frustrasi karena tak mampu membunuh Aman Dimot, akhirnya memasukkan granat ke dalam mulut sang pejuang itu. Tidak mempan dengan itu, pasukan belanda pun menggilas tubuh pang Aman Dimot menggunakan tank. Maka itu, tanggal 30 juli 1949 gugurlah Aman Dimot di rajamerahe, sukaramai, karo, sumatera utara.

Jasad Aman Dimot pun dimakamkan pada daerah itu. Beberapa tahun kemudian, kuburannya digali serta kerangkanya dipindahkan ke Tiga Binanga. Jasad Aman Dimot selanjutnya dimakamkan di taman makam pahlawan kabanjahe, sumatera utara.


Menanti Gelar Pahlawan

Bagi masyarakat Gayo di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, serta Gayo Lues sampai masyarakat Alas di Kutacane, nama Aman Dimot harum sebab kisah heroik perjuangannya.

Bagaimana tidak, bukan hanya menjadi pejuang pada wilayahnya, Aman Dimot bahkan berjuang agar belanda tidak masuk ke Aceh dari jalur tanah Karo, Sumatera Utara.

Pemerintah Aceh Tengah bahkan sudah mengusulkan nama Aman Dimot sebagai pahlawan nasional, bersanding menggunakan nama besar  pahlawan Aceh lainnya, mirip Cut Nyak Dhien, Panglima Polim, serta yg lainnya.

Nama Aman Dimot sudah disodorkan ke kementerian sosial, tetapi hingga waktu ini belum berhasil.[]


ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya