24 C
id

9 Upacara Adat di Aceh yang Masih Dilestarikan Hingga saat Ini

Tradisi Adat Aceh
Upacara Adat di Aceh yang Masih Dilestarikan Hingga saat Ini (Foto: perpustakaan.id)



AchehNetwork.com -  Tradisi dan budaya yang kental di Aceh mencerminkan kekayaan warisan leluhur yang dijaga dengan baik.

Di antara banyaknya tradisi adat yang masih dilestarikan, terdapat sepuluh upacara adat di Aceh yang turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi.


Berikut 9 upacara adat di Aceh yang masih dilestarikan hingga saat ini:


1. Meuleumak

Meuleumak merupakan pesta makan-makan yang dimulai dengan gotong-royong dan memasak bersama.

Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat laki-laki atau pemuda gampong (desa) pada momen tertentu seperti hari raya Idul Fitri.

Untuk memeriahkan acara tersebut, panitia juga mengundang pemuda dari gampong lain untuk berbagi makanan.



2. Ba Ranup (Prosesi Lamaran)

Ba Ranup adalah prosesi lamaran pria kepada wanita sebelum pernikahan.

Dalam tradisi ini, pihak laki-laki membawa seserahan ranup atau sirih dan pinang sebagai simbol ikatan.

Upacara Ba Ranup merupakan langkah awal sebelum pernikahan dilangsungkan.



3. Khanduri Pang Ulee

Khanduri Pang Ulee adalah tradisi masyarakat Aceh untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad. 

Tradisi ini berlangsung selama dua bulan penuh, di mana masyarakat, terutama pemuda gampong, membersihkan dan mendekorasi meunasah atau masjid dengan umbul-umbul warna-warni.

Pada hari yang ditentukan, masyarakat menyumbangkan nasi dan lauk-pauk yang dibungkus cantik dalam idang, kemudian dimakan bersama di meunasah atau masjid.

Selain itu, terdapat pula ceramah agama dan penampilan zikir barzanji oleh para santri atau pemuda kampung.



4. Ritual Tulak Bala

Masyarakat di pantai barat selatan Aceh setiap tahun melaksanakan upacara Tulak Bala atau tolak bala. 

Upacara ini bertujuan untuk menolak bala dan menjauhkan diri dari segala musibah.

Dalam upacara ini, masyarakat melakukan serangkaian ritual dan doa sebagai bentuk perlindungan dari bencana dan penyakit.



5. Meugang

Meugang merupakan tradisi membeli, memasak, dan memakan daging bersama keluarga atau orang-orang terdekat menjelang bulan suci Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha.

Pada hari meugang, penjual daging sangat ramai di pasar tradisional di Aceh, bahkan lapak-lapak penjual daging juga berjejer di pinggir jalan.

Meskipun harganya meningkat saat meugang, tradisi ini tetap dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut perayaan penting.



6. Peusijuek

Peusijuek adalah tradisi tepung tawar yang masih dilakukan dalam setiap acara adat di Aceh.

Prosesi ini dipimpin oleh tokoh agama atau pemuka adat.

Peusijuek sering dilakukan dalam pernikahan, sunatan, pembelian kendaraan, pembukaan usaha perdagangan, turun tanah anak, pemulangan orang yang berangkat haji atau umrah, dan acara-acara lainnya.

Bahkan, tamu penting dari pemerintahan yang datang ke Aceh akan disambut dengan tradisi peusijuek.



7. Ritual Sawah

Ritual sawah merupakan tradisi yang populer di suku Kluet, Kabupaten Aceh Selatan.

Upacara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen pertanian yang berhasil. 

Masyarakat menyelenggarakan ritual dengan harapan mendapatkan hasil pertanian yang melimpah pada musim selanjutnya.



8. Tradisi Reuhab

Tradisi Reuhab merupakan warisan budaya masyarakat Alue Tuho di  Aceh.

Reuhab merujuk pada kamar sakral yang digunakan setelah seseorang meninggal dunia.

Masyarakat Alue Tuho menggelar pengajian setelah anggota keluarga meninggal sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk arwah yang meninggal.



9. Kenduri Beureu'at

Kenduri Beureu'at merupakan upacara khas Aceh yang dilaksanakan pada malam Nisfu Sya'ban.

Tradisi ini biasanya dilakukan di masjid, mushola, atau tempat pengajian.

Kenduri Beureu'at merupakan momen untuk berdoa bersama, membaca Al-Qur'an, dan mengadakan pengajian sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan dalam memperingati malam istimewa tersebut.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya