24 C
id

Perang Salib Keempat: Awal Kehancuran Kristen Ortodoks

Perang Salib Keempat
Lukisan karya Delacroix (1798-1863 M) yang menggambarkan masuknya Pasukan Salib ke Konstantinopel pada tahun 1204 M selama Perang Salib Keempat. (Delacroix)


ACHEHNETWORK.COM - Perang Salib Keempat (1202-1204 Masehi) menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah Kristen.

Meskipun tujuan utama perang salib adalah merebut kembali Tanah Suci dari kekuasaan Muslim, Perang Salib Keempat mengarah pada kehancuran Bizantium, menandai titik balik dalam hubungan antara Gereja Katolik dan Kristen Ortodoks.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi latar belakang, jalannya, dan dampak dari Perang Salib Keempat.

Latar Belakang

Pada abad ke-12, Perang Salib merupakan gerakan besar yang mengguncang dunia Kristen.

Salah satu tujuan utama perang salib adalah merebut kembali Yerusalem dan Tanah Suci yang dikuasai oleh Muslim.

Namun, Perang Salib Keempat berbeda dari perang salib sebelumnya karena ia berfokus pada Byzantium, wilayah Kristen Ortodoks yang menjadi sasaran para penyerbu Kristen sendiri.


Perjalanan Perang Salib Keempat

Pada tahun 1202, para pangeran dan ksatria Kristen Eropa berkumpul di Venesia dengan tujuan untuk menyeberangi Laut Mediterania menuju Tanah Suci.

Namun, pasukan salib tersebut menghadapi kesulitan finansial yang besar.

Republik Venesia, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas transportasi mereka, menawarkan diskon besar kepada para penyerbu jika mereka dapat merebut kota Zara di pesisir Dalmatia yang berada di bawah kekuasaan Venesia.

Para penyerbu dengan rela hati menyetujui tawaran Venesia dan mengepung Zara. 

Tindakan ini menuai kritik dari Paus Innocentius III, yang mengutuk serangan terhadap kota Kristen oleh pasukan salib.

Namun, ketidaksabaran para penyerbu dan alasan finansial akhirnya membuat mereka melanjutkan rencana mereka untuk menyerang Byzantium.

Pada tahun 1203, pasukan salib yang dipimpin oleh Doge Venesia dan seorang bangsawan Prancis bernama Bonifatius dari Montferrat tiba di Konstantinopel, ibu kota Byzantium.

Mereka bersekutu dengan pihak dalam Byzantium yang tidak puas dengan pemerintahan Kaisar Alexius III Angelus dan berharap untuk menggulingkannya.

Pada Maret 1204, pasukan salib berhasil merebut Konstantinopel dan menjarahnya secara brutal, menggantikan Kaisar Alexius III dengan Alexius IV, putra almarhum Kaisar Isaac II.

Namun, situasi di Konstantinopel menjadi kacau-balau ketika Alexius IV tidak mampu memenuhi janjinya untuk membayar upeti yang dijanjikan kepada pasukan salib.

Pada April 1204, pasukan salib marah dan menyerbu kota, menghancurkan dan merampok berbagai artefak dan kekayaan Bizantium.

Pada akhirnya, mereka mendirikan Negara Salib Latin di Konstantinopeldan memilih Count Baldwin dari Flandria sebagai Kaisar Latin baru.


Dampak dan Akibat

Perang Salib Keempat memiliki dampak yang signifikan dan tragis bagi kedua belah pihak yang terlibat.

Bagi dunia Kristen Ortodoks, peristiwa ini merupakan kehancuran yang memilukan. 

Konstantinopel, ibu kota Byzantium yang telah bertahan selama berabad-abad, dijarah dan dihancurkan oleh pasukan salib Kristen sendiri. 

Banyak gereja dan bangunan bersejarah hancur, dan berbagai harta karun seni dan budaya Bizantium dirampas dan dibawa ke Eropa Barat.

Kejadian ini juga menyebabkan perpecahan yang mendalam antara Gereja Katolik dan Kristen Ortodoks.

Selama berabad-abad, kedua aliran Kristen ini telah menjalani perseteruan teologis, tetapi peristiwa Perang Salib Keempat meningkatkan ketegangan tersebut.

Kejadian ini memberi umat Kristen Ortodoks kesan bahwa mereka dikhianati oleh saudara mereka sendiri dan bahwa Gereja Katolik tidak lagi dapat dianggap sebagai sekutu yang dapat dipercaya.

Dampak politik Perang Salib Keempat juga signifikan.

Pendirian Negara Salib Latin di Konstantinopel menciptakan kekuatan baru di wilayah tersebut, dan mereka memerintah atas wilayah Bizantium yang sebelumnya.

Namun, Negara Salib Latin ini tidak bertahan lama.

Pada tahun 1261, Kekaisaran Byzantium berhasil merebut kembali Konstantinopel dan mengakhiri kekuasaan Latin di wilayah tersebut.

Perang Salib Keempat menjadi momen penting dalam sejarah Kristen, menggambarkan ambisi politik, keserakahan, dan kekerasan yang merusak hubungan antarumat Kristen.

Kejadian ini telah meninggalkan luka yang dalam dan mempengaruhi dinamika keagamaan, politik, dan budaya di Eropa Timur dan Barat.

Dalam era modern, Perang Salib Keempat tetap menjadi sumber kontroversi dan diskusi yang mendalam tentang nilai-nilai Kristen dan keadilan.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya