24 C
id

Menyelami Kisah Legenda dan Keindahan Alam Pegunungan di Pucok Krueng, Aceh Barat Daya yang Mempesona

Pucok Krueng
(Foto: Rmol.aceh)


AchehNetwork.com - Aceh Barat Daya, sebuah perjalanan ke wilayah Barat Selatan Aceh, menghadirkan lebih dari sekadar keindahan laut. 

Di sana, gemerlapnya alam pegunungan menjadi sebuah pesona tersendiri yang menarik hati para pelancong.

Dikenal dengan sebutan Breueh Sigupai, wilayah ini mempersembahkan beragam keindahan alam pegunungan yang masih alami dan menggoda untuk dinikmati.

Salah satu daya tarik utamanya adalah "Pucok Krueng", sebuah nama yang kaya akan sejarah turun-temurun yang melegenda di wilayah ini. 

"Pucok", dalam bahasa Aceh, secara harfiah berarti "pucuk" atau "hulu", sedangkan "Krueng" berarti "sungai". 

Jadi, dapat diartikan sebagai sumber pertama air sungai. 

Selain menjadi daya tarik wisata, air dari Pucok Krueng juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Pucok Krueng berlokasi di desa Alue Seulaseh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Armya, seorang pedagang lokal, juga mengetahui cerita di balik Pucok Krueng. 

Menurutnya, legenda ini bermula dari seorang putri cantik bernama "Putroe Aloh" atau "Putri Kecil" yang sering mandi di hulu sungai tersebut.

Cerita legenda Putroe Aloh ini berkaitan erat dengan daerah setempat, Alue Sungai Pinang, yang dulunya merupakan bagian dari Pucok Krueng. 

Menurut Armya, dahulu Pucok Krueng termasuk dalam wilayah Alue Sungai Pinang sebelum pemekaran wilayah terjadi.

Putroe Aloh menantang semua pria yang ingin mendekatinya untuk memanjat "bak pineung" atau "pohon pinang" yang tingginya mencapai awan. 

Salah satu pemuda yang mengikuti tantangan itu adalah Teungku Malem Diwa, yang juga bertujuan merebut hati sang putri.

Perjalanan Teungku Malem Diwa tidaklah mudah. 

Ia harus melewati banyak rintangan dan tantangan sebelum akhirnya berhasil mendekati hati Putroe Aloh. 

Dari cerita inilah kemudian muncul nama "Alue Sungai Pinang" untuk daerah tersebut.

Namun, keindahan Pucok Krueng tidak hanya terletak pada cerita legenda yang menyertainya. 

Air yang mengalir di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi menjadi daya tarik tersendiri. 

Suara gemericik air yang sejuk dan hembusan angin pegunungan memberikan ketenangan bagi pengunjungnya.

Perjalanan ke Pucok Krueng tidaklah sulit. Dari pusat kota Abdya, hanya sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor untuk mencapai tempat ini. 

Ada dua jalur yang bisa dilalui, di depan Masjid Jamik Jeumpa atau di samping Polsek Jeumpa, yang akan membawa pengunjung menuju surga tersembunyi ini.

Saat tiba di tempat, kesejukan mulai terasa dan ketenangan dari pegunungan menyambut kedatangan. 

Suara gemericik air dan kicauan burung pegunungan melengkapi keindahan alam tersebut.

Tempat ini dibuka hingga pukul 18.00 WIB dan pengunjung tidak perlu khawatir soal makanan karena tersedia di tempat tanpa biaya masuk atau parkir.

Pucok Krueng bukan hanya tempat wisata biasa, tapi juga menjadi tempat hiburan dari kehidupan sehari-hari. 

Bagi para pengunjung yang ingin merenung dan memanjakan diri dari kesibukan, alam akan memberikan ketenangan yang tidak terduga. 

Tetapi, perlakukanlah alam dengan hormat agar ia tetap menjadi tempat yang menakjubkan untuk dinikmati oleh generasi mendatang.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya