24 C
id

Peniadaan Tradisi Pawai Takbiran Menuai Kritik, Anggota DPD RI Aceh Menilai Itu Tidak Bijak

Takbiran Keliling
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, H. Sudirman


AchehNetwork.com - Langkah Pemerintah Aceh dalam meniadakan tradisi pawai takbiran menyambut Idul Fitri 1445 Hijriyah, disoroti oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma. 

Dia mengungkapkan bahwa keputusan tersebut dinilai tidak bijak dengan sejumlah alasan yang disampaikan.


Menurut Haji Uma, pawai takbiran telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Aceh dan merupakan syiar Islam yang penting dalam memeriahkan Idul Fitri. 

Dia menyayangkan peniadannya dan menegaskan bahwa seharusnya Pemerintah Aceh mencari solusi dan penyesuaian atas kondisi yang ada, serta menyediakan perlindungan dan keamanan bagi pelaksanaannya.


"Ini adalah tradisi yang telah turun-temurun di masyarakat dan menjadi bagian penting dari syiar Islam. Pemerintah Aceh seharusnya mencari solusi dan penyesuaian dengan kondisi yang ada, bukan meniadakannya," ujar Haji Uma melalui rilis media.


Haji Uma juga menyoroti pelaksanaan festival takbiran yang digelar sebagai penggantinya di Masjid Raya Baiturrahman. 

Menurutnya, festival tersebut hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi tersebut, sementara bagi yang berada jauh tidak dapat merasakan kemeriahan Idul Fitri seperti pada pawai takbiran.


Selain itu, Haji Uma juga mengecam alasan peniadaan pawai takbiran yang dikaitkan dengan upaya menyukseskan proyek strategis nasional (PSN) seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh.


"Kita menyayangkan jika PON dan Pilkada dijadikan alasan untuk meniadakan tradisi pawai takbiran. Kita tidak boleh mengorbankan tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas kita demi menyukseskan proyek-proyek tersebut," tegasnya.


Haji Uma juga menekankan bahwa korelasi antara PSN dan pawai takbiran tidak relevan untuk dijadikan alasan. 

Bahkan, menurutnya, tradisi seperti ini akan memperkuat identitas Aceh sebagai daerah syariat Islam dan berpotensi memberikan dampak positif, termasuk dalam sektor pariwisata.


Sebagai informasi, peniadaan pawai takbiran disampaikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Zahrol Fajri.

 Menurutnya, peniadaan tersebut dilakukan karena adanya beberapa alasan, termasuk adanya PSN yang akan berlangsung di Aceh serta perbaikan ruas jalan di Banda Aceh oleh dinas terkait.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya