24 C
id

Teuku Nyak Markam: Pengusaha Aceh yang Berjaya di Masa Soekarno, Penyumbang Emas di Puncak Monas Ini Dikhianati Pemerintah Orde Baru

Teuku Markam
Tugu Monas dan Teuku Nyak Markam/Ist


AchehNetwork.com - Teuku Nyak Markam (12 Maret 1924 – Desember 1985) merupakan salah satu pengusaha kaya dari Aceh yang berjaya pada masa pemerintahan Presiden RI Soekarno. 

Dilahirkan di Gampong Alue Campli, Seunuddon, Aceh Utara, pada tahun 1925, Teuku Markam adalah keturunan uleebalang dan anak dari Teuku Marhaban. 

Kehidupan awalnya dipenuhi dengan tantangan setelah kehilangan kedua orangtuanya, dengan Teuku Marhaban meninggal dunia ketika Teuku Markam masih berusia 9 tahun, sementara ibunya telah wafat sebelumnya. 

Ia kemudian diasuh oleh kakaknya, Cut Nyak Putroe.

Pendidikan formal T. Markam hanya sampai kelas 4 Sekolah Rakyat (SR), namun hal ini tidak menghalangi perjalanan karir dan keberhasilannya di dunia bisnis. 

Salah satu kontribusi besar Markam adalah dalam pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat, seperti jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, dan Tapaktuan, yang didanai oleh Bank Dunia. 

Kontribusinya yang paling mencolok mungkin adalah sumbangannya sebesar 28 kilogram emas dari total 38 kilogram untuk Monumen Nasional.

Di samping kesuksesannya dalam bisnis, Markam juga memiliki pengalaman militer. 

Ia bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan berpartisipasi dalam pertempuran di Tembung, Sumatera Utara, bersama tokoh-tokoh militer terkenal seperti Jenderal Bejo, Kaharuddin Nasution, dan Bustanil Arifin. 

T. Markam juga pernah menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto, sehingga membawa ia ke dalam lingkaran dekat dengan Presiden Soekarno.

Ketika Soekarno menginginkan adanya pengusaha pribumi yang mampu mengelola masalah ekonomi Indonesia, Markam mendirikan PT. Karkam pada tahun 1957. 

Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. 

Ia pernah bentrok dengan Teuku Hamzah, yang berujung pada penahanannya. 

Setelah konflik tersebut berhasil didamaikan, Markam kembali fokus pada bisnisnya, yang meliputi pengelolaan rampasan perang untuk didedikasikan sebagai dana revolusi.

Bisnis Markam berkembang pesat, termasuk dalam impor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, dan plat baja. 

Namun, keberhasilannya tidak luput dari sorotan. 

Pada era Soeharto, hubungannya dengan Soekarno membuatnya terjerat dalam tuduhan terkait PKI. 

Ia dipenjara dan kekayaannya disita oleh pemerintah, bahkan tidak menyisakan apapun bagi keluarga dan anak-anaknya. 

Setelah keluar dari penjara, ia berusaha membangun kembali bisnisnya dengan mendirikan PT Marjaya, namun tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pemerintah.

Markam meninggal pada tahun 1985 akibat komplikasi penyakit di Jakarta. 

Namun, warisan dan kontribusinya dalam pembangunan Indonesia, baik secara ekonomi maupun politik, tetap diingat dan dihargai. 

Meskipun nama baiknya belum dibersihkan sepenuhnya oleh negara, jejak perjalanan hidupnya tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya