24 C
id

Profil Teuku Markam, Saudagar Asal Aceh Penyumbang Emas 28 Kg untuk Monas, Berakhir Dikhianati Pemerintah Hartanya Pun Disita

Teuku Markam
Ir. Soekarno dan Teuku Markam/Foto: Dok, Pribadi Asnawi Lida/ Historia/ist



AchehNetwork.com - Menjelajah Monumen Nasional (Monas) adalah salah satu kegiatan yang menjadi bucket list bagi setiap pengunjung yang menginjakkan kaki di Jakarta. 

Tak heran, Monas telah menjelma menjadi simbol utama ibu kota Indonesia, dengan ikoniknya lidah api emas yang memercik di puncaknya, memberikan sentuhan megah pada langit-langit kota.

Namun, di balik gemerlapnya Monas, banyak yang belum mengetahui bahwa keindahan lidah api emas tersebut merupakan sumbangan dari seorang filantropi Aceh bernama Teuku Markam. 

Dari total 38 kilogram lempengan emas yang memperindah puncak Monas, 28 kilogram di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam.

Siapakah Teuku Markam? Mari kita telusuri profilnya lebih dalam.


Profil Singkat Teuku Markam


Teuku Markam, sebagaimana disusun dalam "Teuku Markam: Kisah Murah Seorang Filantropi Bangsa" oleh Hasbullah, berasal dari keturunan uleebalang di Aceh. 

Ayahnya, Teuku Marhaban, berasal dari Gampong Alue Capli, Kecamatan Seuneudon, Aceh Utara.

Lahir sekitar tahun 1925, Teuku Markam menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun dan diasuh oleh kakaknya, Cut Nyak Putroe.

Pendidikan militer membawa Teuku Markam ke Koeta Radja (Banda Aceh), di mana ia berhasil meraih gelar Letnan Satu. 

Kesempatannya untuk bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) muncul setelah itu.

Mengabdi dalam TRI, Teuku Markam ditugaskan ke Bandung sebagai ajudan Jenderal Gatot Subroto. 

Melalui jaringan ini, ia diperkenalkan kepada Presiden Soekarno.

Kembali ke Aceh dengan pangkat Kapten (NRP 12276), Teuku Markam mendirikan PT Karkam dan serius terjun ke dunia bisnis. 

PT Karkam menjadi pengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja, dan senjata.


Sumbangan Teuku Markam di Monas


Prestasi bisnisnya mengukuhkan Teuku Markam sebagai seorang konglomerat. 

Namun, prestasinya tidak hanya terbatas pada dunia bisnis. 

Hubungannya yang erat dengan pemerintahan Orde Lama, khususnya dengan Presiden Soekarno, menjadikannya figur yang berpengaruh.

Usaha Teuku Markam menjadi salah satu penopang APBN pada masa itu. Dengan sukarela, ia menyumbangkan 28 kilogram emas untuk melengkapi Monas, sebuah impian Soekarno untuk mengukuhkan martabat Indonesia di mata dunia.

Selain itu, Teuku Markam juga turut menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika di Bandung dengan memberikan bantuan dana.


Kisah Kelam


Di balik gemerlapnya kesuksesan, kisah kelam menyelimuti Teuku Markam. 

Saat pemerintahan Orde Lama digantikan oleh Orde Baru, ia terseret dalam berbagai tuduhan, termasuk terlibat dalam G30S/PKI, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Tanpa proses pengadilan yang adil, Teuku Markam dipenjara sejak tahun 1966. 

Selama masa hukumannya, ia dipindahkan beberapa kali antara penjara dan pada tahun 1972, ia dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama dua tahun karena sakit.

Pada tahun 1974, Teuku Markam dibebaskan tanpa kompensasi. 

Namun, aset-asetnya telah disita oleh rezim Orde Baru sejak tahun 1966. Meskipun memulai usaha baru dengan PT Marjaya, proyek-proyeknya ditahan oleh pemerintah.

Teuku Markam akhirnya meninggal dunia pada tahun 1985 di Jakarta akibat komplikasi penyakit.

Dengan demikian, profil singkat Teuku Markam membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang sumbangan emasnya pada Monas. 

Semoga cerita ini dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya