24 C
id

Mengenal Suku Alas: Mutiara Budaya di Tanah Aceh Tenggara

Budaya Alas, Suku Alas, Gayo Alas, Aceh Tenggara
Wanita suku Alas mengenakan pakaian budaya Alas/


AchehNetwork.com - Aceh Tenggara, atau yang kerap dikenal sebagai Tanah Alas, menjadi rumah bagi salah satu suku yang kaya akan budaya dan sejarah, yakni Suku Alas. 


Nama "Alas" dalam bahasa mereka berarti "tikar", mengacu pada wilayah datar yang membentang di antara Bukit Barisan, dihiasi oleh sungai-sungai, termasuk Lawe Alas (Sungai Alas).


Kehidupan dan Mata Pencaharian


Mayoritas masyarakat Suku Alas bermukim di pedesaan dan menggantungkan hidup pada pertanian serta peternakan. 


Tanah Alas terkenal sebagai lumbung padi bagi Aceh, selain itu, mereka juga berkebun karet, kopi, kemiri, serta memanfaatkan hasil hutan seperti kayu, rotan, damar, dan kemenyan. 


Peternakan juga memainkan peran penting dengan kuda, kambing, kerbau, dan sapi sebagai hewan ternak utama.


Struktur Sosial dan Budaya


Dalam komunitas Alas, sebuah desa disebut "kute", yang biasanya dihuni oleh beberapa klan atau "merge". 


Sistem kekerabatan mereka bersifat patrilineal, di mana garis keturunan ditarik dari pihak laki-laki. 


Mereka juga menganut adat eksogami, yang berarti pasangan hidup harus berasal dari klan yang berbeda.


Adat dan Kepercayaan


Meskipun 100% masyarakat Alas memeluk Islam, kepercayaan tradisional seperti perdukunan masih sering dijumpai, terutama dalam kegiatan pertanian. 


Berbagai upacara dilakukan untuk menjamin hasil panen yang melimpah dan terbebas dari hama.


Bahasa dan Sejarah


Bahasa Alas (Cekhok Alas) digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dengan penutur mencapai 195.000 jiwa pada tahun 2000. 


Bahasa ini memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Karo yang dituturkan di Sumatera Utara. 


Meskipun diperkirakan berasal dari bahasa Batak, masyarakat Alas menolak label "Batak" karena perbedaan agama yang dianut.


Sejarah panjang Suku Alas dimulai jauh sebelum era kolonial Belanda, dengan catatan tertua menyebut keberadaan mereka di tahun 1325. 


Nama "Alas" sendiri diambil dari nama seorang kepala suku, cucu dari Raja Lambing, yang merupakan keturunan Raja Pandiangan dari Tanah Batak. 


Keturunan Raja Lambing menyebar hingga abad ke-12, membentuk klan-klan yang tersebar di Tanah Alas.


Kehidupan Sosial


Suku Alas terkenal dengan budaya gotong royong yang kuat. 

Dalam pernikahan, misalnya, keluarga pengantin akan saling membantu dalam hal ekonomi. 


Tradisi seperti "Jawè" dan "Pesula’i" mencerminkan bantuan awal dari orang tua kepada pasangan pengantin baru.


Adat Istiadat dan Tradisi


Upacara adat seperti "Turun Mandi", "Sunat Khitan", "Perkawinan", dan "Kematian" menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Alas. 


Struktur kekerabatan mereka diwakili oleh konsep "Tungku si telu" yang terdiri dari Wali, Sukut/Senine, dan Pebekhunen/Malu, dengan masing-masing memiliki peran khusus dalam upacara adat.


Kesenian dan Kerajinan


Seni tari tradisional Suku Alas meliputi Tari Maseka, Pelabut, Landok Alun, dan banyak lagi. 


Kerajinan tangan seperti anyaman, bordir pakaian adat, dan pembuatan peralatan besi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Makanan Tradisional


Makanan khas Suku Alas mencakup berbagai hidangan seperti Manuk Labakh, Ikan Labakh, Puket Megaukh, Lepas Bekhas, dan Gelame, yang semuanya mencerminkan kekayaan alam dan kreativitas kuliner mereka.


Penutup


Suku Alas dengan segala kekayaan budaya, tradisi, dan sejarahnya, tetap menjadi salah satu suku yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. 


Keunikan dan kekayaan budaya mereka tidak hanya menambah warna pada mosaik etnis di Indonesia tetapi juga memberikan wawasan berharga tentang kehidupan dan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya