24 C
id

Fakta Sejarah Penamaan Gampong Geuceu Ada Kaitannya dengan Krueng Daroy, Tempat Bersantainya Pemaisuri Raja di Masa Lampau

Krueng Daroy
Penampakan krueng Daoy dan Gunongan dari atas/Foto: pos aceh/ ig @dhonyzr


AchehNetwork.com - Banda Aceh, kota pusaka yang penuh dengan cerita sejarah menarik, menyimpan luas wilayah seluas 61,36 km² yang terdiri dari 9 kecamatan dan 90 gampong.

Setiap gampong memiliki nama yang khas, mencerminkan sejarahnya sendiri.

Salah satu contoh yang menarik adalah tiga gampong di Kecamatan Banda Raya, yaitu Geuceu Iniem, Geuceu Kayee Jato, dan Geuceu Komplek.

Namun, apa sebenarnya makna dari kata "Geuceu"? Benarkah ada kaitannya dengan Taman Putroe Phang yang terletak di tengah kota ini?

Dilansir dari Pos Aceh, Menurut banyak ahli sejarah, seperti yang diungkapkan oleh Kamal Arief, kata "Geuceu" dalam Bahasa Aceh memiliki arti "dicoret olehnya".

Ini mengisyaratkan bahwa Sultan Iskandar Muda pernah menandai sesuatu di peta tanah untuk menunjukkan lokasi penggalian sungai buatan.

Geuceu juga dapat diartikan sebagai garis atau batas.

Sultan Iskandar Muda, sebagai arsitek utama, merancang tata kota baru dengan mengalihkan aliran sungai Krueng Daroy dari Mata Ie agar mengalir ke taman Ghairah dalam komplek Istana Daruddunia.



"Sang Sultan mencoret" tanda untuk memastikan aliran sungai buatan mengalir ke kawasan Taman Putroe Phang seperti yang kita kenal sekarang.

Proyek penggalian sungai ini, yang juga dikenal sebagai Darul Isky, dilaksanakan sekitar tahun 1620 dengan Sultan Iskandar Muda secara langsung memimpinnya. 

Banyak pekerja dari luar daerah dan daerah taklukan Aceh turut serta dalam proyek ini.

Dikatakan bahwa proyek besar ini selesai dalam satu tahun.

Pembuatan sungai ini seperti gambaran kecil dari "Surga" yang menjadi impian banyak raja.

Hal ini sejalan dengan kisah sungai-sungai dalam Surga seperti yang disebutkan dalam Surat Al Bayyinah: "Jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-an-hāru' atau 'Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai'.

Krueng Daroy masa lalu juga diabadikan dalam Kitab Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniry, yang dibuat bersamaan dengan Gunongan sebagai persembahan untuk Permaisuri Putri Kamaliah atau Putroe Phang.

Sebagai tambahan, Rafly dalam syair lagunya dengan indah menggambarkan kecantikan "Krueng Daroy".

Berikut kutipan sebagian Lirik syairnya:

"Pucôk kruëng darôy lam glé mata ië,
Ië jih hilé jeureunèh hana ban,
Meulikok-likok puta lam taman Putroë Phang,
Meualôn-alôn alang bak teungöh meuligoë Raja.."

(Artinya: Hulu Kruëng (Sungai) Daroy di pegunungan Mata Ie,
Airnya mengalir jernih tiada tara.
Berlekok berliku dalam taman Putroe Phang,
Beralun tampak di tengah Istana Raja)


Begitulah, sebuah kisah kecil tersembunyi di balik nama-nama gampong Geuceu. Penting untuk terus menceritakan dan mendiskusikan fakta-fakta masa lalu agar sejarah tidak hanya menjadi dongeng.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya