24 C
id

Alhmadulillah, Aceh Berjuang Selama 2 Tahun, Akhirnya Mega Proyek Kilang Minyak Sawit Akan Segera Dibangun

 

Kilang Minyak Sawit
Ilustrasi/astra argo lestari


AchehNetwork.com - Pemerintah Aceh telah memulai langkah besar dalam membangun infrastruktur energi yang strategis dengan konstruksi pembangunan kilang minyak sawit di wilayah Aceh Utara. 

Proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan sektor energi nasional, serta sebagai hasil dari perjuangan panjang untuk mengambil alih pengelolaan minyak dan gas di Blok B dari tangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE).


Pada Rabu, 17 Juni 2020, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menandatangani surat alih kelola yang menyerahkan pengelolaan Blok B kepada Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). 

Keberhasilan ini disambut dengan sukacita, dengan Arifin Tasrif mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan masyarakat Aceh dalam proses ini.


"Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan rakyat Aceh, Blok B akhirnya disetujui untuk dialih kelola ke PT PEMA," ujar Arifin, menegaskan komitmen untuk mengikuti arahan gubernur dan hukum yang mengatur pengelolaan migas di Aceh.


Pernyataan resmi dari Menteri ESDM ini membuka jalan bagi PT PEMA untuk mengelola Blok B dengan memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan. 

Direktur Utama PT PEMA, Mahdinur, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pihak lain dalam mengelola blok tersebut, dengan harapan dapat mengembangkan potensi migas yang belum dimaksimalkan sebelumnya.


Ali Mulyagusdin, Direktur Utama PT PEMA, menjelaskan bahwa salah satu langkah strategis yang akan diambil adalah membangun kilang minyak sawit di Aceh. 

"Pembangunan kilang minyak sawit ini didasarkan pada hasil produksi minyak mentah sawit (CPO) di setiap daerah," ungkap Ali kepada media pada 21 April 2024.


Selain kilang minyak sawit, PT PEMA juga berencana untuk terlibat dalam jual-beli cangkang sawit, dengan rencana pengumpulan cangkang tersebut di Pelabuhan Kuala Langsa.


Mahdinur mengingatkan bahwa Blok B pernah menjadi salah satu tambang migas terbesar di dunia pada tahun 1977, dengan luas wilayah kerja mencapai 1.600 km persegi. 

Namun, saat ini produksinya tidak sebesar dahulu, dengan produksi pertamanya mencapai 3.400 MMSCFD (Juta Standar Kaki Kubik per Hari).


Mega proyek strategis ini bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi juga tentang menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Aceh Utara dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. 

Dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memajukan sektor energi dan ekonomi nasional.(*)


Sumber: InfoSAWIT.com

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya