24 C
id

Musuh Bebuyutan Pecah Perang: Berikut Perbandingan Kekuatan Militer Iran dan Israel

Israel Iran
Ilustrasi/


AchehNetwork.com - Iran dan Israel, dua kekuatan bergegas yang selalu berada di titik paling mendidih di Timur Tengah, seringkali menunjukkan ketegangan tak terelakkan. 

Iran, yang menentang keras serangan Israel di Gaza, mengekang dirinya dengan kebijakan luar negeri yang anti-Israel. 

Ini menciptakan narasi konflik yang terus memanas antara keduanya.

Sejak revolusi Islam pada tahun 1979, konflik antara Iran dan Israel telah menjadi sorotan utama di panggung geopolitik. 

Namun, bukan hanya retorika dan perang bayangan yang menghangatkan hubungan kedua negara tersebut. 

Pada tahun 2019, ketegangan telah melampaui batas itu, dengan Iran secara aktif mendukung sekutu-sekutunya di tiga front perbatasan Israel, yaitu Lebanon, Suriah, dan wilayah Palestina.

Iran tidak ragu-ragu dalam memobilisasi sumber daya, termasuk personel, dana, dan materi, untuk mendukung kelompok-kelompok seperti Hezbollah di Lebanon, pasukan rezim Bashar al-Assad di Suriah, dan berbagai faksi di wilayah Palestina. 

Ini menciptakan sebuah lanskap di mana Iran dan Israel tidak hanya berselisih dalam ranah retorika, tetapi juga secara nyata terlibat dalam konflik proksinya di seluruh kawasan.

Tidaklah mengherankan bahwa baik Iran maupun Israel telah menggertak dengan ancaman konflik langsung. 

Tindakan keras dan peringatan yang berulang dari kedua belah pihak menciptakan ketegangan yang menegangkan di kawasan tersebut, dengan ancaman akan eskalasi yang nyata.

Di tengah retorika keras dan aksi agresif, kawasan Timur Tengah terus menjadi medan pertarungan untuk kepentingan regional dan global. 

Ketegangan antara Iran dan Israel mencerminkan dinamika kompleks yang memengaruhi stabilitas di kawasan tersebut, sementara dunia menahan nafas dalam antisipasi akan perkembangan lebih lanjut yang dapat memicu konflik yang lebih luas dan lebih berbahaya.

Pada tanggal 1 April 2024, ketegangan antara Israel dan Iran mencapai titik kritis ketika Israel melancarkan serangan terhadap gedung konsulat Iran yang terletak di Damaskus. 

Serangan itu mengakibatkan kematian 16 orang, termasuk dua jenderal Iran yang dikenal dengan reputasi mereka yang kuat.

Kedua jenderal yang tewas dalam serangan tersebut adalah Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan seorang perwira tinggi lainnya, yaitu Brigadir Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi. 

Kehilangan mereka meninggalkan sebuah kekosongan besar dalam struktur komando militer Iran dan merupakan pukulan berat bagi negara tersebut.


Namun, tegangannya tidak berhenti di situ. Pada Sabtu, 13 April, Iran membalas dengan serangan yang menggemparkan dunia. 

Mereka meluncurkan lebih dari 300 proyektil ke arah Israel, menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam atas serangan terhadap para pejabat militer mereka.

Serangan balasan Iran ini meningkatkan ketegangan di Timur Tengah ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan mengundang kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas dan lebih berbahaya.


Perbandingan Anggaran Militer


Namun, di balik politik retoris yang keras, pertarungan sebenarnya terjadi di arena militer. 

Perbandingan kekuatan militer antara Iran dan Israel mengungkapkan dinamika yang menarik.

Israel, dengan anggaran pertahanan mencapai US$ 24,4 miliar atau sekitar Rp385 triliun, telah terbukti menjadi kekuatan militer yang tangguh. 

Dipimpin oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang terkenal dengan kemampuan teknologi dan intelijen yang canggih, Israel telah mengalokasikan sebagian besar PDB-nya untuk bidang pertahanan. 

Fokusnya pada inovasi teknologi pertahanan dan respons cepat terhadap ancaman telah memperkuat posisinya.

Di sisi lain, Iran, dengan anggaran pertahanan sebesar US$ 9,9 miliar atau sekitar Rp156 triliun, juga bukan lawan yang bisa diabaikan. 

Sebagai kekuatan regional dengan ambisi ekspansi, Iran mengalokasikan sumber daya yang besar untuk kepentingan militernya. 

Strategi Iran mencakup kekuatan paramiliter, program rudal balistik, dan jaringan proksi regional, mencerminkan pendekatan yang multi-faset dalam strategi militer mereka.

Perbandingan jumlah personel aktif dan cadangan, serta kekuatan peralatan militer seperti tank, kendaraan lapis baja, dan artileri, memberikan gambaran lebih jelas tentang dinamika kekuatan antara kedua negara. 

Sementara dalam hal kekuatan udara dan angkatan laut, Israel menonjol dengan jumlah pesawat dan aset angkatan laut yang lebih besar, namun Iran memiliki jumlah pesawat tempur dan kapal selam yang cukup signifikan.

Perbandingan Kekuatan Militer:


Tentara

- Personel Aktif: Israel (170.000) vs. Iran (610.000)

- Personil Cadangan: Israel (465.000) vs. Iran (350.000)

- Tersedia untuk Dinas Militer: Israel (3.156.142) vs. Iran (41.167.710)

- Tank: Israel (1.370) vs. Iran (1.996)

- Kendaraan Tempur Lapis Baja: Israel (6.135) vs. Iran (3.555)

- Total Artileri: Israel (1.000) vs. Iran (4.873)

- Artileri Self-Propelled: Israel (650) vs. Iran (1.030)

- Artileri Roket: Israel (48) vs. Iran (1.755)


Kekuatan Udara

- Jumlah Pesawat: Israel (612) vs. Iran (551)

- Pesawat Tempur: Israel (241) vs. Iran (186)

- Pesawat Multiperan: Israel (23) vs. Iran (10)

- Pesawat Serang: Israel (39) vs. Iran (23)

- Helikopter: Israel (146) vs. Iran (129)

- Kapal Tanker Udara: Israel (14) vs. Iran (7)


Kekuatan Angkatan Laut

- Jumlah Aset Angkatan Laut: Israel (67) vs. Iran (101)

- Kapal Induk: Tidak dimiliki oleh Israel maupun Iran

- Penghancur: Tidak dimiliki oleh Israel maupun Iran

- Fregat: Israel (0) vs. Iran (7)

- Korvet: Israel (7) vs. Iran (3)

- Kapal Selam: Israel (5) vs. Iran (19)


Jadi, sementara Israel dan Iran terus bersaing dalam retorika politik yang keras, pertarungan nyata terjadi di lapangan militer, di mana keduanya terus mengembangkan strategi dan kekuatan mereka untuk menjaga kepentingan nasional dan pengaruh regional.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya