24 C
id

Pemamanan, Tradisi Unik Suku Alas di Aceh Tenggara

 

budaya suku Alas
Pemamanan, Tradisi Unik Suku Alas di Aceh Tenggara/


AchehNetwork.com - Aceh, dengan segala kekayaan seni budayanya dan masyarakat yang sangat religius, menjadi sebuah destinasi yang memukau. 

Terkenal dengan predikat daerah khusus dari pemerintah pusat, Aceh adalah tempat di mana beragam suku bersatu dalam keberagaman budaya. 


Suku Aceh memang yang terbesar di Aceh, namun keberadaan suku lain seperti Gayo, Alas, Singkil, dan Pak Pak memberikan warna tersendiri bagi kehidupan budaya di sana.


Dari keberagaman suku tersebut, muncul seni budaya yang sudah mendunia, seperti Tari Saman dari tanah Gayo. 

Namun, hari ini kita akan membahas tentang suku Alas, yang menghadirkan tradisi yang khas dan memikat, yaitu pemamanan.


Suku Alas, yang mendiami kabupaten Aceh Tenggara, memiliki tradisi unik yang disebut pemamanan. 

Dalam pemamanan, paman, yang merupakan saudara laki-laki dari garis ibu, memainkan peran yang sangat penting. 

Mereka menjadi penanggung jawab atas berbagai perhelatan adat seperti pesta sunatan dan pernikahan keponakan mereka.


Pemamanan bukan sekadar urusan seremonial. Si paman bertanggung jawab atas segala kebutuhan yang diminta dari pihak ibu keponakannya. 

Mulai dari menyediakan kuda tunggangan hingga memimpin proses pengumpulan dana dari masyarakat setempat sebagai bentuk gotong royong.


Proses pemamanan biasanya dimulai dengan kenduri sederhana di rumah paman, yang dihadiri oleh masyarakat sekitar. 

Di sini, paman menyampaikan hajat dari keluarga keponakannya dan meminta sumbangan dari masyarakat setempat sebagai tanda gotong royong. 

Dana yang terkumpul akan digunakan untuk meringankan beban keluarga keponakan dalam menyelenggarakan acara.


Selain menyediakan dana, si paman juga seringkali memberikan kambing, lembu, atau bahkan hadiah modern seperti kulkas atau sepeda motor, sesuai dengan permintaan dari keluarga yang mengadakan acara. 

Semua ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap si paman, yang dianggap sebagai tulang punggung bagi keluarga keponakan.


Namun, tanggung jawab si paman tidak berhenti sampai di sana. Jika sebuah acara pemamanan dilakukan dengan kemewahan, pihak keluarga akan memotong hewan ternak yang kemudian dimasak secara gotong royong. 

Pada hari ketujuh pemamanan, dilakukan prosesi arak-arakan dengan "pengantin" sunat yang naik kuda, yang kemudian akan mendatangi rumah dari saudara ibu yang memberikan hadiah kuda.


Selain dari segi ekonomi, peran moral si paman juga sangat dihargai. Tidak turut membantu dalam pemamanan dapat merusak reputasi dan martabat si paman di masyarakat. 

Oleh karena itu, setiap sumbangan yang diberikan oleh si paman, baik dalam bentuk materi maupun moral, akan dicatat dalam "buku keluarga" dan dihargai dengan baik oleh keluarga keponakannya.


Dalam tradisi Alas, memberi dan menerima adalah bagian dari sebuah kesepakatan tak tertulis. 

Pemamanan tidak hanya tentang mempersiapkan sebuah perhelatan adat, tetapi juga tentang membentuk ikatan sosial dan moral yang kuat di antara anggota masyarakat. 

Oleh karena itu, pemamanan bukan sekadar sebuah tradisi, tetapi juga simbol dari kebesaran hati dan gotong royong yang menjadi warisan leluhur bagi suku Alas Aceh.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya