24 C
id

Keunikan dan Makna Filosofis dalam Prosesi Pernikahan Adat Aceh: 7 Tahap Rangkaian Prosesi yang Masih Dilestarikan


Pernikahan Adat Aceh, Budaya Aceh, Suku Aceh
Ilustrasi resepsi perkawinan adat budaya Aceh/Foto: AchehNetwork.com/Joe's Studio


AchehNetwork.com - Aceh adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera, menjadikannya provinsi paling barat di Indonesia.

Masyarakat Aceh memiliki berbagai adat istiadat, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. 

Adat adalah gagasan kebudayaan yang mencakup nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang mengatur perilaku manusia dalam interaksi sosial di dalam kelompok masyarakat.

Adat dan budaya Aceh sangat unik dan beragam, dengan setiap tradisinya menyimpan makna dan filosofi tersendiri. 

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan dijunjung tinggi adalah prosesi pernikahan adat Aceh. 

Seperti suku-suku lainnya, calon pengantin Aceh diwajibkan mengikuti serangkaian adat menjelang hari pernikahan.


Rangkaian prosesi pernikahan adat Aceh terdiri dari beberapa tahap berikut seperti yang dilansir dari situs MAA:


1. Jak Ba Ranup (Antar Sirih/Meminang atau Melamar)



Adat perkawinan Aceh
Ilustrasi seserahan dan ranup (sirih)

Jak Ba Ranup adalah prosesi awal sebelum pernikahan yang bertujuan meminang dan mendapat kesepakatan dari kedua keluarga. 

Prosesi ini dimulai ketika pihak mempelai pria membawa seserahan berupa sirih, kue, dan lain-lain. 

Prosesi ini berlanjut dengan calon mempelai wanita yang menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan calon mempelai pria.



2. Jak Ba Tanda (Antar Tanda/Bertunangan)


Jak Ba Tanda adalah prosesi bertunangan yang merupakan kelanjutan dari meminang. 

Pada prosesi ini, keluarga calon pengantin pria datang ke kediaman calon mempelai wanita untuk membahas pernikahan, termasuk jumlah mahar, waktu pelaksanaan pernikahan, dan jumlah tamu undangan. 

Calon mempelai pria membawa seserahan berupa ketan kuning, buah-buahan, pakaian, dan perhiasan sesuai kemampuan keluarga pria.

Menurut Arby (1980), dalam bukunya "Upacara Perkawinan Adat Aceh", tujuan dari upacara ini adalah memperkuat tanda jadi dengan membawa seserahan yang meliputi sirih lengkap, berbagai bahan makanan, pakaian, dan perhiasan.



3. Bôh Baca (Memakai Inai / Malam Inai)


Adat perkawinan Aceh
Ilustrasi Bôh Gaca/Foto: KBA.One


Malam inai atau malam Bôh Gaca adalah malam menjelang pesta pernikahan yang terdiri dari upacara peusijuëk (tepung tawar) kepada dara barô dan peusijuëk gaca, serta batèë seumeupéh (batu giling) yang melambangkan pemberian dan penerimaan restu serta mengharapkan keselamatan. 

Prosesi ini dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan bagi kedua mempelai dan memudahkan rezeki mereka, biasanya dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut.



4. Meugatip (Ijab Kabul)



Adat perkawinan Aceh
Ilustrasi Meugatip/Foto: net

Upacara adat nikah Meugatip (ijab kabul) adalah syarat mutlak sahnya pernikahan menurut agama Islam. 

Sebelum akad nikah, Teungku Kadhi menanyakan kesiapan kedua mempelai dan berbagai pertanyaan terkait rumah tangga dan ibadah. 

Teungku Kadhi, bersama ahli waris pihak laki-laki, memeriksa mahar (jeulamèë) yang diserahkan oleh orang tua ahli waris pihak mempelai pria. 

Mahar dan berbagai bawaan seperti pakaian, makanan, dan kosmetik lainnya diserahkan dalam talam bertutup kain motif Aceh.

Lafaz nikah biasanya dilaksanakan dalam bahasa Aceh, disesuaikan dengan kesepakatan dan adat istiadat setempat.



5. Tuëng Lintô Barô/Intat Lintô/Woë Lintô



Adat perkawinan Aceh
Ilustrasi Tuëng Lintô Barô/AchehNetwork.com/Joe's Studio


Prosesi ini adalah puncak penyambutan lintô barô (pengantin pria) ke rumah dara barô (pengantin wanita). 

Menurut Arby (1989), upacara ini melibatkan mempelai wanita yang telah dirias dan mengenakan busana adat Aceh, melakukan seumah (sungkem) kepada orang tua sebelum bersanding di pelaminan. 

Mempelai pria kemudian dipersilahkan masuk dan diserahkan kepada orang tua adat pihak wanita, dibimbing untuk rhah gaki (membasuh kaki) sebagai perlambang kesucian lahir dan batin. 

Upacara ini diiringi dengan tarian ranup lampuan dan berbalas pantun.



6. Tuëng Dara Barô (Menerima Pengantin Wanita)



Adat perkawinan Aceh
Ilustrasi Tuëng Dara Barô/AchehNetwork.com/Joe's Studio


Upacara Tuëng Dara Barô adalah prosesi mengundang mempelai wanita dan rombongannya ke rumah mertua (orang tua lintô barô), biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah upacara woë lintô. 

Dara barô diiringi orang tua adat, membawa kue-kue khas Aceh dalam talam yang dihiasi dan ditutup kain motif Aceh. 

Dara barô disambut dengan sipreuëk breuëh padé (menabur beras dan padi), bungong rampoë (bunga rampai), dan ôn seunijuëk (dedaunan untuk tepung tawar).


Rangkaian prosesi pernikahan adat Aceh ini sarat makna dan filosofis. 

Diharapkan tradisi ini dapat terus dilestarikan oleh generasi selanjutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang telah dilaksanakan secara turun-temurun.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya