24 C
id

Perayaan Gadhimai: Ritual Pembantaian Hewan untuk Dewi di Nepal yang Kontroversial


Pembantaian hewan di nepal, Perayaan Gadhimai
Perayaan Gadhimai/


AchehNetwork.com — Pada tahun 2014, lebih dari 6.000 ekor kerbau dikorbankan dalam perayaan Gadhimai di Nepal. 

Selain kerbau, berbagai jenis ternak lain, kecuali sapi yang dianggap suci dalam kepercayaan Hindu, turut dipersembahkan. 

Hewan-hewan ini termasuk kambing, babi, ayam, bebek, angsa, dan burung, dengan total lebih dari 200.000 ekor yang dikorbankan untuk menghormati Gadhimai, Dewi Kekuasaan dan Kesejahteraan.

Banyak warga Nepal yang percaya bahwa mempersembahkan korban hewan kepada Dewi Gadhimai dapat membawa kemakmuran dan menghapus dosa. 

Sebagian dari mereka melakukan pengorbanan sebagai ungkapan syukur atas permohonan yang terkabul atau berharap agar permintaan mereka dikabulkan setelah melakukan persembahan.

"Saya berjanji kepada dewi bahwa jika bisnis saya berjalan baik, saya akan mengorbankan satu ekor kambing untuknya," kata Rajesh Shah, seorang warga Nepal yang ikut serta dalam perayaan Gadhimai pada tahun 2014 (The Guardian, 28 November 2014).

"Saya mendengar keluhan tentang perayaan ini, tetapi saya sudah berdoa agar bisnis saya membaik, jadi saya harus menepati janji kepada sang dewi," lanjutnya.



Ritual Hewan Korban Terbesar di Dunia


Upacara Gadhimai diadakan setiap lima tahun sekali di kompleks kuil yang terletak sekitar 160 km di selatan ibu kota Nepal, Kathmandu, dekat perbatasan India. 

Banyak media internasional menyebut Gadhimai sebagai ritual pengorbanan hewan terbesar di dunia.

Antara 6.000 hingga 8.000 ekor kerbau dihabisi dalam upacara Gadhimai tahun 2014, belum termasuk ratusan ribu hewan korban lainnya (CNN, 1 Desember 2014). 

Namun, angka tersebut masih lebih kecil dibandingkan dengan perayaan lima tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009, setidaknya 20.000 ekor kerbau disembelih hanya dalam satu hari. Jumlah total berbagai jenis hewan korban saat itu mencapai lebih dari 500.000 ekor (The Hindu, 24 November 2009). 

Tidak pernah diketahui secara pasti berapa jumlah hewan yang dikorbankan dalam setiap acara Gadhimai, tetapi proses penyembelihan seluruh hewan korban membutuhkan waktu setidaknya 2 x 24 jam, biasanya dilakukan pada hari Jumat dan Sabtu. 

Eksekusi kerbau selalu dilakukan pada hari pertama, dilanjutkan dengan jenis binatang lainnya pada hari berikutnya.

Darah dan kepala hewan korban dipersembahkan, sementara dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat. 

Ritual ini selalu menyedot perhatian khalayak, seperti pada tahun 2014 yang diperkirakan dihadiri lebih dari 2,5 juta orang.

Peserta perayaan Gadhimai bukan hanya warga negara Nepal, tetapi juga banyak orang dari India dan wilayah lain, terutama dari negara-negara yang melarang ritual pembantaian massal terhadap binatang. 

Peserta boleh menyembelih sendiri hewan korban yang dibawanya, namun panitia setempat juga menyediakan ratusan jagal. 

Para jagal merasa sangat terhormat bisa turut ambil bagian dalam upacara suci ini.

"Saya sangat menantikan ini. Tuhan akan memberkati saya untuk itu,” ucap Joginder Patel, seorang jagal yang sudah terlibat dalam lima edisi terakhir Gadhimai (The Guardian, 28 November 2014). 

Bagi Joginder, membunuh kerbau adalah pekerjaan yang sangat mudah.

 “Semudah memotong sayuran. Pada festival terakhir (2009), saya memenggal 300 ekor kerbau, tetapi tahun ini (2014), saya hanya membunuh 175 ekor,” sebutnya.


Pro-Kontra Upacara “Pembantaian”


Upacara Gadhimai selalu menimbulkan pro dan kontra. 

Para aktivis pecinta binatang dari Animal Nepal, Animal Welfare Network Nepal, dan Anti-Animal Sacrifice Alliance merupakan pihak yang paling vokal menentang perayaan ini. 

Mereka mengkritik pengorbanan ratusan ribu hewan dalam waktu singkat dan menyoroti proses eksekusi yang dianggap lebih mirip pembantaian daripada penyembelihan.

"Kami keberatan dengan kekejaman terhadap hewan-hewan itu. Mereka mencincang hewan-hewan itu, dan beberapa di antaranya memakan waktu hingga 40 menit sebelum mati,” kata Pramada Shah dari Animal Welfare Network Nepal (CNN, 1 Desember 2014). Aktivis lainnya, Niraj Gautam, menambahkan, “Setiap bagian tubuh (hewan) bisa dipotong. Kami pernah melihat kerbau berjalan dengan kepala menggantung.”

Kondisi hewan-hewan sebelum disembelih juga menjadi sorotan. 

Sebagian besar hewan diarak dari tempat asalnya yang jauh dengan berjalan kaki, tanpa menggunakan alat transportasi angkut.

 “Ketika hewan-hewan itu sampai ke tempat perayaan, kondisinya sudah setengah mati. Mereka dibiarkan dua atau tiga hari tanpa makanan setelah dibawa ke sini,” ungkap Pramada Shah.

Menanggapi tudingan tersebut, seorang pendeta di Kuil Gadhimai, Chandan Dev Chaudhury, membela praktik tersebut.

 "Jika ada yang punya masalah, maka saya akan memotong tenggorokan binatang itu dan masalah akan terpecahkan,” tandasnya (BBC, 24 November 2009).

Meskipun mendapat sorotan dari media internasional dan kecaman dari berbagai pihak, pelaksanaan ritual Gadhimai sulit dihentikan, bahkan oleh otoritas Nepal sendiri. 

Agama dan tradisi menjadi alasan utama keberlangsungan upacara ini.

“Kami tidak bisa melarang ritual Gadhimai. Ini berkaitan dengan budaya,” kata seorang kepala distrik di Nepal yang tidak disebutkan identitasnya dalam laporan CNN.

Perayaan Gadhimai 2014 tetap berlangsung meskipun protes semakin keras. 

Segelintir aktivis melakukan aksi simbolis dengan membelah kelapa di luar kuil, berharap memberikan pesan bahwa pengorbanan kepada dewa atau dewi tidak harus menumpahkan darah, tetapi bisa diganti dengan buah, sayur, atau hasil bumi lainnya.

Meskipun hasilnya belum pasti, upaya untuk menghentikan pembantaian binatang dalam upacara Gadhimai kemungkinan akan terus berlanjut di masa mendatang.

 “Sangat tidak layak membunuh binatang atas nama agama,” tutur Direktur Animal Nepal, Uttam Kafle (Reuters, 28 November 2014). 

“Kami tetap akan mencoba meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa melakukan pemujaan dengan damai, tanpa kekejaman terhadap hewan,” tambahnya.***

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya