24 C
id

Sejarah Singkat 4 Kerajaan Kecil dan Nama-Nama Rajanya di Aceh Tamiang

Kerajaan Aceh Tamiang, Sejarah Aceh Tamiang
Istana Raja di Aceh Tamiang/ Foto: Berbagai Sumber


AchehNetwork.com - Pada masa pemerintahan Raja Muda Sedia (1330-1352 M), sistem pemerintahan Tamiang tersusun dengan sangat rapi. 

Raja Muda Sedia tidak hanya berhasil menjalankan pemerintahan, tetapi juga pernah memukul mundur serangan pertama yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit, yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada di Kuala Tamiang.

Namun, tanpa sepengetahuan Raja Muda Sedia, prajurit Majapahit kembali menyerang, mengakibatkan pertempuran dahsyat di Bukit Suling. 

Kota Benua dihancurkan oleh prajurit Majapahit, dan Raja Muda Sedia terpaksa mundur ke daerah Hulu Sungai Simpang Kiri. 

Ia kemudian menghilang dalam pertapaannya di Gunung Segama. 

Sementara itu, permaisurinya yang sedang hamil tua kembali ke negeri asalnya di Aceh.

Beberapa tahun kemudian, kerajaan Tamiang kembali bangkit dipimpin oleh Mangkubumi, yang berpusat di Kuala Simpang, Negeri Pagar Alam. 


Setelahnya, terjadi pergantian tahta berturut-turut: Raja Po Lamat, Raja Po Kelabu Tunggal, Raja Po Garang, dan Raja Kandis.

Setelah Raja Kandis wafat, menantunya, Raja Pendekar Sri Mangkuta, mengambil alih pemerintahan dan memindahkan pusat kerajaan ke Pantai Tinjau (1523–1558 M). 

Pada awal pemerintahannya, ia melakukan kunjungan ke Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Muqayat Shah (1511–1530 M). 

Dalam kunjungan itu, Sri Sultan mengakui kedaulatan Kerajaan Tamiang.

Pada masa pemerintahan Raja Pendekar Sri Mangkuta, Kerajaan Tamiang terpecah menjadi dua kerajaan kecil: Negeri Karang dan Benua Tunu. 

Negeri Karang dipimpin oleh Raja Fromsyah (1588–1590) dan berpusat di Negeri Menanggini, sementara Benua Tunu dipimpin oleh Raja Gempa Alamsyah (1558–1588) dan didirikan di atas puing-puing Kota Benua Raja. 

Kedua kerajaan kecil ini tetap tunduk pada Kerajaan Tamiang di Pantai Tinjau.

Setelah wafatnya Raja Pendekar Sri Mangkuta, terjadi perubahan kekuasaan. 

Pada masa pemerintahan Raja Penita (1699–1700), turunan dari Raja Gempa Alamsyah, dan Raja Tan Kuala (1662–1699), turunan dari Raja Fromsyah, keduanya memohon kepada Sultan Taj Alam Syaifuddin Mukayatsyah (1641–1676) untuk menghindari perang saudara. 

Pada masa pemerintahan Ratu Kemalat Syah (1688–1699), Kerajaan Benua Tunu dan Negeri Karang diakui sebagai kerajaan yang berdaulat penuh dan mendapatkan Cap Sikureueng.


Seiring berjalannya waktu, dari dua kerajaan kecil ini, lahirlah kerajaan-kerajaan baru. 

Negeri Bendahara, di bawah pemerintahan Potjcut Achmad Gelar Raja Bendahara I (1883–1871), juga mendapatkan Cap Sikureueng dari Sultan Aceh.


Kerajaan-Kerajaan di Bumi Tamiang



1. Benua Tunu


Wilayah pemerintahan Kejuruan Muda meliputi: Kampung Ronggoh, Kalui, Lubuk Mandah, Seumadam, Minuran, Tanjung Mancang, Benua Tunu, Paya Perang, Kuta Lintang, Bukit Culim, Alur Manis, Bukit Selamat.

Raja-raja yang pernah memerintah:
     
  • Gempa Alamsyah (1558–1588)
  • PO Banda (1588–1629)
  • PO Perum (1629–1669)
  • Pendita (1669–1700)
  • PO Gam (1700–1937)
  • PO Kecik (1737–1770)
  • PO Penuh (1770–1800)
  • Bahma (1800–1837)
  • Perum (1837–1860)
  • Peganding (1860–1866)
  • Pegondan (1866–1872)
  • Nyak Mut (1872–1887)
  • Raja Man (1887–1893)
  • Mangkubumi (1893–1911)
  • Raja Habsyah (1911–1917)
  • Mangku Raja (1917–1933)
  • Raja Sulung (1933–1945)


2. Kerajaan Bendahara


Wilayah kekuasaan meliputi: Seruway, Sungai Iyu, dan Telaga Meku.

Raja-raja yang pernah memerintah:

  • Panglima Deli (1789–1837)
  • Achmad Deli (1837–1871)
  • Raja Matali Deli (1871–1901)
  • Raja Ibrahim Deli (1904–1906)
  • Raja Achmad Basyah (1943–1946)
  • Sejak tahun 1906, Bendahara Hilir Utara pernah digabungkan dengan Kerajaan Karang oleh pemerintah Belanda, dan dipisahkan kembali pada tahun 1943 oleh pemerintahan Jepang.



3. Kerajaan Seruway


Dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Bendahara, dijadikan kerajaan kecil oleh pemerintah Belanda pada tahun 1865, dengan wilayah utama Tamiang Hilir Selatan.

Raja-raja yang pernah memerintah:

  • R. Sulung Laut (1865–1902)
  • T. Hitam Abdul Majid (1902–1917)
  • T. Kamaruddin (1917–1928)
  • T. Zainal Abidin (1928–1945)


4. Kerajaan Karang Tamiang


Wilayah kekuasaan meliputi: Batu Bedulang, Lubuk Tanggal Subang, Kampung Segerduk, Lubuk Pika, Pantai Tinjau, Menanggini, Sekumur, Rantau Panjang, Alur Bemban, Perupuk, Serba, Air Tenang.

Raja-raja yang pernah memerintah:

  • Raja Fromsyah (1558–1590)
  • Raja Pesinah (1590–1624)
  • Tan Muddin (1624–1662)
  • Tan Kuala (1662–1699)
  • Tan Mertju (1699–1753)
  • Tan Pesia (1753–1800)
  • Tan Sua (1800–1845)
  • Raja Ben Raja (1845–1896)
  • Raja Silang (1901–1925)
  • Tengku Muhammad Arifin (1925–1945)

Kerajaan Tamiang yang bersejarah ini mencerminkan perjalanan panjang dan kompleks dari sebuah sistem pemerintahan yang kuat hingga berbagai perubahan dan pengakuan kedaulatan yang berlangsung selama berabad-abad.***


Sumber: Lentera24

ARTIKEL TERKAIT

Terupdate Lainnya