Februari 2023 - Acheh Network - Situs Berita Online

Selasa, 28 Februari 2023

Tragedi Rumoh Geudong Aceh, Peristiwa Kelam Diakui Negara Sebagai Pelanggaran HAM Berat

 

Tragedi Rumoh Geudong Aceh, Peristiwa Kelam Diakui Negara Sebagai Pelanggaran HAM
Tragedi Rumoh Geudong Aceh, Peristiwa Kelam Diakui Negara Sebagai Pelanggaran HAM (Foto Museum Ham)

ACHEH NETWORK - Setelah 34 tahun berlalu, Indonesia akhirnya mengakui bahwa Tragedi Rumoh Geudong tahun 1989 di Aceh merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu, 11 Januari 2023.

Tragedi Rumoh Geudong adalah sebuah tragedi penyiksaan yang dilakukan oleh aparatur TNI terhadap masyarakat Aceh selama masa konflik Aceh (1989-1998). Tragedi ini terjadi di desa Bilie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie.

Presiden mengakui adanya pelanggaran HAM setelah menerima laporan akhir dari Tim Pelaksana Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat Masa Lalu (PPHAM) di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Rabu, 11 Januari 2023.

"Saya telah membaca dengan seksama laporan dari Tim Pelaksana Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat yang dibentuk berdasarkan keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2022," ujar Presiden Joko Widodo. "Dengan pikiran yang jernih dan hati yang tulus, saya sebagai kepala negara Republik Indonesia mengakui bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang berat memang terjadi di berbagai peristiwa," tambahnya.

Rumoh Geudong adalah sebuah rumah bangsawan (uleebalang) Aceh yang dibangun pada tahun 1818 oleh Ampon Raja Lamkuta, yang kemudian digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis) sejak April 1990. Kejahatan kemanusiaan di Rumoh Geudong yang terjadi di jalan raya Banda Aceh - Medan sungguh telah mengores luka berat.

Menurut keterangan masyarakat setempat, sejak Maret 1998 sampai Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut pada tanggal 7 Agustus 1998, Rumoh Geudong telah dijadikan tempat tahanan. Sekitar lebih dari 50 orang laki-laki dan perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerakan Pengacau Keamanan Aceh Merdeka (GPK-AM) ditahan di sana. Namun, dari penuturan seorang korban, ketika para korban yang sempat ditahan di Pos Sattis selama tiga bulan, dia telah menyaksikan 78 orang dibawa ke pos dan mengalami penyiksaan-penyiksaan.

Setiap kali proses penyiksaan dimulai, musik dengan volume besar dihidupkan sehingga segala jeritan pilu tidak terdengar keluar. Perempuan-perempuan yang dicurigai berafiliasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), baik sebagai istri, anak, atau keluarga, difoto di Rumoh Geudong. Foto-foto perempuan tersebut kemudian dicetak dan ditempel di pohon-pohon di hutan.[]

Sembilan Warga Rohingya Kabur Dari Penampungan Di Padang Tiji, Berikut Nama-namanya..

Sembilan Warga Rohingya Kabur Dari Penampungan Di Padang Tiji
Ilustrasi warga rohingya di penampungan (foto benarnews)
SIGLI - Sembilan imigran Rohingya diduga kabur dari penampungan sementara bekas Panti Asuhan Mina Raya, Gampong Luen, Kecamatan Padang Tiji, Pidie pada Senin (27/2/2023) dini hari. Mereka diduga memanjat pagar bagian belakang untuk melarikan diri.

Menurut data yang diterima pada Selasa (28/2/2022), sembilan orang yang kabur adalah Abdul Syukur (25), Abdul Syukur (30), M Taher (39), Syafaturrahman (18), Kafayatullah (22), M Tuyub (15), M Saber (19), Mujirahman (25) dan Yassar (43).

Kapolres Pidie, AKBP Imam Asfali SIK, membenarkan kejadian ini dan mengatakan bahwa polisi bersama TNI dan warga sedang melakukan pencarian terhadap sembilan orang Rohingya yang kabur tersebut. Ia juga mengimbau kepada warga yang mengetahui keberadaan mereka untuk melaporkan ke pihak kepolisian.

Camat Padang Tiji, Asriadi SSos, menjelaskan bahwa sembilan imigran Rohingya tersebut kabur dari penampungan sementara Mina Raya, Gampong Luen, Kecamatan Padang Tiji. Mereka diketahui memanjat pagar belakang dan kemungkinan bersembunyi di kebun warga di sekitar kawasan tersebut. Pencaharian terus dilakukan oleh petugas.

Camat Asriadi juga meminta pihak UNHCR dan IOM untuk memasang CCTV agar pergerakan para imigran Rohingya dapat terdeteksi jika mereka hendak kabur lagi.

Sebelumnya, empat imigran Rohingya juga kabur dari penampungan sementara yang sama namun tiga di antaranya berhasil diamankan oleh polisi.

Dua Wanita Yang Hilang Ternyata Tewas Dicor Semen

Dua Wanita Yang Hilang Ternyata Tewas Dicor Semen
Proses evakuasi dua mayat wanita yang tewas dicor semen (Foto Tribunjakarta)
BEKASI - Dua wanita ditemukan tewas di sebuah rumah di Bekasi Utara dalam kasus pembunuhan yang menghebohkan. Kejadian ini terungkap ketika suami salah satu korban mencari istrinya dengan melacak GPS ponselnya. Setelah berkoordinasi dengan kepolisian dan melakukan pencarian dengan bantuan CCTV, korban bernama Heni Purwaningsih dan Yusi ditemukan masuk ke dalam rumah tersebut. Pihak keamanan bersama pengurus lingkungan dan suami korban kemudian mendobrak pintu rumah yang tidak merespon. Saat berhasil masuk, ditemukan terduga pelaku bernama Permana dalam kondisi bersimbah darah dengan luka sayatan di lengan nadi yang diduga sengaja dilakukan untuk mengakhiri hidupnya. Permana ditemukan sekarat dan kemudian meninggal di rumah sakit.

Selanjutnya, warga curiga dengan kondisi lantai di bawah tangga yang terdapat gundukan semen coran memanjang. Kecurigaan warga ini terbukti benar ketika ditemukan dua wanita yang sebelumnya dicari terkumpul di bawah tangga tersebut. Dua wanita tersebut ditemukan ditutup coran semen seperti gundukan tanah. Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Polisi Hengki mengkonfirmasi bahwa kedua jasad tersebut telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Polri dr. Sukanto. Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan luka dan penyebab kematian korban.

Kediaman tempat kedua jasad wanita ditemukan ternyata dihuni oleh pria bernama Permana yang juga ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka sayatan di lengan nadi. Pihak kepolisian masih terus menyelidiki kasus ini untuk mengungkap kejadian sebenarnya. Saat ini, informasi lebih lanjut mengenai kasus pembunuhan ini masih menunggu hasil autopsi untuk diketahui penyebab kematian korban secara pasti.

Di Sidang Dewan HAM PBB, Menlu Menyebutkan Jokowi Menyesali 12 Pelanggaran HAM Indonesia Di Masa Lalu

 

Di Sidang Dewan HAM PBB, Menlu Menyebutkan Jokowi Menyesali 12 Pelanggaran HAM Indonesia Di Masa Lalu
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L. P. Marsudi (Foto Kemenlu)
JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L. P. Marsudi mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah mengakui dan menyesali 12 insiden pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia pada masa lalu. Hal ini disampaikan oleh Retno dalam Sidang Dewan HAM PBB ke-52 di Jenewa, Swiss pada Senin (27/2/2023).

Retno menekankan bahwa mengakui kesalahan dan pelanggaran HAM masa lalu adalah penting untuk mencegah hal yang sama terjadi di masa depan. Indonesia memiliki keberanian untuk mengakui pelanggaran HAM dan berkomitmen untuk merehabilitasi korban, tanpa mengesampingkan penyelesaian hukum.

Penguatan aspek pencegahan akan berkontribusi terhadap perlindungan HAM yang lebih kuat. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebijakan afirmatif, akses setara terhadap kesempatan dan sumber daya, dan mekanisme untuk mencari keadilan oleh korban.

Dalam sidang tersebut, Retno juga menyampaikan bahwa Dewan HAM PBB harus beradaptasi dengan tantangan HAM terkini dan terus berbenah diri. Imparsialitas, transparansi, dan dialog harus menjadi ruh utama Dewan HAM. Saling tuding dan pemberlakuan standar ganda tidak akan menghasilkan solusi.

Sidang tersebut bertepatan dengan Peringatan 75 tahun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Retno menegaskan bahwa deklarasi harus meneguhkan komitmen semua negara untuk menegakkan HAM. Deklarasi selama ini terus menginspirasi transformasi menuju dunia yang lebih adil, setara, dan inklusif.

Dalam kunjungan ke Jenewa, Retno juga melakukan pertemuan bilateral dengan beberapa negara/pihak, yaitu Norwegia, Belgia, Swiss, Palestina, Finlandia, Prancis, Maladewa, Iran, dan Komisioner Tinggi HAM. Pertemuan-pertemuan bilateral membahas isu-isu perdagangan dan investasi, keketuaan Indonesia di ASEAN, tindak lanjut kesepakatan G20, serta isu-isu yang menjadi perhatian bersama seperti Myanmar, Afghanistan, dan Palestina.

Retno menambahkan bahwa pentingnya kerja sama yang erat untuk mewujudkan dunia yang lebih adil, setara, dan inklusif. Tidak boleh ada sikap acuh atau berdiam diri. Semua negara harus bekerja keras secara bersama-sama dan melakukan hal yang lebih baik lagi.[]

Sulaiman Abda Jadi Ketua Dewan Pakar Partai Aceh, Ini Alasanya..

Sulaiman Abda Jadi Ketua Dewan Pakar Partai Aceh
Sulaiman Abda tokoh senior politik Aceh diangkat jadi ketua Dewan Pakar Partai Aceh. (Foto Serambinews)
BANDA ACEH -  Musyawarah Besar (Mubes) III Partai Aceh baru-baru ini menetapkan Tgk H Muzakir Manaf atau Mualem sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA), serta memperkenalkan Drs Sulaiman Abda MSi sebagai Ketua Dewan Pakar PA. Sulaiman Abda merupakan tokoh yang pernah tiga periode menjabat sebagai anggota dan pimpinan DPR Aceh.

Meskipun suara Partai Aceh cenderung menurun dalam dua Pemilu terakhir, Sulaiman Abda memutuskan untuk menerima pinangan sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Aceh. Menurutnya, secara historis kelahiran perdamaian Aceh serta PA tidak bisa dipisahkan, begitupun dengan peran Partai Golkar yang pernah mendukung proses damai dan kelahiran partai lokal termasuk PA saat Pak JK menjadi Ketum Golkar.

Selain itu, Golkar juga mendukung penguatan desentralisasi dan penguatan demokrasi lokal, di mana salah satu instrumennya adalah partai politik lokal. Sebagai kader Golkar, Sulaiman Abda ingin pertumbuhan partai politik lokal secara khusus Partai Aceh memberikan nilai positif terhadap kepentingan Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sulaiman Abda mengajak seluruh keluarga besar Partai Aceh untuk merapatkan barisan dan menjaga kebersamaan. Kehadirannya di PA menandakan bahwa PA adalah partai yang terbuka dan memiliki hal-hal yang positif yang perlu dikuatkan dan dipertahankan. Jika masih terdapat kekurangan di sana sini, Sulaiman Abda mengajak untuk bersama-sama berbenah.[]

Datok Penghulu Di Aceh Tamiang Minta Maaf Atas Kejadian Rombongan Pengantin Injak Sajadah

Datok Penghulu Di Aceh Tamiang Minta Maaf Atas Kejadian Rombongan Pengantin Injak Sajadah
Potongan video Dattok Penghulu minta maaf atas kejadian rombongan pengantin injak sajadah. ( Foto Sreenshot )
KUALA SIMPANG - Datok Penghulu Kampung Muka Sungaikuruk, Alfian, meminta maaf atas kejadian rombongan pengantin yang menginjak sajadah dalam video yang viral di media sosial. Melalui rekaman video, Alfian menjelaskan bahwa pengantin tersebut merupakan perangkat Kampung Muka Sungaikuruk, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, dan memohon maaf atas peristiwa tersebut atas nama pribadi dan Datok Penghulu Kampung Muka Sungaikuruk.

Alfian mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat dan umat Muslim di Muka Sungaikuruk, Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, provinsi, dan seluruh Indonesia. Ia juga menegaskan akan menjadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk ke depannya agar hal serupa tidak terulang. Sebelumnya, Alfian tidak merespons konfirmasi dari media setelah video tersebut tersebar.

Video tersebut menampilkan prosesi pernikahan di mana keluarga mempelai wanita menjadikan sajadah sebagai pengganti “karpet merah” untuk menyambut rombongan mempelai pria, yang kemudian menginjak sajadah tersebut dengan sepatu dan sandal. Warga menilai penggunaan sajadah sebagai karpet merah tidak memiliki alasan, karena kondisi jalan cukup bagus. Kasus ini menuai kritik dan reaksi negatif dari masyarakat, sehingga permintaan maaf dari Alfian diharapkan dapat meredakan ketegangan dan menghentikan tindakan serupa di masa depan.


Harga Tiket Dan Jadwal Kapal Expres Banda Aceh-Sabang Dan Sebaliknya, Selasa 28 Februari 2023

Harga Tiket Dan Jadwal Kapal Expres Banda Aceh-Sabang Dan Sebaliknya, Selasa 28 Februari 2023
Kapal cepat yang melayani Sabang - Banda Aceh ( Foto Serambinews )
SABANG - Bagi calon penumpang yang ingin bepergian dari Banda Aceh ke Sabang atau sebaliknya dengan waktu tempuh lebih cepat, sekitar 45 menit, dapat memilih kapal cepat sebagai moda transportasi lautnya. Namun, bagi penumpang yang tidak terburu-buru dan ingin membawa kendaraan baik roda dua maupun empat dengan waktu perjalanan sekitar dua jam, dapat menggunakan kapal Roro atau kapal lambat yang memiliki tiket lebih murah.

Penyeberangan menggunakan kapal cepat tersedia setiap hari dengan tarif sekali jalan untuk kelas VIP penumpang dewasa sekitar Rp125 ribu. Tarif kelas VIP bagi penumpang anak-anak usia 6-10 tahun sekitar Rp110 ribu. Harga tiket dewasa kelas executive sekitar Rp100 ribu dan anak-anak sekitar Rp90 ribu. Untuk bayi dengan usia 0-5 tahun, harga tiketnya sekitar Rp15 ribu. Sementara tiket dewasa khusus warga dengan KTP Sabang adalah sekitar Rp65 ribu dan anak-anak sekitar Rp55 ribu.

Berikut jadwal pemberangkatan Kapal Express tujuan Sabang dan sebaliknya untuk Selasa, 28 Februari 2023:

Keberangkatan dari pelabuhan Balohan Sabang - Ulee Lheue Banda Aceh:

1.Kapal Express Bahari 5F, berangkat pukul 08.00 WIB
2.Kapal Express Bahari 2F, berangkat pukul 14.30 WIB
3.Kapal Express Bahari 5F, berangkat pukul 16.00 WIB


Keberangkatan dari pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh - Balohan Sabang:

1.Kapal Express Bahari 2F, berangkat pukul 08.00 WIB
2.Kapal Express Bahari 5F, berangkat pukul 10.00 WIB
3.Kapal Express Bahari 2F, berangkat pukul 16.15 WIB

Jadwal kapal dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi cuaca dan peningkatan pengguna jasa.

Senin, 27 Februari 2023

Israel Dan Palestina Capai Kesepakatan Langka Untuk Menghentikan Pemukiman Ilegal Selama 6 Bulan

Israel Dan Palestina Capai Kesepakatan Langka Untuk Menghentikan Pemukiman Ilegal Selama 6 Bulan
Kawasan pemukiman Yahudi Pisgat Zeev dan Desa Hizma, Palestina di bagian utara Jerusalem Timur yang dianeksasi Israel dan wilayah Palestina di Al-Ram, Tepi Barat yang diduduki. ( Foto AFP )
AQABA - Israel dan Palestina mencapai kesepakatan langka dengan setuju untuk menghentikan otorisasi pemukiman ilegal di Tepi Barat selama enam bulan. Kesepakatan tersebut dicapai setelah para pejabat Israel dan Palestina berjanji untuk mengurangi kekerasan yang semakin meningkat.

Kedua pihak membuat pernyataan bersama di resort Laut Merah Aqaba, Yordania pada hari Minggu (26/2/2023), di mana mereka mengatakan bahwa mereka akan bekerja sama untuk mencegah kekerasan lebih lanjut dan melakukan deeskalasi.

Menurut Al-Jazeera, Israel berkomitmen untuk tidak membahas pendirian unit pemukiman baru selama empat bulan dan tidak menyetujui pemukiman baru selama enam bulan. Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menekankan perlunya berkomitmen untuk mengurangi eskalasi dan mencegah kekerasan lebih lanjut.

Pernyataan bersama tersebut dikeluarkan setelah pertemuan dihadiri oleh pejabat Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Mesir. Pertemuan itu diadakan di tengah meningkatnya kekerasan menjelang bulan suci Ramadhan.

Selain itu, otoritas Israel dan Palestina menegaskan kesiapan dan komitmen bersama untuk menghentikan tindakan sepihak selama tiga hingga enam bulan. Yordania bersama Mesir dan AS menyambut kesepakatan ini sebagai kemajuan besar menuju pembangunan kembali dan untuk memperdalam hubungan antara kedua belah pihak.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, mengatakan bahwa AS menganggap pertemuan ini sebagai titik awal untuk membangun masa depan yang stabil dan sejahtera bagi orang Israel dan Palestina. Namun, ia menekankan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan selama beberapa pekan dan bulan mendatang untuk mewujudkan implementasi kesepakatan tersebut.

Pembicaraan antara Israel dan Palestina ini dilakukan pada hari yang sama ketika dua warga Israel tewas ditembak di Tepi Barat yang oleh pemerintah Israel disebut sebagai serangan teror Palestina. Penembakan tersebut terjadi beberapa hari setelah tentara Israel melancarkan penyerbuan di Tepi Barat, yang mengakibatkan 11 warga Palestina tewas di Nablus.[]

PT Adhi Karya (Persero) Tbk Memberikan Sumbangan Donasi Sebesar Rp 20 Juta Melalui BPBA dan F-PRB Aceh Untuk Korban Gempa Bumi Di Turki

PT Adhi Karya (Persero) Tbk Memberikan Sumbangan Donasi Sebesar Rp 20 Juta Melalui BPBA dan F-PRB Aceh
PT Adhi Karya (Persero) Tbk memberikan sumbangan donasi sebesar Rp 20 juta melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh untuk membantu korban gempa bumi di Turki
(Foto Serambinews)
BANDA ACEH - Bantuan untuk meringankan beban korban gempa bumi di Turki dan Suriah terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pada hari ke-18 sejak Donasi Aceh Peduli Turki dibuka, sudah terkumpul dana sumbangan dari berbagai pihak dengan jumlah lebih dari Rp 3 miliar.

Para donatur berasal dari berbagai kalangan, termasuk SKPA, pemerintah kabupaten/kota, BUMN, perusahaan, dunia usaha, hingga masyarakat biasa. Salah satu perusahaan yang baru saja memberikan donasi adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Sebagai sebuah BUMN yang sedang melaksanakan pembangunan proyek Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh), PT Adhi Karya (Persero) Tbk menyalurkan donasinya melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh.

Pada hari Senin (27/2/2023), donasi tersebut secara simbolis diserahkan oleh perwakilan PT Adhi Karya Tbk, Ari Wibowo, dan diterima oleh Kepala Pelaksana (Kalak) BPBA Nota Dinas kepada Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Boby Syahputra di Posko Sekretariat Aceh Peduli Turki.

Ketua Forum PRB Aceh, Muhammad Hasan, SSi, MSi juga ikut mendampingi Kalak BPBA Nota Dinas kepada Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Boby Syahputra pada saat tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat, dana donasi dari PT Adhi Karya Tbk tersebut dikumpulkan oleh Project Director, Rony Kusumanegara.

Hingga hari Senin (27/2/2023), total donasi untuk korban gempa Turki sudah mencapai Rp 3.325.428.051 menurut pernyataan Ketua Forum PRB Aceh, M Hasan Dibangka. Selain PT Adhi Karya (Persero) Tbk, peserta Tour De Sumatera VI juga telah menyalurkan donasinya untuk korban gempa Turki dan Suriah melalui BPBA.

"Alhamdulillah, donasi terus berdatangan untuk korban gempa Turki," ucap M Hasan Dibangka.

FDK UIN Ar-Raniry Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan Dan Penyalahgunaan Narkoba Bagi Dosen Dan Mahasiswa

FDK UIN Ar-Raniry Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan Dan Penyalahgunaan Narkoba Bagi Dosen Dan Mahasiswa
FDK UIN Ar-Raniry Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan Dan Penyalahgunaan Narkoba Bagi Dosen Dan Mahasiswa (Foto Lamurionline)
BANDA ACEH - Masalah narkoba di Indonesia sangat memprihatinkan dan bahkan dalam keadaan kritis, nyatanya masih banyak pecandu narkoba yang sekarat. Permasalahan tersebut mendorong Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengadakan Pelatihan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dengan tema “Bahaya Narkoba pada Generasi Muda” di Aula FDK, Senin (27/2)

Acara ini dibuka langsung oleh Dekan FDK, Dr. Kusmawati Hatta, M.Pd. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa FDK.

Dalam sambutannya, Kusmawati mengajak seluruh elemen dosen dan mahasiswa FDK untuk menjadi corong dan duta pencegahan narkoba di masyarakat Aceh, karena mahasiswa FDK berasal dari berbagai daerah di Aceh dan Indonesia.

Ketua panitia pelaksana, Rahmatul Akbar, M.Ag mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah pencegahan narkoba di kalangan mahasiswa dan juga pencegahan dari dunia akademik. Ini juga semacam perang dunia kampus melawan narkoba karena kampus juga menjadi sasaran peredaran narkoba akhir-akhir ini.

Pelatihan ini akan memberikan informasi kepada mahasiswa dan dosen tentang berbagai jenis narkoba dan bahayanya bagi generasi bangsa. Dimoderatori oleh Narasumber  Syahrul Maulidi, SE, M.Si DPP selaku Ketua Umum IKAN (Inspirasi Keluarga Anti Narkoba), Moderator kegiatan ini, Fitri Meliya Sari, M.I. Kom yang juga dosen tetap di FDK. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini berkaitan dengan pengetahuan umum tentang narkoba dan jenisnya, serta tindakan pencegahan yang harus dilakukan dosen dan mahasiswa.

Acara di main hall FDK ini merupakan pelatihan FDK terakhir pada bulan Februari 2023.[]

Kajari Aceh Timur Ajak Wartawan Dukung Penegak Hukum

Kajari Aceh Timur Ajak Wartawan Dukung Penegak Hukum
Kajari Aceh Timur Silaturrahmi Ke Kantor PESAWAT (Foto Serambinews)
IDI - Kajari Aceh Timur, Dr. Lukman Hakim SH, MH, mengajak para wartawan di Aceh Timur untuk mendukung proses penegakan hukum di wilayah Kabupaten Aceh Timur.

Dalam kunjungannya ke kantor Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT) di Idi pada hari Senin, 27 Februari 2023, Kajari Aceh Timur menyampaikan harapannya untuk bersinergi dengan rekan-rekan wartawan dan berkolaborasi untuk mendukung kinerja dalam proses penegakan hukum di Aceh Timur.

Sebagai mantan Koordinator Kejati Kalimantan Barat yang baru dilantik sebagai Kajari Aceh Timur pada 11 Februari 2023, Dr. Lukman Hakim berharap agar para wartawan yang konsisten menjalankan tugas sebagai kontrol sosial dapat memantau dan turut serta mengawasi proses penegakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kajari Aceh Timur meminta peran serta para wartawan dalam memastikan agar proses penegakan hukum dapat berjalan sesuai dengan realita dan on the track.

Dr. Lukman Hakim juga mengingatkan bahwa sesuai dengan pesan Jaksa Agung, proses penegakan hukum harus selalu mengedepankan hati nurani.

Dalam kunjungan tersebut, Kajari Aceh Timur didampingi oleh Kasi Intelijen Agusta Kanin SH MH, Kasi Pidsus Fadli Setiawan SH MKn, Kasi Pidum Septeddy Endra Wijaya SH MH, Kasi Datun Rahmah Hayati Sinaga SH, dan Kasubbag Pembinaan Rizky Fauzi SH.

Selain itu, rombongan Kajari Aceh Timur disambut oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT) Seni Hendri SH dan jajaran pengurus lainnya seperti Hasballah Kadimin, Ismail Abda, Heri Yansyah ST, Iskandar Ishak, Jamadon, Aburrachman, Hasan Basri Maken, dan Sri Wahyuni.[]

18 Destinasi Wisata Kota Sabang Yang Menarik Untuk Dikunjungi

18 Destinasi Wisata Kota Sabang Yang Menarik Untuk Dikunjungi
18 Destinasi Wisata Kota Sabang Yang Menarik Untuk Dikunjungi (Foto @vebrianz)
ACHEH NETWORK - Kota Sabang merupakan kota paling barat di Indonesia yang seringkali dijadikan sebagai bahan pembelajaran di kelas geografi. Secara administratif, kota ini masuk dalam wilayah provinsi Aceh, namun secara geografis Sabang berada di Pulau Weh. Sabang terdiri dari banyak pulau kecil yang tersebar di bagian utara dan barat, di antaranya adalah Pulau Weh yang merupakan pulau terbesar dan Pulau Rondo yang terletak di ujung utara.

Daya tarik utama Kota Sabang adalah panorama alam tepi lautnya yang mengesankan. Kota ini menjadi tuan rumah berbagai festival bahari seperti Sail Sabang 2017 dan Sabang Marine Festival yang digelar pada April tahun lalu. Saat ini, Sabang Yacht Club hadir sebagai wadah bagi para pecinta olahraga yacht dan telah menjadi bagian dari jaringan klub yacht di Asia Tenggara.

Selain panorama pantainya yang indah, Sabang juga memiliki banyak tempat wisata lain yang patut dikunjungi selama liburan. Terdapat banyak tempat menarik seperti objek wisata alam, museum, dan bangunan bersejarah yang akan membuat liburan Anda semakin berkesan.


Berikut adalah 18 destinasi wisata yang dapat kamu kunjungi di Kota Sabang:


1. Pantai Iboih

Pantai ini mungkin adalah pantai yang menjadi simbol kota Sabang. Lokasinya hanya 30 menit dari pusat kota. Lokasi pantai dan ombak yang tenang menjadikan pantai ini tempat yang sangat cocok untuk bersantai. Anda juga tidak boleh melewatkan keindahan dunia bawah laut. Ada banyak akomodasi di dekat pantai jika Anda berencana menghabiskan lebih banyak waktu di sini.


2. Pantai Sumur Tiga

Sebelah timur Kota Sabang merupakan pantai yang digemari banyak orang untuk menikmati matahari terbit. Pantai berpasir putih dan perairan pantai yang jernih akan membuat Anda merasa seperti di rumah sendiri. Nama "Sumur Tiga" berasal dari kisah tiga sumur air tawar yang konon terletak di kawasan pesisir tersebut. Anda juga bisa menghabiskan sore hari dengan menyantap seafood di warung-warung yang bertebaran di sepanjang tepi pantai.


3. Pantai Anoi Itam

Berbeda dengan dua pantai sebelumnya, pantai yang satu ini berpasir hitam. Asal usul Pasir Pantai Anoi Hitam ini berasal dari letusan gunung berapi Pulau Weh. Pasir di sini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Warna hitam pasirnya sangat kontras dengan jernihnya air pantai, memberikan Anda pemandangan yang tidak akan Anda temukan di tempat lain.


4. Danau Aneuk Laot

Danau terbesar di Pulau Weh ini menjadi sumber air tawar bagi masyarakat Kota Sabang dan sekitarnya. Di sini Anda bisa melakukan berbagai aktivitas seru seperti bersantai di tepi danau, bermain kayak, atau sekadar menikmati pemandangan Gunung Marapi dari kejauhan.


5. Air Terjun Pria Laot

Air terjun ini sangat menarik untuk dikunjungi. Berada di kawasan hutan membuat kawasan air terjun terasa sangat asri dan menenangkan. Kedalaman kolam air terjun 1,5-2 meter. Di sini Anda bisa berenang sepuasnya. Kehadiran mola-mola di kolam air terjun ini membuat berenang semakin menyenangkan karena serasa digelitik oleh ikan-ikan tersebut. Sunfish tidak berbahaya dan bahkan dapat digunakan sebagai ikan terapi untuk berbagai masalah kesehatan. Wah, ini benar-benar unik.


6. Gua Sarang

Gua Sarang sering disebut sebagai Raja Ampatnya Sabang. Gua Sarang sebenarnya adalah gua yang menjadi sarang burung walet. Ada tujuh gua di kaki tebing dan perbukitan hutan yang terlindung. Ketujuh gua ini berdiri kokoh di atas laut biru Pulau Weh yang terbentang langsung di Samudera Hindia. Di sini Anda dijamin pemandangan yang tidak akan pernah Anda lupakan.


7. Tugu Nol Kilometer

Berkunjung ke Sabang tentunya belum lengkap tanpa berfoto di depan Tugu Nol Kilometer Indonesia. Karena letaknya di kawasan hutan, jangan heran jika dalam perjalanan menuju tugu banyak dijumpai monyet yang berkeliaran bebas. Tugu Nol Kilometer memiliki tinggi 43,6 meter dan memiliki empat penopang yang megah. Fasilitas di kawasan wisata ini sangat memadai. Di sini Anda dapat dengan mudah menemukan restoran, toilet, dan toko suvenir.


8. Pantai Ujung Kareueng

Selain bisa bermain di area pantai berpasir, Anda juga akan dimanjakan dengan deretan karang yang megah. Anda sekarang dapat melompat dari atas batu terkenal ini. Untuk amannya, jangan khawatir, kedalaman air di bawah karang hanya sekitar 4-5 meter tanpa ada bebatuan di bawahnya. Apakah Anda berani mencoba?


9. Benteng Bunker Jepang

Dahulu kota Sabang memiliki letak geografis yang strategis, sehingga tidak mengherankan jika Jepang membangun bentengnya di sini. Bukan sembarang benteng, tapi benteng bawah tanah. Benteng ini tersebar di sepanjang pantai Pulau Weh, namun yang masih terlihat jelas adalah benteng di dekat pantai Anoi Itam. Menurut warga sekitar, benteng ini bahkan memiliki koridor bawah tanah yang mengarah ke bekas kawasan pos komando.


10. Sirui Hidrotermal

Ini adalah pemandangan unik yang mungkin tidak Anda temukan di kota-kota lain di Indonesia. Namanya Sirui Hidrotermal. Sirui Hydrothermal tidak lebih dari area bawah air vulkanik. Di sini Anda bisa menyelam dan melihat bagaimana gelembung udara keluar dari kawah-kawah kecil. Anda juga akan menemukan berbagai ikan unik yang berbeda dari biasanya. Benar-benar unik bukan? Tidak mengherankan jika Sirui sangat diminati oleh banyak wisatawan domestik dan mancanegara.


11. Pemandian Air Panas Keuneukai

Ternyata Sabang punya gunung berapi aktif, namanya Gunung Jaboi. Mata air panas dari gunung ini, yang kemudian digunakan sebagai tempat pemandian bagi wisatawan. Di sini Anda bisa bersantai dan meregangkan otot di kolam air panas sambil menikmati pemandangan pantai yang indah.


12. Sabang Hill

Jika ingin melihat Kota dan Teluk Sabang dari atas, cobalah datang ke Bukit Sabang. Sabang Hill sendiri sebenarnya adalah nama hotel yang berada di atas bukit tersebut. Namun, anggota masyarakat setempat berinisiatif untuk membangun gardu pandang yang dapat digunakan masyarakat umum untuk melihat pemandangan indah Kota Sabang.


13. Pantai Kasih

Pantai Kasih bisa menjadi tempat wisata nomor satu di Sabang. Jarak dari pusat kota hanya 5 menit. Ada banyak bangku untuk duduk dan bersantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Pantai ini lebih ramai dikunjungi pada sore hari karena merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset.


14. Pantai Gapang

Meski lokasinya cukup terpencil, pantai ini layak untuk perjalanan panjang. Pantainya sangat sepi dan ada beberapa perahu nelayan tradisional. Pantai ini merupakan pantai terpanjang di Sabang dan sangat damai. Pantai ini terhubung langsung dengan lautan luas dan menawarkan pemandangan yang tak terlupakan. Air di pantai ini sangat jernih sehingga Anda bisa melihat dengan jelas ikan-ikan yang berenang di sekitar dermaga. Bukankah itu menyenangkan?


15. Pantai Tapak Gajah

Tidak ada sejarah yang jelas tentang penamaan Pantai Tapak Gajah. Namun keindahan pantai ini tidak diragukan lagi. Jaraknya juga hanya 5 menit dari pusat Sabang. Hiburan yang populer di pantai ini adalah snorkeling, yang memungkinkan Anda menjelajahi alam bawah laut yang indah dan indah. Pantai ini memiliki banyak semak yang membuatnya sedikit berbeda dari pantai lain di Sabang.


17. Pulau Rubiah

Tidak lengkap rasanya jika ke Sabang tanpa island hopping. Salah satu pulau yang wajib Anda kunjungi adalah Pulau Rubiah. Tempat wisata yang akan Anda temui di sini tidak lain adalah Taman Laut Rubiah yang memamerkan pesona kekayaan alam bawah laut terindah Sabang. Meski tidak berpenghuni, ada beberapa warung dan tempat penyewaan peralatan snorkeling di sekitar pantai. Anda bisa sampai di sini dari Pantai Iboih, dan perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.


18. Gunung Jaboi

Jika Anda mencari tantangan mendaki gunung yang menarik, Gunung Jaboi bisa menjadi pilihan yang tepat. Gunung ini adalah gunung api aktif yang terletak di Pulau Weh. Meski ketinggiannya tidak lebih dari 200 meter di atas permukaan laut, jalur trekkingnya cukup menantang namun tetap dapat dilalui. Selain itu, pemandangan yang disajikan tidak kalah menakjubkan. Anda dapat melihat kontras antara batuan pegunungan yang berwarna putih dan hutan hijau di sekitarnya.



Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf Ajak Kader Menangkan 50% Suara Pada Pemilu 2024

Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf Ajak Kader Menangkan 50% Suara Pada Pemilu 2024
Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf Ajak Kader Menangkan 50% Suara Pada Pemilu 2024
( Foto AJJN)
BANDA ACEH - Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA), Muzakir Manaf atau Mualem, berkomitmen untuk meraih kemenangan pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 dengan meraih 50 persen suara. Hal ini ia sampaikan saat penutupan Musyawarah Besar (Mubes) PA di Banda Aceh, pada Minggu malam, 26 Februari 2023.

Mualem meminta seluruh kader PA untuk bekerja sama dan bekerja keras dalam meraih kemenangan tersebut. Ia menyatakan bahwa perjalanan PA masih panjang, terlebih PA didirikan dengan perjuangan dan harapan rakyat Aceh. Namun, Mualem optimis bahwa PA dapat memenangkan Pileg 2024.

Mualem juga menyinggung tentang era demokrasi yang membuka berbagai sektor kehidupan, termasuk politik. Oleh karena itu, PA akan memanfaatkan hal ini untuk membuka ruang yang akan diisi oleh kaum muda. Ia bahkan menyebutkan bahwa sudah ada orang baru yang bergabung dengan PA dan berharap hal ini dapat menjadi inspirasi bagi kader partai.

Dalam rangka meraih kemenangan tersebut, Mualem berharap seluruh kader PA dapat memaksimalkan kekuatan partai yang telah terbukti kuat dan memiliki kepemimpinan yang tangguh dan hebat.

Dengan ajakan Mualem ini, diharapkan seluruh kader PA dapat bersama-sama memperjuangkan kemenangan pada Pileg 2024 dan mewujudkan visi partai untuk Aceh yang lebih baik.[]

Utang Negara Tembus Rp 7.754 Januari 2023, Naik 20 T

Utang Negara Naik 20 T
Ilustrasi Utang Negara (Foto Pixabay)
JAKARTA - Hingga tanggal 31 Januari 2023, utang pemerintah pusat telah mencapai angka Rp7.754,98 triliun, naik sebesar Rp20,99 triliun dari akhir Desember 2022 yang sebesar Rp7.733,99 triliun. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa posisi utang tersebut setara dengan 38,56 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Surat Berharga Negara (SBN) mendominasi jumlah utang pemerintah sebesar 88,90 persen atau Rp6.894,36 triliun, sedangkan utang pinjaman sebesar 11,10 persen atau Rp860,62 triliun. Dari jumlah utang SBN tersebut, terdiri dari utang domestik sebesar Rp5.519,27 triliun, yang terdiri dari SUN sebesar Rp4.480,31 triliun dan SBSN sebesar Rp1.038,96 triliun. Sementara itu, utang SBN dari valas mencapai Rp1.375,09 triliun, yang terdiri dari SUN sebesar Rp1.057,63 triliun dan SBSN sebesar Rp317,46 triliun.

Adapun utang dari pinjaman terdiri dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp21,68 triliun, dan pinjaman luar negeri sebesar Rp838,94 triliun. Meski posisi utang terus meningkat, Kemenkeu memastikan bahwa pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati dengan risiko yang terkendali. Kemenkeu menegaskan bahwa pemerintah melakukan pengelolaan utang secara optimal, baik terkait mata uang, suku bunga, maupun jatuh tempo, guna meminimalkan risiko yang terkait dengan pengelolaan utang tersebut.[]

Minggu, 26 Februari 2023

Kuah Beulangong Sajian Khas Aceh Rayeuk Yang Melagenda

Kuah Beulangong Masakan Khas Aceh Rayeuk
Kuah Beulangong Sajian Khas Aceh Rayeuk Yang Melagenda ( Foto jalurrempah.kemdikbud)
ACHEHNETWORK.COM - Khazanah kuliner Aceh sangat beragam, salah satunya adalah sambal Beulangong. Disebut beulangong karena masakan ini dimasak dalam panci besar, yang disebut beulangong dalam bahasa ujung barat sumatera.

Jadi Kuah Beulangong sendiri mengacu pada daging sapi atau kambing yang dimasak dalam panci besar, dan proses memasaknya cukup unik. Jangan tanya soal rasa karena bumbu yang berbeda dicampur menjadi satu.

Setiap daerah di Aceh memiliki kekhasan masing-masing dalam membuat kuah Beulangong, maka kali ini achehnetwork.com menyajikan Kuah Beulangong Masakan Khas Aceh Rayeuk yang konon merupakan masakan tradisional Kesultanan Aceh.


Berikut Resep Kuah Beulangong

Bahan: 

2 kilogram daging sapi/kambing

1 buah nangka, ukuran tidak terlalu besar


Bumbu halus:

2 ons cabai kering

2 ons cabai merah

1 ons cabai rawit

1 ons ketumbar

200 gram kelapa gongseng

50 gram bawang putih

50 gram jahe

50 gram kunyit

50 gram kemiri

1 buah kepala yang tidak terlalu tua tapi cukup matang, parut


Bumbu Lain:

250 gram bawang merah, rajang Batang serai secukupnya Batang daun kari secukupnya

2 buah biji pala

1 sendok makan kapulaga

1 sendok makan bunga lawang

Garam secukupnya



Cara Membuat Kuah Beulangong:

Pertama haluskan semua bumbu halus. Bisa menggunakan blender, food processor, atau ulekan.

Kemudian cuci bersih daging, lalu potong-potong sesuai selera.

Siapkan panci atau belanga. Letakkan daging di dalamnya. 

Taburkan bumbu halus di atas daging beserta kelapa gongseng dan kelapa parutnya. Lalu campurkan hingga merata. Tambahkan sedikit air untuk menutupi daging. Masukkan bumbu lain ke dalam belanga. Tambahkan garam dan perasa sesuai selera. Ungkep daging hingga cukup empuk

Jika daging dirasa cukup empuk, tambahkan air secukupnya untuk mematangkan daging. Lalu masukkan buah nangka yang sudah dicuci bersih dan dipotong-potong. Masakkemudianl diaduk, koreksi rasa. Jika kematangan daging dirasa sudah cukup dan rasa sudah sesuai, matikan api. Kuah beulangong pun siap disajikan.[]

Imigrasi Menghapus Syarat Rekomendasi Kemenag Untuk Mengurus Pasport Umrah

 

Imigrasi Menghapus Syarat Rekomendasi Kemenag Untuk Mengurus Pasport Umrah
Ilustrasi Haji dan Umrah di Masjidil Haram (Foto Pixabay)
JAKARTA - Dirjen Pelayanan Imigrasi Silmy Karim mengatakan, rekomendasi Kementerian Agama tidak lagi diperlukan untuk mendapatkan paspor umrah.Pencabutan rekomendasi Kemenag sebagai syarat pengurusan paspor umrah itu tertuang dalam surat Dirjen Imigrasi Bidang Pelayanan Paspor RI Untuk Jemaah Haji dan Umrah, nomor IMI-GR.01.01-0070, tertanggal Februari . 22 Februari 2023.

Hal itu juga dibahas pada Selasa (21/2) di Direktorat Jenderal Imigrasi  dengan DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI). 

"Kita jangan mempersulit orang yang ingin menjalankan ibadahnya," kata Silmy dalam keterangan tertulis, Kamis (23/2). 

“Imigrasi selalu berupaya melayani jemaah haji dan umrah dengan sebaik-baiknya, baik selama proses pembuatan paspor maupun selama perjalanan pulang pergi ke negara asalnya,” lanjutnya.

Silmy menegaskan pencabutan persyaratan rekomendasi Kemenag bukan berarti pihaknya tidak melakukan pemeriksaan. Dia meyakinkan otoritas imigrasi masih menyelidiki pemohon paspor yang diduga melakukan penyalahgunaan. 

Pemeriksaan dilakukan di Kantor Imigrasi dan Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) dengan wawancara singkat petugas. Menurut Silmy, berdasarkan hasil evaluasi, rekomendasi Kementerian Agama tidak menjamin paspor tidak disalahgunakan di luar negeri. 

“Oleh karena itu, setelah penerapan kebijakan ini, saya mendorong perusahaan atau asosiasi penyelenggara umrah dan haji untuk memastikan jamaahnya kembali ke Indonesia,” kata Silmy.

“Jika penyelenggara haji dan umrah melanggar aturan, kami akan mengevaluasi kembali kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Memastikan kepulangan jemaah umrah juga mendukung kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi tentang pembatasan penempatan TKI. Saat ini, moratorium penempatan PMI di Arab Saudi masih berlaku dengan menggunakan Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK).  

Tragedi Beutong Ateuh Peristiwa Pesantren Diserbu Timah Panas Milik TNI Masa Rezim Soeharto

Tgk Bantaqiah
Foto Tgk Bantaqiah

ACHEH NETWORK - Rezim Suharto diketahui telah menguras kekayaan alam Aceh dan juga melakukan genosida terhadap Muslim Aceh. Operasi Jaring Merah atau yang dikenal dengan DOM pada tahun 1989-1998 adalah salah satu contoh kekejaman yang dilakukan oleh rezim ini terhadap Muslim Aceh. Menurut banyak peneliti DOM, kekejaman tersebut dapat disetarakan dengan kekejaman yang dilakukan oleh Milisi Serbia terhadap Muslim Bosnia pada era 1990-an. Wilayah Aceh yang luas telah dijadikan kuburan massal oleh rezim fasis Suharto, dan Muslim Aceh yang hidup dalam kerangka Islam selama berabad-abad dihinakan oleh rezim ini.

Bukit Tengkorak juga dikenal sebagai salah satu ladang pembantaian yang terkenal di Aceh. Ada 35 titik ladang pembantaian di Aceh, jauh lebih banyak daripada di Kamboja. Ada banyak pameran kekejaman dan kebiadaban yang dilakukan oleh rezim Suharto terhadap Muslim Aceh sehingga jika dijadikan buku, buku tersebut akan memiliki jumlah halaman yang sama dengan koleksi perpustakaan Iskandariyah sebelum pasukan Mongol membakarnya.

Tragedi Tengku Bantaqiah, pemimpin Dayah Babul Nurillah di Beutong Ateuh pada 23 Juli 1999, merupakan salah satu dari jutaan kasus kejahatan HAM di Aceh. Ironisnya, meskipun secara resmi DOM telah dicabut, kekejaman dan kebiadaban yang menimpa Muslim Aceh tidaklah surut. Para presiden seperti Habbie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono, pada kenyataannya malah melestarikan sistem Orde Baru. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang ada di Aceh telah berkembang penuh inovasi di era reformasi ini.

Feri Kusuma, salah satu aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Aceh, menulis secara khusus tentang Tragedi Tengku Bantaqiah ini. Artikelnya yang berjudul ‘Jubah Putih di Beutong Ateuh’ menggambarkan kondisi geografis Beutong Ateuh yang cocok untuk bersantai sambil menikmati panorama alam yang indah. Namun, Eramuslim yang mengunjungi hutan belantara ini pada tahun 2001, dua tahun setelah tragedi, melihat kondisi yang sangat mengenaskan. Kemiskinan tersebar di seluruh wilayah Aceh, padahal tanah Aceh sangat kaya dengan sumber daya alamnya. Jakarta telah menguras habis kekayaan Aceh.

Beutong Ateuh terletak di perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Barat. Dari Ulee Jalan ke Beutong Ateuh, kita akan melewati pos kompi Batalyon 113/Jaya Sakti yang terletak di areal kebun kelapa sawit. Di areal kompi ini, tepatnya di gapura, terpasang papan pengumuman berisi tulisan “TEMPAT LATIHAN PERANG TNI”.

Sekitar pukul 05.00 pagi, seluruh santri disuruh keluar dari Dayah Babul Nurillah dan diatur dalam satu barisan oleh pasukan TNI yang dipimpin oleh seorang Letkol. Selama penganiayaan berlangsung, sejumlah santri meninggal dunia, termasuk Tengku Bantaqiah sendiri. Selain itu, banyak santri yang mengalami luka-luka dan trauma psikologis yang sangat berat.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah Indonesia pada saat itu tidak melakukan tindakan apa pun untuk menyelesaikan kasus tersebut. Bahkan, keluarga korban dan para saksi mata mengalami intimidasi dan ancaman dari aparat keamanan setempat. Kasus ini menjadi salah satu contoh nyata dari pelanggaran hak asasi manusia yang sering terjadi di Aceh.

Pada akhirnya, setelah berbagai upaya yang dilakukan oleh keluarga korban dan aktivis hak asasi manusia, kasus ini akhirnya diadili di pengadilan. Meskipun pelaku diadili dan dijatuhi hukuman, kasus ini tetap meninggalkan trauma yang mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat Aceh.

Tragedi Tengku Bantaqiah merupakan contoh dari kekejaman dan pelanggaran hak asasi manusia yang sering terjadi di Aceh selama puluhan tahun. Meskipun status DOM telah dicabut pada 1998, kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat Aceh masih terjadi hingga saat ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius dan komprehensif dari pemerintah Indonesia untuk menjamin hak asasi manusia dan keadilan di Aceh.


tragedi beutong ateuh
Dayah yang menjadi saksi bisu pembantaian santri dan ulama tgk Bantaqiah
Setelah terjadinya tragedi tersebut, warga di Beutong Ateuh merasa putus asa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, para santri yang masih tersisa, kebanyakan perempuan tua dan anak-anak kecil, berusaha untuk membangun kembali pesantren dan melanjutkan pendidikan dengan keterbatasan yang ada. Sampai saat ini, pesantren tersebut masih kesulitan untuk mengumpulkan dana yang cukup untuk mengganti seluruh Al-Quran, kitab-kitab kuning, dan surat-surat Yassin yang dibakar oleh aparat. Selain itu, barang-barang seperti pakaian dan kartu tanda pengenal juga turut musnah terbakar.

Hingga kini, tidak satu pun pelaku pembantaian terhadap Tengku Bantaqiah dan santri Beutong Ateuh yang diadili. Tidak ada juga komandan tentara yang dimintai pertanggungjawaban atas ulahnya membakar kitab suci Al-Quran dan surat Yassin, sampai hari ini. Para pelakunya masih bebas berkeliaran dan mungkin hanya menunggu hukum Allah SWT untuk menentukan nasib mereka, seperti guru mereka, Jenderal Suharto.

Tragedi Beutong Ateuh hanyalah salah satu dari banyak kekejaman yang dilakukan oleh rezim Suharto terhadap umat Muslim Aceh. Hingga kini, tidak ada pejabat pemerintah, baik sipil maupun militer, yang bertanggung jawab atas kejahatan HAM yang sangat berat yang terjadi di Aceh.[]

Muzakir Manaf Kembali Terpilih Menjadi Ketua Umum Partai Aceh

Muzakir Manaf Kembali Terpilih Menjadi Ketua Umum Partai Aceh
 Musyawarah Besar (Mubes) Partai Aceh III yang digelar di Banda Aceh pada Ahad pagi, 26 Februari 2023
(Foto: infoaceh)
BANDA ACEH - H. Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem terpilih kembali menjadi Ketua Umum DPA Partai Aceh periode 2023-2028 atau periode keempat. Mualem yang merupakan mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terpilih pada Musyawarah Besar (Mubes) Partai Aceh III yang digelar di Banda Aceh pada Ahad pagi, 26 Februari 2023.

Mualem dilantik oleh peserta Mubes dan Kamaruddin Abubakar (Abu Razak) Aceh sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Partai Aceh. Dua tokoh memimpin partai politik lokal selama lima tahun. Keputusan Mualem dan Abu Razak disampaikan Ketua Mubes saat rapat, Tgk Anwar Ramli bersama Tarmizi SP, Tgk Jufri Hasanuddin, Yahdi Hasan dan Sri Mawarni. , Jufri Hasanuddin, Yahdi Hasan dan Sri Mawarni. Sebelumnya, inisiasi Mubes dilakukan oleh Tuha Peuet Partai Aceh Teungku Malek Mahmud Alhaytar. Sabtu malam, 25 Februari 2023. 


Muzakir Manaf Kembali Terpilih Menjadi Ketua Umum Partai Aceh
Muzakir Manaf Kembali Terpilih Menjadi Ketua Umum Partai Aceh
“Selamat kepada H. Muzakkir Manaf (Mualem) dan H. Kamaruddin Abubakar (Abu Razak) yang dilantik secara aklamasi sebagai Ketua U,u, dan Sekjen Dewan Pengurus Partai Aceh oleh peserta Mubes PA III periode 2023-2028.” , kata Tarmizi SP yang juga Sekretaris Panitia Mubes.

Forum Mubes memuji Mualem dan Abu Razak tetap menjabat sebagai Ketua Umum dan Sekjen. Menyusul dilantiknya Muzakir Manaf sebagai Ketua Umum DPA PA dan Abu Razak sebagai Sekjen, Mubes menutup rangkaian acara DPA-PA Mubes PA III yang berlangsung hingga Minggu sore, dengan sesi penutupan berlangsung pada Minggu malam di Hotel Hermes Palace di Banda Aceh []

Warisan Kesultanan Turki Ottoman: Air Mancur Bersejarah Istanbul Yang Menakjubkan

Air Mancur Sultan Ahmed III di Sultanahmet, di Istanbul, Türkiye.
Air Mancur Sultan Ahmed III di Sultanahmet, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)
ISTANBUL- Semua air mancur Istanbul memiliki cerita yang unik dan menarik dan berdiri di antara harta karun kota kuno yang paling megah, yang menyimpan sejarah besar di atas dan di bawah tanahnya

Air mancur tidak hanya untuk mengisi kendi dengan air. Di masa lalu, air mancur dulunya memiliki tempat komunal di mana orang akan terlibat dalam percakapan yang menyenangkan di atas air yang mengalir.

Meskipun tujuan utama "çeşme" (air mancur dalam bahasa Turki), yang berasal dari kata "çeşm" dalam bahasa Persia, adalah untuk membawa dan mengalirkan air, air mancur tersebut merupakan alat komunikasi di Türkiye. Itu juga merupakan struktur tempat orang biasa melakukan sketsa seni yang membawa jejak sejarah.

Meskipun bangunan berharga yang menyimpan jejak sejarah ini muncul di hampir setiap kota Türkiye, air mancur Istanbul, kota dengan air mancur terbanyak di dunia, sangat terkenal.

Terutama pada masa Ottoman, setelah penaklukan Istanbul, air mancur yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan air kota muncul sebagai karya seni ikonik saat ini. Air mancur, yang memamerkan arsitektur dan kaligrafi yang unik, hampir menentang waktu. Struktur ini, terutama di distrik semenanjung bersejarah seperti Beşiktaş, Eyüp, Fatih, dan Beyoğlu, adalah mutiara Istanbul.

Jadi, sekarang saya ingin memperkenalkan Anda pada beberapa mutiara bersejarah dari Kekaisaran Ottoman ini.

Seekor kucing liar meminum air dari air mancur bersejarah, di Istanbul, Türkiye.
Seekor kucing liar meminum air dari air mancur bersejarah, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)

Air Mancur Tophane

Terletak di Lapangan Tophane Istanbul, air mancur ini merupakan air mancur terbesar ketiga di Istanbul. Itu bertepatan dengan periode transisi dari gaya Ottoman klasik ke gaya Barat dan merupakan salah satu contoh terbaik dari gerakan arsitektur rococo abad ke-18.

Dibangun oleh Sultan Mahmud I Ottoman, motif tumbuhan digunakan untuk menghiasi air mancur ini, yang merupakan salah satu air mancur persegi monumental yang dibangun untuk mengakses air minum bersih. Air mancur ini dihias dengan motif tumbuhan sesuai dengan gaya masa pembuatannya. Dekorasi batu termasuk pohon buah-buahan dalam pot dan gambar bunga dalam vas. Motif-motif ini disusun seperti rangkaian berjejer ke arah rangka segi empat, samping dan relung dalam.

Air Mancur Tophane, juga dikenal sebagai Air Mancur Sultan Mahmud I, menunggu pengunjungnya sebagai salah satu air mancur Istanbul yang patut dilihat.

Air Mancur Jerman di Sultanahmet Square, di Istanbul, Türkiye.
Air Mancur Jerman di Sultanahmet Square, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)

Air Mancur Jerman

Air Mancur Jerman, yang mempesona dengan keagungannya di Alun-alun Sultanahmet, adalah salah satu alun-alun paling wisata di Istanbul. Itu dibangun di Jerman untuk memperingati ulang tahun kedua kunjungan Kaisar Jerman Wilhelm II ke Istanbul pada tahun 1898 dan merupakan hadiah untuk Sultan Abdülhamid II. Air mancur ini memiliki dua prasasti, satu dalam bahasa Turki Ottoman dan satu lagi dalam bahasa Jerman.

Air mancur, yang bagian-bagiannya dibuat di Jerman dan kemudian dirakit di Sultanahmet Istanbul, dirancang sesuai dengan gaya Neo-Bizantium dan didekorasi dengan mozaik emas. Terbuat dari syenite, salah satu batu terkeras di dunia dan sulit dipahat pada saat itu, air mancur ini akan menjadi latar terbaik untuk foto suvenir Istanbul Anda.

Menambahkan suasana unik ke Lapangan Sultanahmet, Air Mancur Jerman menyerupai museum terbuka dengan banyak artefak bersejarah dari periode Bizantium dan Ottoman, dan menunggu pengunjungnya sebagai salah satu air mancur favorit di Istanbul.

Air Mancur Jerman di Sultanahmet Square, di Istanbul, Türkiye.
Air Mancur Jerman di Sultanahmet Square, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)

Air Mancur Sultan Ahmed III di Sultanahmet

Berdiri di antara dua bangunan bersejarah paling penting di Istanbul, Air Mancur Sultan Ahmed III ditugaskan oleh Sultan Ahmed III atas saran Damat Ibrahim Pasha.

Air mancur, yang dibangun di situs Air Mancur Bizantium bernama Perayton dan mencerminkan arsitektur rococo Turki, terletak di antara gerbang masuk Istana Topkapı, salah satu bangunan bersejarah paling populer di Istanbul, dan Masjid Agung Hagia Sophia.

Air Mancur Sultan Ahmed III di Sultanahmet, di Istanbul, Türkiye.
Air Mancur Sultan Ahmed III di Sultanahmet, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)

Air Mancur Hekimoğlu Ali Pasha

Air Mancur Hekimoğlu, yang terletak di Kabataş Pier Square, dibangun untuk memenuhi kebutuhan air di distrik Beyoğlu, Galata, Tophane, dan Fındıklı. Keindahannya masih terjaga dengan pemugaran yang dilakukan pada tahun 1987, 2007, dan 2008. Air mancur ini memiliki dua prasasti: satu menghadap ke laut dan satu lagi menghadap ke jalan.

Air Mancur Hekimoğlu Ali Pasha, salah satu contoh terindah dari masa transisi ke barok Turki, adalah salah satu air mancur amal paling mempesona dari Kekaisaran Ottoman.


Air Mancur Sultan Ahmed III Üsküdar

Masjid Sultan Mihrimah yang juga merupakan karya berharga terlihat dari belakang air mancur ini yang menarik perhatian dengan keindahan dan keanggunannya yang mirip dengan patung yang terletak di seberang Pelabuhan Feri Üsküdar.

Air Mancur Sultan Ahmed III dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bagi mereka yang melewati Bosporus dan terdiri dari delapan buah keran, empat di antaranya untuk air minum dan empat untuk mengisi wadah air. Sultan Ahmed III dan Nevşehirli Damat Ibrahim Pasha menulis prasasti di sisi pantai air mancur, yang merupakan salah satu karya simbolis Üsküdar dan memiliki empat fasad seperti semua air mancur persegi.

Air Mancur Sultan Ahmed III di Üsküdar, di Istanbul, Türkiye.
Air Mancur Sultan Ahmed III di Üsküdar, di Istanbul, Türkiye. (Foto Shutterstock)

Air Mancur Sultan Mahmud II

Terletak di Sümbül Efendi di Fatih, salah satu pemukiman tertua di Istanbul, Air Mancur Sultan Mahmud II tentu saja ditugaskan oleh Sultan Mahmud II. Air mancur, yang terletak di dekat dinding luar Masjid Fevziye Küçük Efendi, telah menggantikan air mancur lain di tempat yang sama yang dihancurkan.


Air Mancur Masjid Hırka-i Şerif

Sultan Ottoman Abdulmejid I menugaskan Masjid Hırka-i Şerif pada tahun 1850 untuk melestarikan Mantel Terberkati Nabi Muhammad, yang diberikan sebagai hadiah kepada Uwais al-Qarani, yang dikenal sebagai Veysel Karani di Turki, seorang tokoh Islam abad ketujuh dari Yaman dicintai oleh orang Turki.

Air mancur ini dibangun di dinding bawah masjid. Muka Air Mancur Hırka-i Şerif, salah satu air mancur bersejarah Istanbul, dilapisi marmer. Air mancur yang bingkainya dihiasi pola relief ini juga menarik perhatian dengan monogram Ottomannya.

Dikatakan bahwa ada lebih dari 1.000 air mancur bersejarah di berbagai bagian Istanbul. Struktur bersejarah ini dapat ditemukan di seluruh kota yang megah. Meskipun beberapa di antaranya termasuk dalam struktur kota modern dan terjalin dengan kota metropolis, ketika Anda menjumpai mereka, mereka mengedipkan mata pada Anda dengan segala kemegahan dan jejak sejarahnya.



Korban Gempa di Turki dan Suriah mencapai 50.000 orang, 184 Orang Ditangkap 

 

Korban Gempa di Turki dan Suriah mencapai 50.000 orang, 184 Orang Ditangkap
Para pekerja membersihkan puing-puing bangunan yang runtuh setelah gempa mematikan di Antakya, provinsi Hatay, Türkiye, 21 Februari 2023. (Foto File Reuters)
ANKARA - Jumlah  korban  gempa  Turkiye dan  Suriah yang  meninggal dunia dilaporkan telah menembus angka 50.000 jiwa pada Jumat (24/2/2023) malam waktu setempat.

Di  Turkiye, Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD) melaporkan 44.218 orang  meninggal dunia akibat  gempa bumi dahsyat yang terjadi sejak 6 Februari lalu.

Sementara di  Suriah, jumlah  korban  meninggal dunia terakhir yang diumumkan mencapai 5.914 orang.

Dengan begitu, total ada 50.132 kematian yang sudah ditemukan dalam  gempa  Turkiye dan  gempa  Suriah.


Turki Menangkap 184 Orang

Kali ini, otoritas Turki menangkap 184 orang yang diduga menjadi penyebab runtuhnya bangunan akibat gempa berkekuatan 7,8 M.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa jumlah tersebut dapat meningkat seiring penyelidikan atas kasus tersebut berlanjut.

Setidaknya lebih dari 160.000 bangunan berisi 520.000 tempat tinggal di Turki kini runtuh atau rusak dalam bencana terburuk dalam sejarah modern negara itu.

Menteri Kehakiman Turkiye Bekir Bozdag mengatakan lebih dari 600 orang sedang diselidiki sehubungan dengan runtuhnya bangunan tersebut.

Banyak orang Turki mengungkapkan kemarahan mereka atas praktik konstruksi yang korup dan pembangunan kota yang tidak memadai.

Presiden Turkiye Tayyip Erdogan menjanjikan tanggung jawab.

Menurut beberapa laporan media lokal, termasuk TRT Haber, walikota Nurdagi termasuk di antara mereka yang ditangkap di provinsi Gaziantep sebagai bagian dari penyelidikan terhadap bangunan yang runtuh akibat gempa.

Turkiye sedang membangun kembali rumah untuk 1,5 juta penduduk yang terkena dampak gempa

Turkiye telah mulai membangun kembali rumah setelah gempa dahsyat bulan ini.

Pemerintah mengumumkan pada hari Jumat bahwa gabungan jumlah korban tewas di Turki dan Suriah telah melebihi 50.000. Lebih dari 160.000 bangunan berisi 520.000 rumah runtuh atau rusak parah dalam gempa 6 Februari yang menewaskan puluhan ribu orang di Turki dan negara tetangga Suriah.

Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD) telah mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat gempa di Turki pada Jumat malam (24 Februari 2023) telah meningkat menjadi 44.218.

Korban tewas terakhir yang dilaporkan di Suriah sebanyak 5.914 membuat jumlah korban tewas gabungan dari kedua negara menjadi lebih dari 50.000.

Presiden Turkiye Tayyip Erdogan telah berjanji untuk membangun kembali rumah-rumah tersebut dalam waktu satu tahun, karena pemilu tinggal beberapa bulan lagi.

Ini meskipun para ahli mengatakan pihak berwenang harus memprioritaskan keselamatan daripada kecepatan. Beberapa bangunan yang dirancang tahan gempa runtuh akibat gempa baru-baru ini.

“Ada tawaran dan kontrak untuk beberapa proyek. Prosesnya berjalan sangat cepat," kata pejabat tersebut, yang berbicara tanpa menyebut nama, menambahkan bahwa tidak akan ada kompromi pada keamanan.

Menurut petugas, tenda-tenda tersebut dikirim ke banyak tunawisma, tetapi orang-orang melaporkan bahwa mereka sulit diakses.

"Saya punya delapan anak. Kami tinggal di tenda. Air di atas (tenda) dan tanah basah. Kami meminta lebih banyak tenda, tetapi mereka tidak memberikannya kepada kami,” kata Melek, 67, yang sedang mengantri untuk meminta bantuan di luar sekolah menengah di kota Hassan.

Sebuah kelompok sukarelawan bernama Interrail Turkey menggunakan sekolah tersebut sebagai pusat distribusi bantuan.

Seorang relawan, Sumeyye Karabocek, mengatakan kurangnya tenda tetap menjadi masalah terbesar. 

Dinas Kesehatan Aceh mencatat Penderita Asma Di Aceh Mencapai 11.534 Kasus

 

Dinas Kesehatan Aceh mencatat Penderita Asma Di Aceh Mencapai 11.534 Kasus
Ilustrasi penderita asma ( source halodoc )
BANDA ACEH - Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mencatat sepanjang tahun 2022 pasien penderita asma pada daerah itu mencapai 11.534 perkara, didominasi balita.

"tetapi ada beberapa Kabupaten/Kota yang harus kita validasi lagi," kata ketua bidang (kabid) pencegahan serta pengendalian penyakit (p2p) dinas kesehatan (dinkes) aceh, dr Iman Murahman, sabtu, 23 februari 2023. 

Kata Iman, penyakit asma umumnya menyerang semua macam usia. Tetapi paling rentan terjadi pada balita, sehingga perlu perhatian khusus asal orang tua sebab sistem kekebalan tubuh mereka yg juga masih berkembang. 

Menurut Iman, meningkatnya risiko asma dapat ditimbulkan dari lingkungan serta riwayat genetik. Pola hayati seperti terpapar polusi debu dan  udara bisa memicu serangan asma tersebut. 

Kemudian sebab alergi terhadap kuliner, pula perubahan cuaca dan  udara dingin.

Iman mengatakan menggunakan obat-obatan yang diresepkan dokter dapat membantu mencegah timbulnya gejala asma dan  penyempitan saluran udara. Selain itu, ia mengatakan, rata-rata pada dewasa, efek yang ditimbulkan sebab asma tak terlalu menghambat kegiatan sehari-hari.

Kata iman, penderita permanen harus menjaga pola makan serta gaya hidup. Selain itu, turut mengetahui batas kemampuan sehingga tidak terlalu memaksakan berolahraga serta melakukan kegiatan berat. "perkara kematian sangat jarang terjadi, sebab fasilitas penanganan semakin simpel dijangkau" tambah imbuhnya[]

Sabtu, 25 Februari 2023

Wali Nanggroe Menegaskan Sektor Kehutanan Aceh Bukan Kewenangan Pemerintah Pusat

Wali Nanggroe Menegaskan Sektor Kehutanan Aceh Bukan Kewenangan Pemerintah Pusat
Wali Nanggroe Menegaskan Sektor Kehutanan Aceh Bukan Kewenangan Pemerintah Pusat
JAKARTA - Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar menegaskan, pengelolaan kawasan hutan Aceh tidak menjadi kewenangan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam Pasal 7 dan 156 UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang mengatur pengelolaan sumber daya alam (SDA) Aceh.

Penegasan ini disampaikan dalam Rapat Pembahasan Badan Pengelola Sumber Daya Hutan Aceh pada Jumat, 24 Februari 2023 di Jakarta.

Kepala Bagian Humas dan Kerjasama Wali Nanggroe, M. Nasir Syamaun MPA, mengumumkan Wali Nanggroe hadir dalam pertemuan tersebut untuk menghormati undangan Direktorat Jenderal Pembinaan Administrasi Daerah (Dirjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.

“Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut surat Wali Nanggroe nomor: 089/146 tanggal 12 September 2022 tentang Permohonan Keputusan Presiden Badan Pengelola Sumber Daya Hutan Aceh,” kata M. nasir

Dalam pertemuan itu, kata Pak Nasir, Wali Nanggroe memaparkan landasan hukum pengelolaan hutan Aceh, perkembangan terkini hutan negara Aceh, berdasarkan hasil penelitian Kehutanan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan permintaan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), untuk menetapkan kebijakan kehutanan yang diajukan oleh Wali Nanggroe.

“Menurut analisis dan informasi dari berbagai sumber, hutan Aceh telah digunduli sedikitnya 10.000 hektar per tahun selama lima tahun terakhir,” kata Wali Nanggroe dalam pertemuan tersebut.

Deforestasi tidak hanya disebabkan oleh penebangan liar, tetapi juga oleh bencana alam dan pendudukan manusia yang membuka lahan untuk perkebunan di kawasan hutan. Wali Nanggroe juga mengaku mendapat informasi terkini tentang kegiatan penambangan tanpa izin (PATI) di kawasan hutan Aceh.

“Ini dianggap sebagai salah satu penyebab utama banjir, tanah longsor, dan kebakaran serta menjadi trend yang muncul dalam beberapa tahun terakhir,” kata Wali Nanggroe.

Menurutnya, pengelolaan kawasan hutan lindung (KHL) yang ditetapkan berdasarkan hasil skoring Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat ini belum optimal.

Padahal secara ideal, hutan konservasi melalui HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) dapat membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat atas kawasan hutan produksi yang ada.

“Data KLHK lima tahun terakhir menunjukkan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari eksploitasi hutan Aceh tidak lebih dari 2 miliar per tahun, menempatkan Aceh di urutan ke-10 terbawah. Nilai ini sangat kecil dibandingkan dengan luas kawasan hutan yang diindikasikan oleh pemerintah,” kata Wali Nanggroe. Hal ini menjadi bukti belum optimalnya pemanfaatan hutan bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Wali Nanggroe juga menyampaikan dalam rapat tersebut bahwa saat ini ada tiga perusahaan yang dicabut izinnya oleh BKPM Pusat karena terlantar lahan seluas 130.634 hektare.

PT. Rimba Buffer Utama seluas 6.150 hektar, PT. Aceh Inti Timber dengan luas 80.084 hektar dan PT. Lamuri Timber seluas 44.400 hektar.

“Berdasarkan hasil penilaian, kami mengembangkan konsep untuk mengelola sumber daya hutan, memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dan melanjutkan perdamaian di Aceh,” kata Wali Nanggroe.

Konsep dan garis besar usulan pembentukan Badan Pengelolaan Sumber Daya Hutan Aceh disampaikan kepada Presiden Joko Widodo untuk menjadi Keputusan Presiden.

Usulan ini sebelumnya telah dibahas di Meuligoe Wali Nanggroe, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Wali Nanggroe mengatakan, hasil pembahasan tersebut ditindaklanjuti oleh Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari, Dirjen PHL dan tim peneliti, serta Dirjen Kehutanan Lestari Wilayah I Banda Aceh. studi model pengelolaan sumber daya hutan yang akan dipresentasikan di Bogor pada akhir tahun 2022.

Di akhir paparannya, Wali Nanggroe menyampaikan bahwa sebagai konsekuensi dari rekomendasi hasil studi model pengelolaan sumber daya hutan yang dilakukan dalam Kerangka Keistimewaan dan Hak Istimewa Aceh, akan disusun menjadi Panduan Aksi untuk Menteri. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Presiden Republik sebagai dasar perumusan kebijakan kehutanan Aceh. []

Tragedi Idi Cut Peristiwa Pembantaian Sipil Oleh Aparat

Tragedi Idi Cut Peristiwa Pembantaian Sipil Oleh Aparat
Masyarakat sedang melakukan penyusuran pencarian mayat di Krueng Arakundo (Foto: Meseum HAM)

ACHEH NETWORK - Tragedi Idi Cut, juga dikenal sebagai Tragedi Arakundo, merupakan sebuah peristiwa pembantaian sipil yang terjadi pada tanggal 3 Februari 1999 di Idi Cut, Aceh, Indonesia. Pada peristiwa tersebut, sejumlah saksi mata menyatakan bahwa pasukan ABRI bertanggung jawab atas tindakan yang menewaskan tujuh orang dan melukai ratusan orang lainnya. Sayangnya, hingga saat ini, para pelaku belum ditangkap dan diadili.

Peristiwa tersebut diduga terkait dengan tindakan penyisiran yang dilakukan oleh sejumlah orang tak dikenal pada tanggal 29 Desember 1998, yang berujung pada pembunuhan beberapa personel ABRI di Lhok Nibong. Jenazah korban kemudian dibuang ke Sungai Arakundo. Para korban Tragedi Idi Cut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh para serdadu ABRI saat mereka sedang membantai korban, "Kalian bunuh kawan kami. Kalian ceburkan mereka ke sungai. Rasakan balasannya."

Peristiwa Tragedi Idi Cut menuai keprihatinan dan kecaman dari berbagai pihak, baik nasional maupun internasional. Masyarakat berharap agar kasus ini dapat diungkap dan para pelaku dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan tindakan mereka. Selain itu, tragedi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya mengedepankan hak asasi manusia dan menjamin keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Pada tanggal 2 Februari 1999, warga desa Matang Ulim, Darul Aman, Aceh Timur, bersama-sama menyiapkan acara di lapangan Simpang Kuala, Idi Cut. Sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah tentara datang membawa senjata laras panjang. Penduduk setempat menduga mereka anggota Koramil setempat. Aparat militer tersebut langsung mengobrak-abrik persiapan acara serta menganiaya beberapa orang di sekitar tempat acara. Meski diserobot, masyarakat tetap melanjutkan persiapan acara. Sebelum acara dimulai pukul 20.30 WIB, massa yang berjumlah sekitar 10.000 orang dari berbagai daerah telah berkumpul sejak sore harinya, memenuhi lapangan Simpang Kuala hingga ke pinggiran jalan nasional Medan-Banda Aceh.

Setelah acara selesai keesokan harinya pukul 00:45 WIB, masyarakat pulang dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, dan menaiki mobil bak terbuka. Jalur kepulangan mereka melewati kantor Koramil Idi Cut. Saat itu, massa menjadi kacau karena banyak kendaraan yang diberhentikan oleh anggota Koramil. Ada sejumlah laporan yang menyebutkan kerumunan massa dilempari batu dari arah markas Koramil di Idi Cut. Pukul 01:00, terdengar tembakan membabi buta dari arah markas Koramil ke arah kerumunan. Beberapa truk aparat sudah bersiaga di sana.

Setelah gelombang tembakan pertama, terjadi lagi penembakan ke arah massa. Setelah banyak massa berjatuhan, seorang saksi mata mendengar anggota TNI mengatakan, "Kamu yang membunuh tentara, habis semua. Kamu potong leher. Kamu campak ke sungai." Beberapa korban lainnya menyebutkan para pelakunya adalah anggota Batalyon Linud 100. Sebanyak 58 korban tertembak dinaikkan ke dalam truk aparat, baik yang tewas maupun terluka. Tetapi ada juga beberapa korban terluka yang tidak terangkut karena bersembunyi di selokan samping jalan.

Sekitar pukul 03:00 WIB, banyak saksi mata melihat tiga truk militer yang mengangkut korban penembakan bergerak menuju jembatan Sungai Arakundo. Sebelum diangkut ke truk, para korban diikat dengan kawat di seluruh tubuh mereka, kemudian dimasukkan ke dalam karung goni milik masing-masing tentara yang masih bertuliskan nama pelaku beserta pangkatnya, seperti "Sertu Iskandar". Batu besar diikatkan di setiap karung sebagai pemberat, lalu karung tersebut dilemparkan ke Sungai Arakundo. Seorang saksi mata lain mengatakan bahwa darah yang mengalir di sekitar jembatan Arakundo berusaha ditutupi dengan pasir oleh tentara. Pasir tersebut berasal dari penambangan penduduk sekitar sungai yang ditumpuk di pinggir sungai.

Insiden Idi Cut di Aceh Timur pada tahun 1999 menjadi salah satu peristiwa yang paling memilukan di Aceh. Tragedi tersebut terjadi pada masa konflik bersenjata antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berlangsung selama beberapa dekade.

Pada saat itu, penduduk desa Matang Ulim bersiap-siap untuk mengadakan sebuah acara di lapangan Simpang Kuala, Idi Cut. Namun, sejumlah tentara datang dan mengobrak-abrik acara tersebut. Setelah acara selesai, banyak penduduk desa pulang ke rumah dengan berjalan kaki, sepeda motor, atau mobil bak terbuka. Namun, di sepanjang jalan, mereka dihadang dan ditembak oleh aparat militer.

Sebanyak 58 orang tewas dan banyak lainnya terluka dalam insiden tersebut. Para korban dibuang ke Sungai Arakundo dengan karung goni dan batu sebagai pemberat. Pencarian korban dilakukan oleh penduduk desa dengan alat tradisional, karena aparat keamanan tidak membantu.

Tragedi ini memicu kemarahan dan protes di Aceh, dan menambah konflik yang sudah berlangsung lama. Sejak itu, beberapa upaya telah dilakukan untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut, termasuk negosiasi damai dan program rehabilitasi dan rekonsiliasi. Meski begitu, tragedi Idi Cut tetap menjadi kenangan yang menyakitkan bagi banyak orang di Aceh dan Indonesia.

Insiden tersebut kemudian dikenal sebagai Tragedi Idi Cut, yang menimbulkan kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak. Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, Wiranto, mengeluarkan pernyataan yang mengecam kekerasan yang terjadi di Idi Cut dan menjanjikan akan melakukan investigasi atas insiden tersebut. Namun, investigasi tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi keluarga korban dan aktivis hak asasi manusia.

Beberapa tahun setelah insiden tersebut, pada tahun 2005, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akhirnya merilis laporan hasil investigasinya yang menyatakan bahwa Tragedi Idi Cut adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia. Komnas HAM menemukan bukti yang menguatkan bahwa pelaku adalah anggota militer Indonesia, termasuk Batalyon Infanteri 133/YD dan Batalyon Infanteri 100/LM.

Namun, meski sudah ada laporan resmi dari Komnas HAM dan beberapa upaya untuk mengadili pelaku, hingga saat ini belum ada satu orang pun yang diadili atau dihukum atas insiden tersebut. Keluarga korban dan aktivis hak asasi manusia terus menuntut keadilan untuk Tragedi Idi Cut, serta mengingatkan akan pentingnya menjaga dan melindungi hak asasi manusia di Indonesia.

Pada peristiwa Tragedi Idi Cut, terdapat perbedaan informasi terkait jumlah korban yang disampaikan oleh Pihak ABRI dan penduduk setempat. Meski demikian, masyarakat yang turun tangan dalam pencarian menemukan enam mayat dalam karung di sungai dan satu korban tembak di dekat tempat kejadian, sehingga total korban tewas berjumlah 7 orang. Selain itu, menurut harian Waspada pada tanggal 6 Februari, puluhan warga desa yang menyewa lima bus tidak diketahui keberadaannya dan bahkan ada satu bus yang hilang bersama sopir dan para penumpangnya.

Namun, klaim masyarakat tersebut dibantah oleh Kolonel Johnny Wahab yang menyebutnya sebagai "rumor tanpa dasar". Ia mengatakan bahwa jumlah korban tewas "dua, mungkin tiga [orang]" dan 5.000 orang yang berkumpul di Idi Cut adalah simpatisan Gerakan Aceh Merdeka.

Setelah peristiwa tersebut, Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud menyebut tindakan ini "tidak berperikemanusiaan dan amat sangat mengejutkan". Ia menyayangkan bahwa "Orang-orang biasanya membuang sampah ke sungai, tetapi kali ini mereka membuang mayat manusia."

Peristiwa Idi Cut menjadi salah satu kasus yang disarankan Amnesty International untuk diproses secepatnya oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KPTKA). Meski Jaksa Agung sudah melakukan investigasi pada November 1999, sampai saat ini belum ada anggota aparat keamanan yang diadili atas tindak kekerasan ini.

Pada tanggal 7 Februari 1999, Anwar Yusuf, seorang relawan FP HAM yang ikut menyelidiki peristiwa Idi Cut, ditangkap di rumahnya oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai anggota Komando Rayon Militer Kecamatan Idi Rayeuk. Ia diinterogasi oleh empat anggota ABRI seputar kunjungannya ke Sungai Arakundo dan dituduh sebagai anggota GAM. Saat menjalani interogasi di Koramil, Yusuf mengaku disiksa berulang-ulang, dipukul dengan balok kayu, sapu, dan kursi, disiram kopi panas, dipaksa jongkok di lantai sambil menjepit balok kayu, dan diancam akan ditembak. Sebelum ditahan di kepolisian pada 10 Februari 1999, ia sempat ditransfer ke Komando Distrik Militer Aceh Timur. Ia dilepaskan pada hari itu juga tanpa tuduhan apapun.


Harian Serambi Indonesia sempat menyebut acara yang diselenggarakan warga Idi Cut adalah "Dakwah Aceh Merdeka". Namun, pemberitaan ini mendapatkan kecaman keras dari masyarakat karena memunculkan opini bahwa semua massa yang hadir pada acara tersebut adalah anggota GAM. Meski topik ceramahnya seputar sejarah perjuangan rakyat Aceh, panitia penyelenggara menyatakan bahwa acara tersebut tidak ada bedanya dengan tabligh akbar yang biasa dilakukan oleh masyarakat.

Setelah peristiwa Idi Cut, terjadi peningkatan kekerasan di Aceh. Pada 10 Februari 1999, enam orang tewas dalam bentrokan antara aparat keamanan dan massa yang melakukan aksi demonstrasi di Banda Aceh. Keenam korban tewas tersebut adalah dua pelajar, seorang mahasiswa, dua pedagang, dan seorang pekerja bangunan.

Kekerasan semakin merajalela di Aceh dan pemerintah Indonesia semakin mengintensifkan operasi militer di wilayah tersebut. Pada bulan Maret 2003, pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, yang mengakhiri konflik di Aceh yang berlangsung selama tiga dekade. Perjanjian damai tersebut menghasilkan kesepakatan tentang otonomi khusus bagi Aceh dan pembebasan tahanan politik.

Namun, meskipun telah terjadi perjanjian damai, pengadilan atas pelanggaran hak asasi manusia selama konflik di Aceh belum sepenuhnya dilakukan. Banyak aktivis hak asasi manusia yang menyatakan bahwa kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di Aceh masih belum dituntaskan dan bahwa keadilan belum sepenuhnya terpenuhi.

Peristiwa Idi Cut merupakan salah satu dari banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama konflik di Aceh. Meskipun telah berlalu lebih dari dua puluh tahun, korban dan keluarga mereka masih menantikan keadilan dan pengungkapan kebenaran atas peristiwa tersebut.

Tanggal 7 Februari 1999, seorang relawan FP HAM bernama Anwar Yusuf ditangkap oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai anggota Komando Rayon Militer Kecamatan Idi Rayeuk. Ia dituduh sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan diinterogasi oleh empat anggota ABRI seputar kunjungannya ke Sungai Arakundo untuk menyelidiki peristiwa Idi Cut. Yusuf mengaku disiksa berulang-ulang, dipukul dengan balok kayu, sapu, dan kursi, disiram kopi panas, dipaksa jongkok di lantai sambil menjepit balok kayu, dan diancam akan ditembak. Sebelum ditahan di kepolisian pada 10 Februari 1999, ia sempat ditransfer ke Komando Distrik Militer Aceh Timur. Ia dilepaskan pada hari itu juga tanpa tuduhan apapun.

Pemberitaan mengenai peristiwa ini mendapat perhatian internasional dan Amnesty International menyarankan agar peristiwa ini diproses secepatnya oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KPTKA). Meski Jaksa Agung sudah melaksanakan investigasi pada November 1999, belum ada anggota aparat keamanan yang diadili atas tindak kekerasan ini.

Peristiwa Idi Cut mencerminkan situasi yang tegang di Provinsi Aceh pada saat itu, di mana konflik antara aparat keamanan dan Gerakan Aceh Merdeka semakin memuncak. Kejadian ini juga menunjukkan pentingnya menjaga keterbukaan informasi dan menindak tegas pelanggaran hak asasi manusia, termasuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak aparat keamanan.

Pada tanggal 13 Februari, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengirimkan lima anggotanya untuk menyelidiki kasus ini. Pada saat itu, situasi di Aceh semakin memanas, dan anggota GAM terus melakukan serangan terhadap pos-pos militer. Pemerintah Indonesia akhirnya mengirimkan bantuan tambahan pasukan ke Aceh.

Pada tanggal 18 Februari, Presiden BJ Habibie memerintahkan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk meneliti kejadian di Idi Cut. TGPF ini terdiri dari berbagai elemen, termasuk anggota Komnas HAM, pemerintah, militer, dan kepolisian.

Pada akhirnya, TGPF menemukan bahwa peristiwa Idi Cut adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anggota ABRI. Mereka menemukan sejumlah bukti fisik dan saksi mata yang menunjukkan bahwa terdapat banyak korban jiwa dalam peristiwa tersebut, termasuk orang yang dibunuh dan orang yang hilang.

Dalam laporannya, TGPF merekomendasikan agar sejumlah anggota ABRI yang terlibat dalam peristiwa tersebut diadili atas tindakan mereka. Namun, hingga saat ini, belum ada anggota ABRI yang diadili terkait dengan peristiwa ini.

Peristiwa Idi Cut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah konflik di Aceh. Kejadian ini menjadi titik awal bagi gerakan Hak Asasi Manusia untuk menuntut keadilan bagi korban-korban kekerasan di Aceh. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan dapat menyebabkan dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat dan dapat memperburuk situasi konflik.

Kabar penangkapan Anwar Yusuf menjadi sorotan masyarakat dan organisasi-organisasi hak asasi manusia. Sejumlah organisasi seperti Kontras, Imparsial, dan HAM Watch menyampaikan keprihatinan mereka atas penangkapan dan penyiksaan Anwar Yusuf, serta menuntut aparat keamanan bertanggung jawab atas tindakan tersebut.

Meskipun demikian, sampai saat ini belum ada anggota aparat keamanan yang diadili atas tindakan kekerasan dalam peristiwa Idi Cut. Kasus ini menjadi salah satu dari lima kasus yang direkomendasikan oleh Amnesty International untuk diproses secepatnya oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KPTKA).

Setelah peristiwa Idi Cut, keamanan di Aceh semakin diperketat dan ketegangan antara aparat keamanan dan kelompok separatis Aceh Merdeka semakin meningkat. Pemerintah Indonesia menerapkan status darurat militer di Aceh pada tanggal 19 Mei 2003 dan memperkuat kehadiran militer di daerah tersebut. Konflik antara aparat keamanan dan kelompok separatis Aceh Merdeka berakhir pada tahun 2005 dengan ditandatanganinya Perjanjian Helsinki, yang mengakhiri konflik Aceh selama lebih dari tiga dekade.

Peristiwa Idi Cut tetap menjadi salah satu kenangan kelam dalam sejarah konflik Aceh dan menjadi simbol dari kekejaman yang terjadi di daerah tersebut. Tindakan kekerasan yang terjadi pada peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memperjuangkan perdamaian dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Setelah pembantaian Idi Cut, Komnas HAM dan sejumlah LSM lainnya seperti Kontras, LBH Jakarta, dan Amnesty International, mendesak pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas kasus ini dan memperoleh keadilan bagi para korban. Namun, investigasi resmi yang dilakukan oleh Jaksa Agung hanya menemukan dua anggota TNI yang terlibat dalam peristiwa ini.

Berdasarkan laporan investigasi tersebut, dua anggota TNI yang bernama Pratu Ardiansyah dan Pratu Hendra, diduga terlibat dalam pembantaian tersebut. Namun, keduanya hanya dijatuhi hukuman disiplin dan dipindahkan ke daerah lain tanpa diadili secara pidana.

Kebijakan seperti ini dianggap tidak memadai oleh para aktivis dan keluarga korban, karena menurut mereka, hukuman disiplin tidak cukup untuk menjamin keadilan bagi para korban. Selain itu, mereka juga merasa bahwa kasus ini tidak diselesaikan secara adil karena hanya dua orang yang ditunjuk sebagai pelaku, sementara ada banyak saksi dan bukti yang menunjukkan adanya keterlibatan lebih banyak anggota TNI dalam tragedi ini.

Hingga saat ini, kasus Idi Cut masih menjadi sorotan publik dan banyak pihak yang terus memperjuangkan keadilan bagi para korban. Beberapa keluarga korban bahkan masih terus berjuang untuk mendapatkan ganti rugi dan kompensasi atas kehilangan yang mereka alami akibat dari tragedi ini.[]

Post ADS 1

Travel

Global

Kuliner